Tampilkan postingan dengan label #DuaHati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #DuaHati. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Maret 2014

Sukses!

Untuk Tuan Milanisti kesayanganku, 
Suno Christiawan Telaumbanua.

Yihaaaaa!
Akhirnya kita sukses menyelesaikan misi kita dalam program #DuaHati ini. Sungguh ini merupakan pengalaman pertama yang sangat mendebarkan bagiku. Masa-masa mengomelimu untuk rajin menulis, saat aku sendiri berjuang melawan kejenuhan dalam berbalas surat denganmu, itu semua akan menjadi kenangan yang indah untuk diingat kembali. Ternyata perjalanan kita selama 30 hari ini jauh melebihi ekspetasiku di awal bulan lalu. Apa yang terjadi nyatanya lebih menyenangkan dari yang ada dalam dugaanku.

Jujur sayang, aku tidak memiliki ide dan waktu yang cukup untuk menulis penutup yang manis dalam secarik surat terakhir ini. Seperti yang kamu tau, saat ini kita sedang berada di kegiatan bakti sosial yang sangat menuntut keberadaan kita masing-masing. Namun keadaan ini tidak menyurutkan niatku untuk menulis surat bagimu. Dan karena hal yang satu ini, aku sangat mengucap syukur. Berkat komitmen yang telah mengikat kita sejak awal ini, aku jadi mengerti satu hal bahwa waktu luang akan selalu ada jika kita menginginkannya dengan terlalu.

Baiklah, Sayang. Dalam suratku ini aku tidak bisa berlama-lama merangkai ratusan kata yang indah. Biarlah kesederhanaan perasaanku padamu yang tersirat dalam surat ini bisa menjadi kemegahan yang berkesan di hatimu. Sebagai ungkapan syukurku atas suksesnya misi surat menyurat #DuaHati kita ini, aku juga ingin mengucapkan terima kasih tak terhingga kepadamu.

Terima kasih, Sayang.
Terima kasih karena telah memperkenalkanku pada program @PosCinta ini. Terima kasih karena telah bersedia memilihku untuk menjadi partner bersuratmu. Terima kasih atas segala macam hal yang telah kau lakukan untuk membuat ketekunanku dalam menulis semakin menjadi.

Sebagai penutup, kuucapkan selamat untuk kita berdua.

Dengan sepenuh cinta,
Nona Kittymu, Vierena Tirza Dwivantiara.

Jumat, 28 Februari 2014

Hati-Hati di Jalan!

Untuk Tuan yang sedang dalam perjalanan ke lokasi Bakti Sosial...

Halo Tuan, sungguh suratmu kemarin merupakan apresiasi yang sangat menyegarkan bagiku. Aku senang jika bisa menjadi salah satu alasanmu untuk semakin giat menulis. Dan terpujilah Tuhan yang masih memelihara sebaik mungkin hubungan kita sampai detik ini. Meskipun kita sama-sama tak bisa menutup mata, rintangan yang akan kita hadapi di depan bukan hanya gerimis hujan namun juga badai topan yang siap memisahkan genggaman tanganmu dariku.

Aku akui, untuk bisa bersanding denganmu sampai sekarang ini bukanlah hal yang mudah. Ada banyak kesulitan yang kuhadapi untuk dapat menyesuaikan diri denganmu. Tapi bukan berarti kesulitan yang ada tak mampu untuk kusederhanakan. Diriku dan tentunya juga dirimu sudah mulai berteman dengan kesulitan sehingga untuk saling menerimapun terasa mudah jadinya.

Sayang, hari ini, besok, lusa dan sampai besoknya lagi kamu akan mengabdikan diri dalam acara bakti sosial kampus kita di kota Bogor. Kuharap, kamu bisa dengan baik menjaga kesehatanmu ya. Selain itu aku juga berharap agar kamu bisa menjaga emosimu dalam menghadapi salah satu rekan kita yang seringkali membuat jengkel. Percayalah, kelakuan orang lain yang menyebalkan itu merupakan sumber pelatihan bagi kita untuk bersabar.

Besok sesegera mungkin aku akan menyusulmu bersama teman-teman yang lainnya. Simpanlah rindumu dan tumpahkanlah dalam satu pelukan erat ketika kamu menjumpaiku disana. Saat ini aku hanya bisa memohon pada Tuhan untuk tetap tak meluputkanmu dalam perlindunganNya.

Berhati-hatilah di jalan, Sayang!
Semoga di tengah kesibukan kita esok dan lusa tak membuat kita berhenti dari program #DuaHati ini. Tinggal selangkah lagi, maka komitmen kita telah terpenuhi. Aku menyayangimu, Suno Christiawan.

Dengan penuh cinta,
Nona yang akan segera menyusulmu.

Rabu, 26 Februari 2014

Akhirnya Datang Juga!

Halo Tuan yang suka terlambat!

Akhirnya datang juga surat darimu yang sudah kutunggu sejak kurang lebih dua puluh empat jam yang lalu. Aku pribadi sih bisa memaafkanmu. Karena aku maklum dengan sifat jelekmu yang suka terlambat itu. Tapi entah dengan tukang pos kita, semoga beliau berbaik hati memaafkan keterlambatanmu yang sebenernya sudah keterlaluan itu. Padahal jika kemarin kamu dibilang sibukpun tidak, bukan? Mungkin ulah si gigi geraham bungsu itu semakin membuatmu uring-uringan ya? Sampai suratkupun terlupakan untuk kau balas. 

Baiklah sayang, kurasa tak baik jika terus membicarakan sesuatu yang mengarah pada kelemahanmu itu. Yang terpenting bagiku adalah kamu tetap sehat selalu, meski terkadang lupa mengiringmu pada sesuatu yang buruk. Seperti misalnya lupa mandi dan lupa makan. Ya, libur yang terbilang sebentar ini membuatmu sering dengan sengaja melupakan dua hal rutinitas terpenting dalam keseharian manusia. Seharian di kamar sembari berkelut dengan rasa nyeri di gigi membuatmu malas beranjak dari kamar untuk sekedar menyegarkan tubuh dengan mandi. Kuharap sekembalinya kita nanti pada jadwal kuliah, kamu dapat menghilangkan sifat "lupa mandi"mu itu ya, Sayang!

Bicara tentang kuliah, aku jadi teringat suratmu tadi yang sedikit menyinggung perihal Indeks Prestasi. Ketahuilah sayang, aku sungguh berharap ada kenaikan yang drastis pada nilai-nilaiku di semester lima ini dan sampai seterusnya. Ada motivasi tak kasat mata yang menyerang semangatku untuk terus meningkatkan setiap nilai-nilaiku yang sempat menurun di semester tiga yang lalu. Melalui surat hari ini juga aku memohon dukungan semangat dan doamu agar aku mampu mencapai targetku kelak. 

Oia, kuharap kamu juga memiliki semangat yang sama atau bahkan melebihi semangat yang kupunya ya sayang. Karena biar bagaimanapun, tanggung jawab yang kamu miliki jauh lebih besar dari yang dibebankan padaku. Ingatlah, dalam waktu yang segera kamu harus secepatnya mengambil alih tongkat estafet yang saat ini ada dalam genggaman papamu. Ya, tenang saja sayang. Sebisa mungkin aku akan terus ada di sampingmu untuk mendampingi dan mendoakanmu. Berdoalah, supaya Tuhan yang Maha Baik itu tetap memelihara hubungan kita sebagaimana seperti yang ada dalam rencanaNya.

Sampai disini dulu sayang surat balasanku ini. Semoga harimu menyenangkan dan penuh dengan kebahagiaan. Aku disini selalu mendoakanmu; mendoakan kita. Selamat beraktivitas, Sayang.

Dengan penuh cinta dan kerinduan,
Nonamu di Depok.

Senin, 24 Februari 2014

Mungkin ini Mengenai Jarak

Selamat pagi, Tuan yang sedang uring-uringan.

Sayang, ketika aku membaca suratmu kemarin aku sempat tersenyum-senyum sendiri. Bukan, bukan karena aku senang melihatmu kesulitan menghadapi si gigi bungsu. Tapi yang sedikit lucu bagiku adalah entah mengapa kamu si sulung ini sering kesulitan sampai uring-uringan saat menghadapi yang bungsu-bungsu. Seperti aku misalnya. Jangan memungkiri, Sayang. Yang bungsu memang seringkali sulit untuk ditaklukan. Hihihi

Baiklah, lupakan soal si gigi bungsu itu. Toh itu adalah proses alami yang akan dialami oleh manusia normal yang hendak beranjak dewasa. Bersyukurlah sayang, karena dari ceritamu kemarin proses tumbuhnya gigi bungsumu ini terbilang sangat cepat. Apalagi bila dibandingkan denganku. Proses pertumbuhan gigi geraham bungsuku ini sangatlah lamban. Di satu waktu ia berulah, memunculkan diri dengan disertai rasa sakit selama seminggu lebih. Lalu di bulan lainnya ia kembali berulah dengan pola yang sama. Dan sebalnya lagi, rasa sakit yang ada itu tidak terbalas, karena gigi bungsu yang tumbuh itu hanya muncul kurang dari setengah ukuran gigi geraham lainnya.

Sayang, pagi ini agak kurang menyenangkan untukku. Kukira pagi ini kesehatanku mulai membaik, tapi nyatanya aku masih pusing dan beberapa kali sesak nafas. Dan anehnya kamu malah berkata bahwa penyebab sakitku ini adalah karena rinduku padamu. Astaga, kamu pikir rindu yang menumpuk ini bisa menghalangi oksigen untuk beraktivitas di dalam tubuhku? Bisa jadi sih kalau rindunya sudah sekarat sampai berbulan-bulan tak bertemu. Tapikan kita baru beberapa hari tidak bertemu, tidak sampai seminggu. Jadi kurasa, bukan itu alasannya. Semoga saja ini bukan pertanda aku mengidap penyakit yang aneh-aneh.

Oia, pagi ini juga aku melihat berita di televisi mengenai geng motor yang merajalela di wilayah Bekasi. Dan setelah itu juga disiarkan berita mengenai himbauan warga Depok untuk berhati-hati pula terhadap geng motor. Entahlah, kedua berita itu sangat membuatku khawatir. Selain karena berita itu menandakan bahwa kedua kota tempat kita beraktivitas sudah tidak aman, titik rawan geng motor itu adalah jalan-jalan yang biasa kamu lalui untuk menemuiku. Apakah begitu beratnya perjuangan yang harus kamu lalui untuk menemuiku? Oke, aku berlebihan.

Hmm, apapun  yang menjadi halangan untuk kita bertemu aku harap itu tidak mengurangi intensitas komunikasi kita ya, Sayang. Karena biar bagaimanapun ada hal yang bisa kita syukuri dari jarak yang memisahkan keberadaan kita. Pertama, kita bisa bersyukur karena jarak yang memisahkan tempat tinggal kita itu masih bisa ditempuh dalam hitungan jam oleh kendaraan bermotor. Kedua, jarak yang terpaut di antara kita dapat menyadarkan kita bahwa waktu temu yang Tuhan izinkan ada di antara kita itu berharga adanya. Jadi, jangan kita sia-siakan waktu pertemuan kita yang tak sering itu. Ketiga, jarak tidak sekejam yang kita duga. Ia tidak dengan sengaja memisahkan kita, tapi itu memang alur yang Tuhan buat untuk membuat kita tetap berada pada tempat kita masing-masing dan mengerjakan pekerjaan yang sudah Ia tetapkan bagi kita.

Sejujurnya, baru kali ini rasa syukurku disebabkan oleh jarak. Terlebih saat ini juga terdapat beberapa ancaman dalam jarak yang memisahkan kita. Ya beruntunglah kamu jika saat ini aku lebih banyak bersyukur dibanding mengeluh karena jarak. Sebab seperti yang kamu tau, aku kurang bisa sabar jika harus berbicara soal jarak. Karena jarak dan waktu akan menyublim menjadi sebuah rindu. Semoga saja besok atau mungkin nanti menjelang sore akan ada berita baik yang dibawa oleh para aparat kita mengenai ulah nakal geng motor tersebut. Supaya tak ada lagi rasa cemas dan khawatir yang menyatu dengan gebu rindu saat akan bertemu denganmu.

Baiklah, Tuan. Sampai disini dulu suratku hari ini. 
Semoga harimu menyenangkan ya, Sayang!

Peluk dan rindu tercurah melalui doa bagimu.
Dari Nonamu di Depok. 

Sabtu, 22 Februari 2014

Belajar dari Smurfette

Dear, my numero uno; Tuan Uno Telaumbanua...

Selamat pagi, sayang.
Saat aku mengetik surat ini untukmu, hujan deras sedang menyelimuti kota Depok sedari tadi. Bagaimana dengan keadaan cuaca di kotamu? Semoga tidak sesendu awan di kota Depok ya. Karena cuaca yang dingin ini mengakibatkan tumpukan rindu di hatiku semakin menggunung. Jangan tanya rinduku pada siapa. Sudah tentu muara rinduku ini tertuju ke kamu. 

Sayang, seperti yang pernah aku katakan dalam surat-surat sebelumnya bahwa banyak sekali perbedaan di antara kita yang membuat kita kesulitan dalam membangun komunikasi yang baik. Seperti kemarin misalnya, aku melakukan kesalahan yang fatal dalam memahami suratmu. Untuk itu aku mohon maaf ya, sayang.

Baiklah, jika kemarin kamu mengambil sebuah intisari dari kisah film Robocop. Kali ini aku akan membawamu jauh ke momen pertama kita saat menonton film. The Smurfs! Apalagi kalau bukan film itu yang sampai kini masih membekas jelas di ingatanku. Kamu tau sendirilah, selain karena aku menyukai film animasi, aku juga suka berimajinasi. Film the smurfs mampu membangkitkan daya imajinasiku dengan begitu hebat. Bahkan kalau boleh, aku ingin sekali berada di posisi Patrick yang bisa dengan begitu akrabnya berteman dengan para Smurfs. Atau, sesekali aku ingin mencoba untuk bisa masuk ke dunia Smurfs yang setiap harinya penuh dengan keriangan, sukacita dan persahabatan.

Oke, sepertinya aku mulai melantur.

Dalam surat ini aku bukan ingin membuat kamu bosan terlebih jengah dengan khayalanku yang terkadang tidak bisa kamu mengerti. Disini aku ingin mengajakmu; dan juga aku sendiri, belajar dari seorang Smurfette. Si gadis yang paling cantik di antara para makhluk biru lainnya ini memiliki sifat perasa yang hampir setingkat denganku. Masih ingatkah kamu, awal mula konflik di film The Smurfs ini dimulai dari Smurfette yang merasa bahwa teman-temannya telah melupakan hari ulang tahunnya. Padahal di balik sikap dingin teman-temannya itu mereka telah mempersiapkan sesuatu yang snagat istimewa untuk Smurfette. Dan hal itupun langsung dimanfaatkan oleh si penyihir jahat, Gargamel.

Ya, sepertinya aku tak perlu menjelaskan sinopsisnya seperti apa. Toh kita berdua sudah menonton habis film itu. Yang mau aku tekankan disini adalah bahwa melalui sifat Smurfette yang hampir sama denganku, aku belajar sesuatu. Aku belajar untuk tidak membiarkan perasaanku menjadi liar tak terkendali hanya karena sebuah pandangan yang terlihat dari satu sisi. Contoh nyatanya adalah aku yang sering merasa takut padamu kalau kamu sudah diam tanpa suara, aku merasa bersalah sendiri dan akhirnya aku meminta maaf tanpa sebab musabab yang jelas kepadamu. Padahal diamnya kamu itu belum tentu karena kesalahanku.

Nah, sayang. Aku memang belajar dari Smurfette. Tapi kamu taukan betapa sulitnya berproses untuk mempelajari sesuatu. Ya, meskipun aku sudah lama belajar untuk mengubah sifatku yang satu itu tapi tetap saja sampai sekarang sepertinya tidak ada perubahan sedikitpun. Aku harap kamu bisa memakluminya ya, Sayang!

Oia, dalam surat ini aku sekaligus ingin memperjelas bahwa aku yakin dengan sifat kita yang jauh berbeda ini, kita masih bisa bergandengan tangan melangkah bersama menuju masa depan yang indah. Lagipula, aku ingin lihat akan Tuhan buat seperti apa hubungan si nona perasa dan tuan yang cuek ini.

Baiklah sayangku, hujan semakin mendukung udara dingin untuk menusuk kulitku. Aku ingin segera berlindung di balik selimut. Selagi libur, aku ingin memanfaatkan hari ini untuk bersantai dan memanjakan diri. Semoga kamu juga bisa bersantai ya di hari ini. Aku menyayangimu!

With love,
your Nona.

Kamis, 20 Februari 2014

Santai Saja

Dear Tuan yang tak punya mimpi.

Sayang, apa gerangan yang membuatmu terburu-buru?
Segitu kejamnya kah hari mengancammu untuk segera berburu waktu?
Tak habis pikir aku dengan hidupmu yang tanpa mimpi itu.
Apakah dunia yang kau jalani begitu indah hingga kau tak perlu lagi fiksi untuk kau khayalkan?

Sayang, janganlah terburu-buru menghempaskan mimpi dari hidupmu.
Tanpa kau tau mimpi memiliki kekuatan magis untuk menambah semangatmu.
Kelak mimpilah yang akan merengkuhmu pada pelukan masa depan.
Lagipula, bukankah dewi fortuna berteman baik denganmu?
Jadi, tak usahlah kau ragu untuk bermimpi.

Kupikir, Tuhan tak akan setega itu sampai tak memberimu mimpi indah.
Pasti dengan lapang Ia akan memberimu ruang untuk mencipta mimpimu sendiri secara sadar.
Beranilah menjadi pencipta bagi mimpimu sendiri, kamu diberi kehendak bebas untuk itu.
Jangan terburu waktu, rileks dan santai saja.
Perlahan, susun mimpimu serapi dan setinggi mungkin, lalu kolaborasikan dengan mimpiku.

Dan kalau kugali lagi memoriku.
Bukankah kamu yang sedari awal mengajariku bermimpi?
Bagaimana mungkin kemarin kamu bisa berkata bahwa kau tak memiliki mimpi?
Atau mungkin itu sebuah isyarat bahwa kamu mau berduet denganku untuk membangun sebuah mimpi yang baru?

Jika iya, ayo kita lakukan.
Santai saja, tapi jangan sampai buang waktu lama.
Cukup kita renda sebuah mimpi sederhana.
Tak usah megah, cukup kita berdua yang mencipta itu juga sudah istimewa.
Dan ketika akan mengakhiri surat ini, muncul suatu ide baru lagi untuk bermimpi.
Aku berimpian untuk bisa menulis lagi setelah ini, denganmu tentunya.

Bagaimana sayang, berminat untuk menjadi rekanku dalam mewujudkan mimpi itu?
 
With love,
aku,
Nona yang masih saja suka bermimpi.

Selasa, 18 Februari 2014

Masih Perihal Mimpi

Peluk sayangku dari jauh untukmu, Tuan Imajinasiku.

Selamat siang menjelang sore, Sayangku.
Aku sudah membaca surat ucapan syukurmu kemarin. Dan tidak seperti biasanya, aku membaca surat itu berulang kali sampai tak terhitung oleh jemari tanganku. Aku bahagia, menjadi salah satu alasan untukmu mengucap syukur adalah salah satu kebahagiaan tak terhingga yang Tuhan anugerahkan bagiku. Mungkin dalam surat itu kamu tidak menjawab tawaranku yang memintamu untuk menceritakan bagaimana mimpimu kepadaku. Baiklah, kuharap kamu bisa menceritakan perihal mimpimu itu di lain waktu. Di surat berikutnya, mungkin?

Masih soal mimpi. Hari ini lagi-lagi aku bermimpi tentangmu. Bukan, mimpi yang kali ini bukan murni bunga tidur yang Tuhan hadiahi untukku. Mimpi yang satu ini adalah hasil imajinasiku ketika mengirimkan surat permohonan kencan yang kuajukan kepada salah satu tukang posku dalam proyek 30 hari menulis surat cinta. Betapa beruntungnya aku. Karena tanpa perlu pusing memikirkan untuk siapa aku mengirimkan surat hari ini, aku bisa menentukannya dengan cepat dan tepat tentunya. Ya, tanpa perlu berpikir lagi aku mengajukan surat permohonan kencan itu untukmu. Pacarku yang juga bertugas sebagai tukang posku.

Entahlah, hanya dalam waktu hitungan beberapa menit saja aku mampu menulis banyak kata hingga menimbun aksara dalam belantara surat cinta. Kamu memang mampu menjadi muara dari segala imajinasiku, Sayang. Ah, andai segala imajinasiku itu dapat kurealisasikan bersamamu. Tapi aku yakin cepat atau lambat segala mimpi-mimpi yang telah kita ciptakan secara sadar itu tidak hanya sekedar menjadi sampah perandaian. Percayalah, kelak kita akan mampu meraih asa yang telah kita rajut bersama ini.

Sayang, badai dan segala kerikil kecil akan semakin gemar menghantam kita dalam perjalanan. Aku harap kamu selalu siap menggenggam tanganku sampai asa itu menjadi milik kita. Bukankah kamu pernah berkata bahwa dunia akan tercengang hebat ketika melihat kita berdua mampu berdiri bersama dengan mimpi-mimpi yang telah terwujud? 

Ayolah, mari kita percepat waktu untuk mengejutkan dunia ini. Ayo kita bangun dan berlari bersama mewujudkan mimpi-mimpi kita itu. Jiwaku begitu bergelora untuk segera masuk ke dunia yang telah kita impikan itu. Tapi sayang, kalaupun di tengah perjalanan nanti aku lelah dan ingin berhenti. Tolong kamu ingatkan kembali ambisiku yang terlalu ingin membahagiakan kita. Agar perhentianku itu hanya untuk sementara dan selanjutnya aku akan beranjak lagi bersamamu menapaki jalan impian.

Dan yang terakhir yang tak boleh terlupakan.
Tetaplah kita menyandarkan pengharapan kita kepada Dia yang telah merenda karya indah bagi kita. Berdoalah dengan tekun bersamaku. Agar rencana kita sejalan dengan rencana yang telah diguratkanNya bagi kita. Dan supaya Ia memelihara aku dan kamu dari segala ancaman yang hendak memisahkan kita.

Baiklah, Sayang. Mungkin keinginanku terlalu sempurna untuk bisa bersamamu, selalu. Ada kalanya juga kita perlu bersiaga terhadap semesta yang tak melulu sesuai dengan dugaan. Tapi bukankah kita selalu dibebaskan untuk bermimpi? Tentu dengan syarat kita harus ingat untuk bangun dan mewujudkannya. Lagipula Tuhan kita itu Maha Pengasih, tiada kata mustahil dalam kamusNya bagi kita. Bagaimana, beranikah kamu meraih segala mimpi kita itu bersamaku? Oia, tetap kutunggu cerita-cerita tentang mimpimu ya, Sayang!

Masih denganku,
Nona pemimpimu.

Minggu, 16 Februari 2014

Mimpi

Dear, Tuan yang sedang sibuk-sibuknya.

Selamat pagi menjelang siang, sayang.
Bagaimana kesan hari pertamamu kemarin yang bertugas menggantikan peran Om Em sebagai tukang pos penggalang?
Aku harap menyenangkan ya.
Oia, sekedar memberi tau saja. Aku menulis surat ini sembari memakan cokelat darimu loh.
Sayang, aku mau cerita.
Semalam aku memimpikan kamu, memimpikan kita.
Di mimpiku itu entah bagaimana prosesnya tiba-tiba saja kita sudah menikah dan memiliki empat anak, tiga laki-laki dan satu perempuan. Dan entah apa yang sedang dipikirkan Tuhan hingga memberi mimpi yang begitu indah semalam karena keempat anak yang muncul di mimpiku itu sangat lucu dan menggemaskan. Si sulung sangat tampan, tinggi putih dan memiliki mata yang kecil sepertiku. Si gadis kecil, anak terbungsu di mimpiku memiliki hidung yang mancung sepertimu, dia masih bayi. Namun dari kulitnya yang kemerah-merahan dapat ditebak seputih apa kulitnya saat sudah beranjak dewasa nanti. Dua yang lainnya juga sangat lucu, sepertinya umur mereka masih seusia anak-anak sekolah dasar. Tapi entahlah, Tuhan tidak menginformasikan berapa usia mereka di dalam mimpiku itu. Masih ada beberapa penggalan cerita yang Tuhan taruh di mimpiku, yang masih dapat kuingat jelas. Salah satunya ketika kita berenam; aku kamu dan keempat anak-anak dalam mimpiku itu makan malam bersama di sebuah kedai tradisional ala budaya Jepang. Disana kita makan, mengobrol, tertawa, dan berbagi kasih bersama seperti bagaimana layaknya keluarga yang mencapai puncak kebahagiaan mereka.
Alasan Tuhan menjadikan kedai itu sebagai latar mungkin sekedar untuk menghiburku yang kemarin malam sempat memberi wacana kepadamu bahwa suatu saat nanti aku ingin ke Osaka saat musim semi bersamamu. Ah, indah sekali mimpi semalam. Pagi tadi saat bangun tidur sebelum cerita-cerita dalam mimpi itu menguar bersama dengan aktivitas hari ini, aku langsung berdoa. Berharap penuh kepada Tuhan agar mimpiku semalam dapat digenapi dalam dunia nyata. Kamu tidak keberatan kan dengan harapanku itu?

Nah itu tadi mimpiku.
Kalau boleh, bagaimana jika dalam surat berikutnya kamu juga menceritakan mimpimu kepadaku.
Kalau memang kamu tidak bermimpi saat tidur atau kamu lupa akan mimpimu saat tak sadar itu, cobalah ceritakan mimpi-mimpi yang kamu ciptakan sendiri saat kesadaranmu penuh terjaga. Dan tentunya aku akan lebih senang jika aku juga diperkenankan untuk mendapat peran di dalamnya.

Baiklah sayang. Itu saja yang ingin aku tuangkan dalam surat hari ini. Sekalian aku mau mengingatkan bahwa hari ini orang yang menjadi media Tuhan untuk mendekatkan kita sedang berulang tahun loh. Sudah banyak semoga yang aku panjatkan untuknya setelah aku mendoakanmu semalam. Akhir kata, selamat hari Minggu sayangku. Selamat menikmati berkat Tuhan di hari yang kudus ini.

Dengan penuh cinta,
Nona pemimpimu.

Jumat, 14 Februari 2014

Cokelat

Surat ini kutulis ketika berita tentang bencana Gunung Kelud beredar dimana-mana.
Di saat kebanyakan orang-orang di dunia bersuka merayakan hari Valentine dan bumi pertiwi kita tengah berduka.
Ketika kita baru saja beristirahat sejenak dari perjalanan melelahkan tanpa hasil, Depok-Bogor-Depok.
Kamu berada tepat di hadapanku ketika huruf demi huruf dalam surat ini mulai lahir dan siap bertautan dengan huruf lainnya sehingga membentuk kata lanjut rangkaian kalimat yang semoga indah untuk dibaca.
Lucu memang, menuliskan sebuah surat untuk seseorang yang bahkan bisa kugapai dengan jangkauan tanganku. Tapi tak apalah, anggap saja ini salah satu cara unik yang kumiliki untuk membalas pemberian cokelatmu yang masih tersimpan manis di dalam tasku.

Untukmu, Tuan kesayanganku yang senyumnya mahal.

Halo Tuan, pertama-tama kuucapkan terima kasih untuk cokelat yang kamu berikan sekitar satu jam yang lalu. Maaf jika responku tidak sesuai dengan ekspetasi yang kau kemas rapi menyertai cokelat itu. Aku hanya terlalu terkejut dengan hal manis yang kau bungkus dengan sederhana itu. Karena jujur, mungkin ini bukan pertama kalinya aku mendapatkan cokelat dari seorang laki-laki di hari Valentine. Tapi ini adalah kali pertama dimana pria yang menjadi kekasihku dengan sangat manis memberikan sebuah cokelat di hari yang diagungkan orang banyak sebagai hari kasih sayang.

Kuberitahu sedikit. Saat kecil dulu aku selalu bertanya-tanya mengapa makanan yang dipilih untuk menjadi simbol hari kasih sayang ini adalah cokelat. Kini dengan pemikiranku sendiri aku mengambil kesimpulan. Kenapa hari Valentine itu diidentikan dengan cokelat karena rasa coklat yang pahit namun manis dan seringkali membuat ketagihan. Selain karena cokelat dapat mengembalikan emosi seseorang yang kesal dapat membaik secara perlahan, hal yang pertama itulah yang mungkin menjadi alasan yang masuk akal (bagiku). 

Ya, sama halnya dengan cokelat, begitu jugalah cinta yang sedang kita bangun bersama. Meski kita tau ada hal pahit yang akan kita rasakan bila kita berani untuk jatuh cinta pada seseorang, namun ada hal manis yang menggelitik rasa penasaran kita untuk mencicipi cinta itu. Kita tau, apapun bentuknya cinta pasti akan berujung pada hal pahit yang sulit untuk kita terima; perpisahan. Bagaimanapun caranya suatu saat nanti kita akan berpisah dengan orang yang kita cintai. Entah itu melalui orang ketiga, ketidakcocokan, pertengkaran, ataupun maut. Tapi indahnya, meskipun kita tau resiko yang kita terima saat mencintai seseorang itu pahit rasanya. Namun kita tak pernah kapok untuk kembali  lagi mencintai orang lain, kembali lagi berteman dengan cinta. Kenapa? Karena sama seperti cokelat, rasa manis yang ada akan mampu menutupi dan mendominasi rasa pahit pada cokelat; pada cinta.

Ah, sepertinya aku mulai terlalu banyak berteori sendiri. Kamu yang sekarang berada di depanku sudah jelas terlihat sangat bosan menungguku selesai berurusan dengan laptopku ini. 
Baiklah, kuselesaikan dulu suratku untuk hari ini. Sepertinya akan jauh lebih baik kalau aku berbicara langsung denganmu.

Aku menyayangimu Suno Christiawan.
Jika diberi hak untuk menamai hari, setiap hari akan kunamakan hari kasih sayang.
Namun terlalu egois, karena hal itu hanya beralaskan kamu tanpa memikirkan orang-orang lainnya.
Apapun nama hari ini, aku bersyukur masih bisa menyayangimu, begitu juga sebaliknya.
Semoga di surat berikutnya ada hal yang lebih menyenangkan yang dapat kita bahas.
Kuakhiri surat ini dengan penuh ucapan syukur kepada Tuhan yang telah mempertemukan kita.

Dariku, Nona yang sedang menanti senyummu hari ini.
 

Rabu, 12 Februari 2014

Rabu Rindu

Selamat siang, Tuan kesayanganku...

Aku merindukanmu. 
Ah, kalau kalimat pertamaku ini sudah tertangkap matamu, kamu pasti akan tersenyum nakal.
Aku akui tebakanmu benar, aku memang rindu.
Rindu padamu membuat kram di tangan dan otakku, sehingga aku agak kesulitan dalam merajut kata demi kata hari ini.
Ya, semoga saja kamu bisa mengerti apa yang kuucap dalam surat ini. Tapi, bukankah kamu selalu mengerti dan paham apapun yang dimaksud dalam sebuah ucapan?

Oia, mengenai pertemuan kita sebelumnya, bukannya aku tidak menepati perkataanku. Namun, bukankah kata tak selalu harus disertai suara? Aku menyampaikan perkataanku, isi hatiku, melalui satu cara saat bibir terkatup: memandang matamu. Entahlah, aku selalu suka menatap lekat-lekat matamu meskipun di saat kamu sedang marah. Semua itu kulakukan dengan harapan isi hatiku bisa tersampaikan melalui ruang dimana tatapan kita saling bersinggungan.

Dan kalau bicara soal pesanmu. Tenang saja, kita lihat saja nanti bagaimana Tuhan memprosesku untuk lebih dewasa. Setidaknya untuk bisa lebih sepadan denganmu yang menurutku telalu dewasa sebelum waktunya. Maklumi saja, aku yang anak bungsu ini tentu masih perlu bimbingan darimu, si sulung dari tiga bersaudara.

Sayang, tak banyak yang bisa aku tuangkan dalam surat hari ini. 
Aku lelah. 
Lelah pada rindu yang terus menerus menggerogoti hatiku.
Kapan kita bisa bertemu? Kamu harus segera bertanggung jawab untuk menemuiku sebelum aku jatuh sakit karena rindu yang sungguh keterlaluan ini.

Lekas, jawablah pertanyaanku melalui suratmu yang berikutnya.
Aku tunggu.

Dengan penuh kerinduan,
Nona yang ingin menemuimu sesegera mungkin.

Senin, 10 Februari 2014

Mari Putar Ulang (Lagi)

Selamat siang, Tuan yang mengesalkan.

Ternyata dugaanmu pada surat-surat sebelumnya itu betul. Sepertinya hari ini hatiku lebih memilih memanggilmu sesuai dengan keadaannya yang memang sedang kesal. Sesuai dengan perumpamaanmu, panggilanmu hari ini seburuk awan mendung walaupun tak sampai disertai dengan gemuruhnya.

Dalam surat hari ini aku kembali ingin mengajakmu bermain di masa lalu. Kenapa? Alasannya sederhana. Karena aku sedang tidak nyaman berbicara mengenai masa sekarang maupun masa depan denganmu, hanya untuk saat ini. Semoga tidak sampai nanti.

Tuan, ingatkah kamu pada foto yang kulampirkan dalam surat ini? Itu adalah foto yang membuatmu memberanikan diri membangun sebuah percakapan denganku, meskipun hanya melalui pesan BBM. Kamu ingat itu tanggal berapa? Itu tepat di tanggal ini delapan bulan yang lalu. Kala itu aku sebetulnya malas menanggapimu, selain karena kalimatmu yang terkesan gombal. Aku juga ragu karena sebelumnya tidak pernah sekalipun berbicara denganmu.

Tak disangka, sekali dua kali kita berbincang melalui pesan singkat itu, akupun mulai terbiasa denganmu. Ya, aku tau pasti Tuhan bermain peran di dalamnya untuk menyatukan kita. Untuk itu janganlah pernah lupa untuk berterimakasih padaNya yang terus menumbuhkan cinta kasih di antara kita.

Ingatlah kembali awal-awal pertemuan kita itu, masa-masa perkenalan kita yang meski singkat tapi mampu memberi debar yang indah di dada. Ingatlah itu saat kita sedang menghadapi masalah seperti sekarang ini. Karena seperti katamu dahulu, jalan yang kita hadapi tak selalu lurus.

Baiklah, aku kehabisan kata-kata dalam surat ini.
Ini yang terakhir,
bertemulah denganku hari ini dan akan aku sampaikan apa yang tidak tergurat dalam surat ini.

Dariku, yang hatinya sedang kesal tak menentu.

Sabtu, 08 Februari 2014

Iya, Aku Paham

Untuk Tuan yang sembilan bulan lalu melirikku.

Selamat pagi Tuan yang lebih keras kepala dariku.
Sebelum aku menjelaskan apa yang aku pahami, aku ingin memberitahu dua hal kepadamu.
Pertama, aku cukup puas. Ya, aku cukup puas kemarin saat membaca balasan suratmu. Setidaknya aku berhasil sedikit menarik keluar sisi dirimu yang puitis.
Kedua, aku ingin mengajakmu sebentar bermain di ingatan sembilan bulan yang lalu. Tepat tanggal delapan di bulan Mei. Marilah kita bernostalgia sejenak saja. Masih ingatkah kamu, itu kali pertama ada getaran di dadamu saat melihatku? Itu juga pertama kalinya matamu yang nakal itu tertarik padaku, sampai-sampai hatimu mendesak mulutmu bersuara guna menanyakan namaku pada seseorang. Ah, andai saja hari itu kamu tidak datang dalam konser yang kutangani, apa ada cara lain Tuhan untuk mempertemukan kita? Kalaupun ada, kurasa tidak akan seindah saat sembilan bulan lalu kamu melihatku. Oia, selagi kita masih bermain dalam ingatan sembilan bulan silam. Ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu. Apa yang membuatmu tertarik saat itu? Karena dalam ingatanku, saat itu aku sungguh lelah. Bawah mataku berkantung akibat hanya tidur selama dua jam. Wajahku juga penuh debu, karena saat itu aku berlari kesana kemari untuk memastikan kesiapan semuanya. Apa yang menarik dari diriku yang seperti itu?

Baiklah, sekarang waktunya kita berhenti bermain. Kita kembali pada hari ini, pada kenyataan. Aku paham, dalam cerita yang kamu sampaikan di surat kemarin itu, kita bermain peran di dalamnya. Ya, itu adalah cerita aku dan kamu di awal hari ke enam bulan Februari ini. Hanya saja akhir cerita itu adalah karanganmu sendiri. Dan aku juga paham, itu adalah mimpimu, mimpi kita. Sama denganmu, aku juga menginginkan akhir yang indah pada cerita itu. Aku memahami kok, kenapa kamu tidak tau apa pendapatku tentang cerita itu. Wajar saja, kamu sudah mulai mengenalku yang terkadang jalan pikirannya sulit untuk ditebak.

Wah, sudah jam segini, sayang! Aku harus lekas bersiap untuk ujian! Kamu juga ya! Jangan sampai terlambat! Akhir kata, aku juga memahami kedua hal yang telah kamu paparkan panjang lebar dalam isi surat kemarin.
Baiklah, Tuan yang sembilan bulan lalu berbaju batik. Aku, Nona yang sembilan bulan lalu mengenakan baju merah ini sangat menyayangimu. Teruslah menyayangiku dan jangan pernah lelah untuk memahamiku.

Dariku,
Nona berbaju merah yang sembilan bulan lalu tanpa sengaja mencuri perhatianmu.
Ingatlah, aku menyayangimu.

Kamis, 06 Februari 2014

Bukankah Kita Memang Begitu?

Aku sebisa mungkin berusaha mengatur kata-kataku dalam surat-menyurat ini untuk memancing kepiawaianmu dalam meracik kata-kata puitis. Tapi tetap saja suratku kau tanggapi dengan candaan. Bukannya kaku, aku hanya mencoba membuat seapik mungkin setiap rentetan kalimat dalam surat ini. Tapi sekali lagi, kau hanya menanggapinya dengan bercanda. Sudah jelas terlalu banyak perbedaan di antara kita. Aku yang serius dan kamu yang suka bercanda. Aku yang perencana handal dan kamu si bodo amat yang tidak menentu. Aku yang sering sekali ragu dan kamu yang selalu santai mengahadapi takut. Masih banyak lagi. Padahal kalau kuingat, kita dipertemukan oleh sebuah persamaan, bukan perbedaan. Hanya saja, seiring berjalannya waktu kita semakin banyak menemui segala macam perbedaan. Entah sifat, sikap ,maupun pandangan. Alami memang. Bahkan dalam surat menyurat inipun, muncul lagi perbedaan-perbedaan yang semakin konkret terlihat. Herannya, semua perbedaan itu makin menguatkan kita bukan? Dan kalau kupikir kembali, bukankah kita memang begitu?

Untuk Tuan yang tujuh bulan lalu kuterima cintanya.

Selamat siang, Tuan. Selamat tanggal enam untuk ketujuh kalinya.
Sekali lagi, aku mohon maaf. Lagi-lagi aku tidak bisa menetapkan panggilan untukmu dalam surat menyurat ini. Biarlah apa yang menjadi panggilanmu itu mengalir sesuka hatiku yang sering tidak menentu. Aku harap kamu mengerti. Kalaupun hal itu sulit dilakukan, tolong terimalah. Karena menurutku cinta bukan bicara soal saling mengerti, tapi menerima setiap hal yang tidak bisa dimengerti. Dan lagi, bukannya hatiku tidak berbisik. Untuk hari ini saja, hatiku sudah berisik sekali ingin memanggilmu Tuan WaPres. Sekedar nostalgia saja kalau tepat tujuh bulan yang lalu kamu dinobatkan sebagai Wakil Presiden BEM FE yang akhirnya membawamu pada hubungan kita ini.
Hari inipun kamu juga akan menjalankan beberapa tugasmu sebagai WaPres kan, sayang? Selamat bertugas ya, Tuan WaPres kesayanganku. Pesanku, jangan lupa makan dan teruslah minta hikmat dari Pencipta kita yang Sumber Kasih itu untuk terus selalu menyertai langkahmu.
Oia, dalam surat kemarin kamu bicara soal mimpi ya? Kalau dilihat secara tersirat semua hal itu menguntungkan kamu dong, sayang? Kamu yang bermimpi dan aku yang meraihnya? Apa aku salah menangkap maksudmu? Jika salah, tolong jelaskan lagi hal itu secara lebih detail. Kamu tau aku kan? Aku sering sekali bertanya mengenai apapun yang kamu ungkapkan secara tersirat dan seringkali pula aku salah paham dengan maksudmu. Tapi untunglah hal itu tidak semakin menjauhkan kita ya, sayang. Karena sekali lagi, bukankah kita memang begitu?
Baiklah, sepertinya aku harus segera bersiap untuk UAS hari ini. Kamu juga siap-siap ya, sayang.
Semoga ujianmu sukses dan mendapat hasil yang terbaik.

Surat ini sebisa mungkin kutulis dengan santai yang menjurus candaan. Namun tetap saja terlihat terlalu kaku dan serius. Menyesuaikan diri dengan pasangan memang sangat sulit ya, sayang. Tapi sekali lagi kukatakan, bukankah kita memang begitu?

Dari Nona yang tujuh bulan lalu menerima cintamu.

Selasa, 04 Februari 2014

Ini Soal Hati

Sebelum aku mulai masuk ke dalam inti surat hari ini, kamu perlu tau. Bahwa seringkali hati terlalu liar untuk dijinakkan, bahkan oleh pikiran sekalipun.

Untukmu, penghuni hatiku.

Selamat siang, Tuan kesayanganku.

Maaf sebelumnya, permintaanmu dalam surat sebelumnya tidak dapat kupenuhi. Kenapa? Sederhana saja. Kamu adalah seseorang yang kini menghuni hatiku, sudah hampir 7 bulan ini hatiku mulai mengenal siapa penghuninya. Oleh karena itulah, aku menyerahkan apapun panggilanmu kepada hati ini. Bahkan dalam surat menyurat kitapun aku membebaskan hatiku untuk menetapkan apa yang menjadi panggilanmu. Intinya sih, sesuka hatiku saja mau memanggilmu apa, bolehkan?

Bicara soal hati, ingatkah kamu beberapa bulan yang lalu kamu telah membuka keran cinta yang kumiliki dengan ketulusanmu? Kini cinta darimu juga telah mengalir deras memenuhi wadahnya, hatiku. Dan perlu kamu ketahui, hati hanyalah sebuah wadah yang terbatas adanya. Sedangkan cinta merupakan sebuah sumber mata air kebahagiaan yang tidak akan pernah kering.

Kita harus sama-sama menyadari dan mengerti sejak dini, kalau pada akhirnya nanti hati kita akan terpenuhi oleh masing-masing cinta yang telah kita isi. Dan pada waktunya nanti cinta ini akan membutuhkan lagi wadah baru yang akan menampungnya, hati yang baru. Mengertikah kamu, apapun yang berlebihan akan tak baik jadinya. Jika nanti Tuhan telah berkata "cukup" pada cinta yang telah terisi di hati aku dan kamu, kita harus patuh. Mematuhi ketetapanNya yang mengharuskan kita berbagi cinta pada yang lain.

Maaf jika suatu saat nanti cintaku padamu ini harus kubagi kepada hati yang lain. Kepada hati putih yang dimiliki seorang anak lelaki bermarga Telaumbanua. Yang saat suatu hari nanti akan mencium tanganmu dan tanganku sembari mengucapkan kalimat: "Pa, Ma, aku berangkat dulu ke sekolah."

Jika hal itu sampai terjadi,
bersediakah kamu memaafkanku?

Dariku, si pemilik hati.

Minggu, 02 Februari 2014

Alibi? Kode? Ayo!

Ini balasan untuk suratmu di awal Februari :)

Untukmu, Tuan Milanisti yang suka ngablu :p

"Aku memperhatikanmu dalam kecuekanku, Asyedap."-SC
Hai, Tuan! Kalimat di atas itu bukan alibi, kan? Hehehe
Pertama, aku ucapkan terima kasih ya atas perhatianmu yang tidak biasa itu.
Sungguh, aku selalu mencoba untuk makan teratur kok. Tapi ya kamu taulah, terkadang aku ini suka lebih bandel darimu dan bahkan tak jarang juga lebih malas dari kamu.
Kamu sendiri, sudah merasa betul belum pola makannya?
Kalau soal makan sih sebetulnya aku ngga begitu khawatir sama kamu. Yang sering jadi pikiranku itu adalah saat kamu pulang dari rumahku dalam keadaan setengah sadar karena ngantuk (ya kita sebut sajalah itu "ngablu")
Aku harap, ke depannya kamu kurangin ya kebiasaanmu yang suka tidur sambil mengendarai motor itu. Bahaya loh, sayang! Kalau memang rasa ngantuknya sudah ngga bisa ditahan lagi, yoweis, cobalah cari akal bagaimana caranya supaya kamu ngga tertidur di jalan. Entah dengan siram mukamu pakai air dingin atau berhenti dulu menepi di pinggir jalan. Oia, satu hal lagi! Tolonglah katakan IYA ketika aku bilang "Hati-hati di jalan."!!!

"Mau bagaimana lagi, dosen aku tidak pernah mengajak aku untuk bertemu, kalau kamu kan sering, apalagi kalau sedang rindu - rindunya, bukan?!. Hihi."-SC
Hmm, iya kamu betul! Hehehe
Aku memang sering banget ajak kamu ketemuan. Ya, untuk hal yang satu ini aku memang agak lemah. Mungkin itu juga salah satu penyebab kegagalanku di hubungan yang sebelumnya *iya, udah, sebut aja LDR*
Tapi asal kamu tau ya, sayang. Frekuensi aku dalam ngajak kamu ketemuan itu juga seimbang dengan jumlah banyaknya nasehat aku buat nyuruh kamu masuk kuliah loh...
Aku sih berharapnya kalimatmu itu bukan kode ya. Siapa tau aja gitu kamu bosen aku ajak ketemuan terus, makanya kamu bilang gitu deh. Hehehe *bercanda yang, bercanda*
Solusinya gini aja, kita ketemuan setelah kamu pulang kuliah. Beres kan? UAS kamu lancar, hubungan kita juga tentram. Asyedaaap~

"Tiket nonton yang aku simpan sudah banyak di dompet nih. Mau kita apakan? Bagaimana kalau kita buat scrap book, atau teman - temannya apa lah itu untuk menjadi perhelatan dimana tiket itu bisa ditempatkan."-SC
AYO!
Setelah surat ini selesai kamu baca, tolong ya kamu rapikan tiket-tiket nonton kita yang sudah terkumpul. Pas kita ketemuan nanti jangan lupa dibawa tiketnya. Aku sudah punya beberapa ide buat bikin sesuatu dari tiket-tiket itu. Yang sudah pudar juga tetap disimpan ya! Ada nilai sejarah yang berharga dibalik kepudarannya itu loh. Hihihi

Terakhir dalam surat hari ini...
Jangan melupakan Tuhan di tengah kesibukanmu ya, Sayang!

Selamat hari Minggu Tuan Telaumbanua kesayanganku.
Aku tunggu surat berikutnya darimu.

Dariku, wanita yang mungkin terlalu bawel bagimu.