Senin, 26 Agustus 2013

Selamat Ulang Tahun, Pemimpin Idaman.

Horas,kak!
Selamat Ulang Tahun ya Pak Ketua yang sangat saya hormati.
Segala harapan yang baik-baik akan selalu aku doakan agar terjadi dalam hidup kakak.
btw,
Apa kabar kak? Kalau boleh tau, kakak sekarang lagi dimana?
Pasti kakak lagi di tempat-tempat tak terduga dengan proyek yang amazing.
Hmm, kalau inget kakak rasanya aku jadi ingin kembali ke masa SMA. Masa di mana aku diayomi banget sama kepengurusan kakak, masa di mana aku belajar untuk jadi seorang pemimpin, seperti kakak.
Inget ngga kak, pas ospek SMA, aku ngasih cokelat dan surat cinta aku buat kakak loh.
Bukan, bukan karena aku salah satu dari fans kakak ya! Aku ngasih cokelat itu ke kakak hanya karena kakak itu idolanya temen-temen aku di SMP. Ya, bukan hanya itu sih. Salah satu alasanku juga karena aku bangga. Aku bangga kakak bisa jadi terang di organisasi yang memang butuh penerangan. Tapi, kakak pasti lupa kalau aku pernah ngasih cokelat dan surat cinta itu buat kakak, secara anak-anak angkatanku yang ngasih cokelatnya ke kakak kan banyak. Ya, aku akui, kakak ganteng!
Seperti yang sering aku bahas dengan siapapun, rahang kakak yang tegas itu sangat menawan. Hal itulah yang semakin memperkuat kharisma kakak sebagai seorang pemimpin.
Hmm, di surat ini aku ngga sekedar mau ucapin selamat ulang tahun kak :)
Aku juga mau berterima kasih sama kakak. Karena kakak salah satu inspirasi yang bisa aku andalkan di saat aku mengemban suatu tanggung jawab. Kasih dalam ketegasan yang kakak miliki menjadi panutan terbesar aku dalam menyikapi rekan-rekan sekerjaku dalam berorganisasi. Oke, aku memang ngga mencontoh kakak sepenuhnya, karena aku pernah merasa sakit hati dengan ketegasan yang kakak pernah tunjukkan ke aku. Aku masih ingat jelas, saat kakak mengomeli aku hanya karena aku tidak bisa menyapu. Ya, kakak ngomelin aku dan aku sakit hati banget kak waktu itu!
Walaupun ngga lama setelah itu kakak langsung minta maaf, tapi aku yang dendaman ini langsung nyusun strategi untuk belajar nyapu yang bener itu seperti apa. Aku mau balas dendam dengan nunjukin kalau aku juga bisa nyapu! Hahaha
Oia kak, sejak saat itu juga aku janji sama diri aku sendiri supaya ngga pacaran sama cowok yang mukanya galak seperti kakak. Seganteng apapun cowok itu kalo roman-romannya udah kayak kakak pasti bakal aku jauhin. Dan sekarang? Aku ingkarin janji aku sendiri kak! Hahaha
Tuhan ngasih aku pacar yang mukanya lebih galak dari kakak. Yang rahangnya lebih tegas dari kakak. Dan yang kharismanya jauh lebih kuat dari kakak. Tapi semoga aja  playboynya ngga seperti kakak. (Amin)
Kembali lagi ke kakak, kakak sekarang jadi Ketua lagi ya? Ih, salut deh aku sama kakak. Kakak ngga gila jabatan, tapi jabatan selalu aja menghampiri kakak. Apa sih kak rahasianya?
Apa rahasianya itu karena ada yang selalu setia mendoakan kakak ya? Disini ada yang rajin menyebut nama kakak dalam doa-doanya loh! Sekali lagi, bukan kak, bukan aku! Perasaan aku ke kakak hanya sebatas kagum. Beda dengan seseorang yang rajin mendoakan kakak secara istimewa. Kalau aku sekali-kalinya mendoakan kakak itu hanya untuk dua hal. Yang pertama, aku berdoa supaya di masa depan kakak bisa jadi Presiden. Karena menurut aku, Indonesia pasti akan pulih kalau dikelola sama pemimpin yang tepat. Pemimpin yang tepat buat aku ya kakak! Kakak itu pemimpin idaman di mata aku. Pintar, loyal, tegas, jujur, penuh kasih, bertanggung jawab, rasa empatinya tinggi, ah terlalu banyaklah kriteria pemimpin yang ada dalam diri kakak. Makanya aku berharap banget kakak bisa jadi Presiden di masa depan. Yaaa, agak ngga mungkin memang kalau ngeliat kenyataan kakak kuliah di bidang apa sekarang.   Hal kedua yang aku doakan adalah agar di masa depan kakak sadar kalau ada seseorang yang selalu menantikan kakak datang sebagai orang spesial dalam hidupnya. 
Bocoran saja kak, seseorang itu sahabatku  :)
Ngomong-ngomong nih kak, tepat sebulan lebih sehari dari sekarang aku juga ulang tahun. Sebenernya umur kita ngga jauh bedanya, tapi entah kenapa tingkat kedewasaan kita jauh banget ya kak. Ah ditambah lagi hari ini pasti banyak orang yang mendoakan supaya kakak makin dewasa,hmm makin-makin aja deh sifat kakak itu dewasanya.
Sebagai penutup surat ini, aku juga mau sampaikan salam dan ucapan selamat ulang tahun untuk saudara kembar kakak.
Selamat ulang tahun untuk kalian.
Selama dunia ini masih gelap, kalian harus tetap jadi terang ya!

Hmm, satu lagi kak. Kalau kakak baca surat ini, aminkan setiap doa yang aku ucapkan untuk kakak ya! :)

From :
adik kelasmu yang manja.
-Nyapu aja ngga bisa!!!- 

Jumat, 23 Agustus 2013

Terima Kasih

Tulisan ini hanya sebuah ucapan terima kasih. 
Bukan puisi dengan rangkaian kata yang indah. 
Bukan pula halaman semu yang diisi dengan kalimat rayuan yang disertai dusta. 
Ini hanya sebuah ungkapan pelampiasan dari perasaan yang berbahagia, perasaan yang ditimbulkan seorang pria sederhana yang dengan pesona misteriusnya mampu memikat hati ini.
Hati yang terkadang bebal jika dinasehati, hati yang sebetulnya sangat pemilih untuk menentukan siapa penghuninya.
Dan kini, pemilik hati ini ingin berterima kasih kepada penghuni barunya. 
Penghuni yang telah memberikan kenyamanan dalam cinta yang telah ia sajikan.

Ucapan terima kasih, dari hati kepada penghuninya...

Terima kasih, karena kamu tertarik padaku, yang dulu tidak pernah kamu jabat tangannya ini.
Terima kasih, karena sudah melihat dan memperhatikanku, bahkan ketika aku belum mengenalmu.
Terima kasih, kamu telah berani mendekatiku, walaupun awalnya kamu merasa takut. 
Terima kasih, karena kamu telah bertanya kapan kamu dapat dengan bebas memanggilku "sayang".
Terima kasih, karena telah merindukanku, rindumu terbalas, aku juga merindukanmu.
Terima kasih, atas dentuman-dentuman ringan yang sering timbul di dalam dada saat aku membaca pesan darimu.
Terima kasih, karena kamu telah berusaha mendapatkanku, dan ya, kamu berhasil. 
Terima kasih, kamu mau memulai cerita bersamaku, padahal masih banyak tanda tanya yang harus dijawab.
Terima kasih, telah memperlihatkan karakter dasarmu dengan apa adanya.
Terima kasih, karena kamu bisa mengerti dialog yang ditunjukkan wajahku, sebuah bahasa yang bahkan tidak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata.
Terima kasih, kamu masih tetap baik-baik saja ketika aku sering meragukanmu.
Terima kasih, kamu mengizinkanku menjadi penggemarmu, penggemarmu yang nomor satu.
Terima kasih, karena kamu rela menerima perhatianku, yang kadang mungkin berlebihan.
Terima kasih, karena kamu sabar mendengar ocehanku, celotehanku memang sulit dihentikan.
Terima kasih, karena telah memperkenalkanku pada sifat manusia yang tidak ada dalam diriku; sifatmu.
Terima kasih, karena membiarkan aku belajar memahamimu, meski aku tak pernah merasa cukup.
Terima kasih, karena tidak memanjakanku, aku memang perlu sedikit lebih mandiri.
Terima kasih, karena kamu terus dan terus memintaku untuk bersabar, kamu tau betul, aku ini jauh dari kata sabar.
Terima kasih, sudah berusaha mencoba memberikan yang terbaik untukku dengan caramu sendiri.
Terima kasih, kamu telah mengajarkanku berimajinasi, caramu jitu, aku sekarang bisa tidur nyenyak lagi.
Terima kasih, karena telah menyukai senyumanku, maaf, kalau justru aku lebih sering cemberut. 
Terima kasih, atas pelukanmu di saat yang aku butuhkan.
Terima kasih, atas genggaman tanganmu, kini celah di antara jari jemariku sudah terisi.
Terima kasih, karena kamu merasa beruntung mendapatkan aku, padahal aku tidak ada apa-apanya.
Terima kasih, karena telah menjadikanku bahagiamu, bukan lagi bahagia yang sederhana tapi luar biasa.
Terima kasih, sudah menjadi penawar harap yang dulu mulai memudar.
Terima kasih, karena kamu bukan hanya membuat besar harapanku, tapi kamu juga membuatnya terpenuhi.
Terima kasih, karena telah menyebut namaku di dalam doamu.
Terima kasih, karena telah menjadi kejutan yang manis dalam kisahku.
Dan sekali lagi, terima kasih, karena kamu telah mengisi hati ini dengan cinta yang tulus.

Mungkin, masih banyak ucapan terima kasih yang terlupakan.
Tapi hanya ungkapan ini yang sekarang tepat disampaikan, Terima kasih.

Ttd,
pemilik hati,
yang mencintaimu,
dengan sepenuhnya.

Sabtu, 10 Agustus 2013

Ini tentang KALIAN :D

Hai, udah lama gue ngga bersua di dunia ini.
Kesibukan yang melanda membuat gue mesti pinter-pinter ngurusin ini blog. Jangan sampe deh ni blog sekarat lagi kayak kakak-kakaknya terdahulu.
Btw, semalem gue betah banget berjam-jam mantengin blog seseorang, ya lebih tepatnya gue mencoba menyelami masa lalunya supaya gue bisa dampingin dia di masa depan -oke,skip. Ini ga nyambung-
Ya intinya, semalem gue niatnya cuma iseng tapi ternyata gue keasikan karena ceritanya ini orang lucu-lucu banget. Terus gue jadi mikir sendiri, "Sebenernya kalo mau digali lagi mah, cerita gue juga lucu loh." Akhirnya dimulai dari pemikiran itu, guepun mulai nginget-nginget lagi kisah-kisah gue dari masih kecil sampe sekarang. Ya kisahnya ngga jauhlah dari yang namanya cinta. Hahaha
Dari kecil sampe sekarang, ada banyak tokoh-tokoh yang datang dan pergi cuma untuk memainkan peranannya dalam kisah gue. Ngga semua tokoh bisa gue inget dan gue ceritain disini. Dan tulisan cemen inipun lahir dari sebuah keisengan semata. So, ngga usah diambil hati ya kalo diantara kalian ada yang merasa jadi salah satu tokoh di sini. Nah, inilah beberapa tokoh beruntung yang bisa gue ceritakan. Cekidot!

Dimulai dari Kakak Sulung, sahabat terbaik gue di masa TK ini pernah menyatakan perasaannya ke gue lewat sebuah gambar. Cara yang kreatif untuk ukuran anak TK, tapi terlalu binal untuk dilakukan anak sekecil dia. Dengan keluguan yang teramat sangat, dia menggambar dua orang-orangan cewek dan cowok yang di bawahnya dituliskan nama gue dan dia lalu di tengah-tengah orang-orangan itu terselip gambar hati yang ada tulisan "LOVE"nya. Lucu banget kalo diinget-inget, gimana caranya seorang anak TK bisa menyatakan cinta melalui gambarnya di tembok. Yang lucunya lagi, cowok ini jadi cinta pertamanya sahabat gue sekarang. Dunia emang terlalu sempit untuk dijelajahi cinta.
PS: Denger-denger kamu lagi nempuh ilmu kedokteran ya? Sukses ya! Dari kecil udah keliatan kok kalo kamu itu pintar! Kalo kamu udah jadi dokter, bolehlah sekali-kali aku berobat gratis. Hehehe

Berikutnya, masih di Yayasan yang sama gue ketemu Si Bule yang sekarang udah jadi Pilot. Entah karena saat itu sinetron Tersanjung juga sangat digandrungi anak-anak atau memang karena orang ini terlalu cepat dewasa, cowok manado yang terlalu cepet kenal kata cinta ini gue temuin saat gue baru dua tahun mengenakan seragam putih merah. Iya, gue masih kelas 2 SD saat itu. Si Bule yang ngga sekelas sama gue ini rajin banget ngirimin surat cinta ke gue. Entah surat itu dititipin ke Pak Kumis, supir Bis Jemputan. Atau dititip ke sahabat gue di kelas. Atau dititipin ke ketua kelas gue. Pokoknya semua surat itu dititipin. Ngga ada yang dia kasih sendiri ke gue. Sampe akhirnya pas gue siap-siap baris di depan kelas, dia dateng nyamperin gue terus ngasih sebuah amplop warna Pink. Oke, gue malu abis saat itu. Gimana ngga, semua anak-anak abis "ciye-ciyein" gue. Kata temen gue, muka gue udah kayak tomat saat itu. Apalagi pas gue buka amplopnya ternyata di dalam amplop itu bukan cuma ada kertas tapi juga cincin. Iya cincin!!! Kalian jangan mikir ini cincin emas atau berlian yang biasa jadi senjata cowok-cowok buat seriusin suatu hubungan sama pasangannya. Ini cuma cincin bonus dari Chiki yang lagi ngetrend pas zaman gue SD. Ya, cukup mewahlah untuk ukuran anak SD. Tragisnya, sehari setelah dia ngasih surat cinta (dan cincin) itu, gue pindah sekolah mendadak. Gue dipindahin ke Immanuel Lampung. Dan kita lost contact. Secara pas zaman itu yang make HP masih langka, sosmedpun belum merajalela. Bertahun-tahun ngga tau lagi kabar dia gimana, sampai akhirnya kita ketemu lagi di SMP yang sama. Di SMP, kisah zaman SD ini ngga berlanjut lagi. Dia memang masih suka bermodusria ke gue, bahkan sampai saat ini. Tapi gue hanya bisa nanggepinnya dengan banyolan dan ledekan. Yap, cuma itu. Amplop dan cincin itu sekarang cuma jadi kenangan yang lucu kalau dicerita ulang :)

Masih di zaman putih merah, di sekolah dengan bangunan Belanda ini gue bertemu dengan Kutilang. Gua yang anak baru ini berhasil jadi pusat perhatian cowok-cowok di kelas. Bukannya kepedean, tapi emang tiap hari ada aja yang titip salam. Padahal di awal-awal sekolah gue masih sering dianterjemput sama opa tersayang gue, tapi mereka ini ngga malu loh titip salam di depan opa gue. Kutilang ini salah satu cowok yang baik sama gue, gue tau dia suka sama gue dan dia juga menyatakan perasaannya ke gue (saat itu gue masih kelas 4 SD loh). Tapi, dia terlalu ganteng buat gue. Hahaha. Jadi saat itu sampai saat ini kita cuma temenan aja, ngga ada yang lebih dari itu. Dia juga akhirnya pacaran sama sahabat gue walaupun ngga berlangsung lama. Dia teman yang sangat baik, pacarnya yang sekarang juga cantik banget. Kurang lebih sebulan yang lalu kita sempet BBM-an dan dia masih aja sempet-sempetnya muji gue cantik -_- Kalau dibandingin sama pacarnya, entah dari sisi mana dia ngelihat cantiknya gue --''

Nah, yang sekarang mulai seru nih. Karena di paragraf ini gue udah mulai punya "Pacar". Ya, inilah dia pacar pertama gue, Si Petet. Cowok pendek yang cerewet banget ini beruntung banget jadi pacar pertama gue! Walaupun cuma main-mainan tapi tetep aja dia beruntung! Huhft, agak nyesel juga sih kalo inget si Petet inilah yang jadi pacar pertama gue. Apalagi dia nembak gue juga karena dipaksa-paksa sama temen-temen yang lain. Masa pacaran kitapun berlangsung secara ngga jelas. Dari kita jadian sampai sekarang gue juga ngga tau kapan kita putusnya, karena tiap ketemupun kita cuma bisa main kata-kataan. Tapi ada satu quote dari dia yang sedari dulu sampai sekarang masih terus gue inget, "Icha selalu punya dunianya sendiri." Yeah, that's right, dude. And I hope you can get back to the right path, the same path with me. Amen.

Yang ini "Pacar" kedua gue, Playboy Ganteng yang sekarang udah punya anak ini dulu beda sekolah sama gue. Gue kenal dia dari sahabat gue yang juga sodaranya. Kali ini, level pacaran gue udah mulai meningkatlah. Kita sering SMSan, telfon-telfonan, sampai jalan barengpun pernah. Gue inget banget dating pertama gue sama dia itu ke mal di Depok yang sekarang udah bangkrut dan cuma jadi gudang toko property. Waktu itu kita ngga berdua doang, kita double date sama temen dia dan sahabat gue yang ngenalin dia ke gue. Oke ini emang gegayaan banget buat ukuran bocah SD ingusan seperti kami. Tapi untuk dia yang anak orang kaya mungkin udah biasa. Pas itu gue ngga ngeluarin duit sama sekali, dia yang bayarin semuanya. Mulai dari ongkos angkot, makan di McD, sampe tiket masuk ke pameran yang aneh. Gue lupa kita pacaran berapa lama, yang gue inget dia akhirnya mutusin gue karena gue terlalu cuek (katanya). Sejak dia putusin gue kita udah ngga pernah komunikasi lagi. Gue cuma sering denger kabar angin aja tentang kenakalan dia dan dia yang jadi idola disana-sini. Hmm, kalo lo baca postingan gue ini, pesan gue sih cuma satu : Inget anak istri lo ya :)

Oke, selamat datang di dunia Putih Biru! Di dunia ini gue udah mulai lebih banyak lagi kenal sama berbagai macam cowok. Udah mulai banyak juga yang serius menyatakan cinta. Karena banyak dan gue udah mulai lupa, gue ceritain yang gue inget aja yaa. Mau dimulai darimana? Kita mulai dari yang tertua aja ya, Koko Basket. Koko yang satu ini udah menarik perhatian gue sejak gue masih kelas 5 SD, bisa dibilang, dialah orang pertama yang gue taksir. Sayangnya, dia jugalah cowok pertama yang nyakitin hati gue yang masih lugu banget waktu itu. Gue suka sama dia karena banyak hal. Selain karena takdir kita yang sama, gue juga suka dia karena dia adalah pendengar sekaligus penasihat yang baik. Dari cuma senyum-senyum malu sampai akhirnya gue berani curhat sama dia tentang masalah-masalah yang gue hadapi. Gue yang waktu itu masih SMP mungkin terlalu bodoh nganggep hubungan ini spesial. Tapi setelah gue pikir ulang, waktu itu anggapan gue ngga salah. Karena selama tujuh bulan lebih kita intens komunikasi dan sering jalan bareng, ya gue anggep kita pacaran. Klimaksnya, dia pacaran sama cewek lain. Dan sampahnya lagi, dia ngga pernah ngakuin kalo dia pernah deket sama gue. Oke, mungkin gue waktu SMP dulu yang terlalu bodoh untuk percaya gitu aja sama bualan anak SMA. Jadi kesel sendiri nih kalo inget ni orang. Huhft. 

Kita next aja ya ke temen si koko tadi. Setali tiga uang, kali ini gue hadapi kisah yang sama. Gue suka sama seseorang, sebut saja dia Bocil. Gue suka sama Bocil karena sesuatu yang simple, he's my type. China, putih, ganteng, baik, dan seiman. Gue lupa kapan tepatnya dia tau perasaan gue ini. Yang bener-bener gue inget dari dia di masa lalu cuma satu, dia suka sama mantan abang gue. Huhuhu menyedihkan banget ya? Lucunya sampe sekarang kalo ngobrol sama dia, gue dan dia masih sering saling ngebahas soal perasaan tak sampai gue ini. Masa lalu yang suram kadang bisa juga jadi bahan untuk tertawa loh! Hahaha. So far, gue sekarang masih berteman baik sama dia dan gue harap sampai selamanya kita masih bisa berteman baik seperti ini. Bisa kan, my homo' couple?

Sekarang, kita berlanjut ke kisah gue di penghujung masa putih biru. Mulai dari sini, gue akan menghilangkan tanda  kutip di antara kata pacar. Karena pacar yang gue maksud di sini adalah pacar dalam arti sesungguhnya. Pacar pertama gue adalah seorang Bintang, ya walaupun dia seorang Bintang tapi di sini gue akan memanggilnya Gelap. Gue rasa, beberapa dari kalian pasti tau kenapa gue memanggilnya gelap. Yang pasti ini ngga ada hubungannya sama fisik dia yaa. Gelap suka bahkan sayang sama gue sejak kita sekelas di bangku kelas 1 SMP. Gue ngga pernah anggep serius perasaan dia karena dia teman yang baik buat gue dan gue ngga mau pertemanan itu jadi hancur hanya karena kita pacaran. Lagipula, ada satu tembok besar yang menghalangi perasaan gue ke dia, Agama. Tapi setelah dua tahun perjuangan si Gelap untuk mendapatkan cinta gue ternyata ngga sia-sia, gue luluh. Di bulan Oktober gue menerima dia sebagai pacar (pertama) gue, tanpa gue sadari saat itu pulalah gue mulai menyia-nyiakan banyak hal yang berharga. Sejak pacaran sama Gelap, gue mulai banyak bohong sama oma opa gue (ini hal yang paling gue sesali seumur hidup), gue juga mulai melupakan teman-teman gue. Semua waktu gue habiskan cuma sama si Gelap. Ya, bisa kalian tebak sendiri. Gelap adalah seorang pacar yang over posesif. Dari sifatnya yang satu itu banyak hal negatif yang mulai berkembang di dalam dirinya. Dia yang dulunya sangat baik, suka bercanda, dan suka berteman itu sekarang berubah 180 derajat sejak pacaran sama gue. Dan gue yakin perubahannya itu bukan karena gue yang membentuk dia jadi seperti itu. Gue sadar, dia terlalu memberhalakan gue. Udah banyak yang menyarankan supaya gue cepet-cepet akhirin aja hubungan ini, tapi banyak juga yang capek nasehatin gue karena gue "terlihat" nyaman-nyaman aja. Padahal mah udah banyak usaha yang gue lakukan untuk lepas dari dia, gue sendiri aja sampe sekarang masih ngga habis pikir gimana caranya gue bertahan selama satu setengah tahun sama cowok macam Gelap. Sampai pada akhirnya, melalui sebuah tanggung jawabpun pertolongan Tuhan datang. Gue dipercayakan untuk menjadi Kordinator Pemuda di Gereja, dan itu bukan main-main! Gue sampaikan kondisi ini ke Gelap dan gue jelaskan juga dengan sangat baik-baik bahwa gue ngga bisa lagi jalan sama dia. Selain karena gue memang ngga bisa mengimbangi sifat dia yang kelewat freak , gue dan dia juga ngga punya tujuan pacaran yang jelas, kita beda! Itu alasan yang sangat cukup kuat untuk dia melepaskan gue. Dengan susah payah dan proses alot yang penuh kecaman akhirnya gue resmi lepas dari Gelap tepat sebulan setelah ulang tahunnya yang ke 15. Masa kelam guepun berakhir dan akhirnya gue bisa bernafas lega mengarungi dunia putih abu-abu dengan penuh kebebasan. Dunia yang katanya orang-orang nih, masa yang paling indah.

Ya, gue ngerasain apa yang dikatakan kebanyakan orang-orang. Gue merasakan indahnya masa putih abu-abu, walaupun di awal gue masih sempet merasakan sisa-sisa kekelaman dari masa sebelumnya. Di masa SMA ini gue bertemu dengan dua Malaikat. Yang pertama Malaikat tak bersayap dan yang kedua Malaikat bersayap. Setelah gue putus dari si Gelap, si Malaikat tak bersayap inilah yang dengan rajin memotivasi gue. Dia ngga cuma kasih gue motivasi, tapi juga kasih sayang. Cuma kasih sayang yang gue anggep spesial itu ternyata hanya sebatas kasih sayang seorang saudara, dia hanya menganggap gue adiknya. Gue ngga keberatan dengan hal itu, karena yang gue rasakan pun juga sama. Gue sama sekali ngga punya keinginan untuk memiliki pacar yang bersifat seperti malaikat ini. Sampai akhirnya, gue jilat ludah gue sendiri. Saat gue lagi giat-giatnya pelayanan di sekolah, gue bertemu dengan dia, Malaikat Bersayap. Hmm, sebelum gue cerita tentang si Malaikat Bersayap ini, gue mau flash back sebentar nih. Dulu sebelum gue kenal sama si Malaikat bersayap ini, si Gelap nuduh gue selingkuh sama si Malaikat Bersayap. Entah apa yang jadi alasan dia nuduh begitu, padahal gue kenal juga ngga sama Malaikat Bersayap. Cuma mungkin lucu juga ya ternyata tuduhan itu malah jadi doa loh buat gue dan Malaikat Bersayap. Akhirnya gue malah jadian beneran sama Malaikat Bersayap. Ya, Malaikat Bersayap inilah yang buat masa SMA gue jadi penuh warna. Gue bagaikan dapet lotre tanpa bertaruh. Sejak setahun pertama pacaran gue selalu percaya bahwa dialah jodoh gue, dan guelah tulang rusuknya. Ya, hal itulah yang selalu gue percayai sampai akhirnya gue sadar, bahwa gue hanya seorang manusia biasa :)
Manusia biasa ngga akan bisa berjodoh dengan Malaikat, apalagi Malaikat itu bersayap. Gue udah terlalu lama menahan Malaikat itu untuk tidak terbang, dan sekarang, gue sudah melepaskannya. Gue udah ngga menahan Malaikat itu lagi tapi entah kenapa sampai saat ini Malaikat Bersayap itu masih belum terbang. Mungkin dia masih belum menemukan tujuan yang tepat atau mungkin dia ingin melihat manusianya yang satu ini menemukan Malaikat yang lain. Entahlah.

Tapi setelah gue melepasnya, gue sama sekali tidak sedang mencari Malaikat, tidak juga mencari manusia. Gue hanya mengikuti alur yang Tuhan berikan. Silih berganti orang berdatangan menyambangi kekosongan gue, tapi ngga ada satupun yang berkesan atau menarik di hati. Bukannya sombong, tapi memang ngga ada satupun yang cocok. 
Sampai akhirnya, entah gimana cara Tuhan memprosesnya. 
Gue jatuh cinta dengan seseorang, My Stranger.
Yang satu ini ngga akan gue ceritain disini. Kenapaaa???
Simple aja, dia bukan bagian dari "KALIAN", dia bagian dari diriku :)