Tampilkan postingan dengan label #30HariMenulisSuratCinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #30HariMenulisSuratCinta. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Februari 2015

Masih Tentang Hati

Surat ini ditulis, ketika berita pembegalan merasuk cemas keresahan warga kota Depok.
Ketika sang tertuju surat ini tengah menyelesaikan ujian guna memperoleh sarjananya.
Ketika skripsi tengah menghantui pelakon surat ini.

Nasehat penutup cerita semalam.

Kepada : 
Yang masih berdiri pada dua pilihan, Alexandra.

Ndra, masih berkutat dengan urusan hati?
Tak perlu dijawab, ini hanya basa-basi :) Jawabannya tentu saja, masih. Bukan begitu?
Tepat setahun lewat sehari ya surat sebelumnya terkirim. Berarti sudah setahun lebih ya perasaan itu terpendam rapi dan kini, siapa sangka rasa itu tak kunjung pergi?

Ndra, kebahagiaan memang berawal dari rasa nyaman. Tapi kita ga boleh acuh terhadap keadaan yang selalu meneriakkan perbedaan. Kadangkala kebahagiaan bisa juga sebuah perangkap jebakan yang dapat merusak perasaan. Percayalah, bahwa pasangan tak harus selalu sesuai angan. Ia mestilah seseorang yang berjalan dalam kenyataan, yang membawa kita bertumbuh dalam iman, kepada Tuhan.

Berdoalah, Ndra. Ia yang mendengar doamu adalah yang paling tau apa yang terbaik bagimu. Hanya saran untuk jangan memulai jika Ia tak mengizinkannya. Karena perlu kita ketahui, ada juga hati yang meski sering disakiti, ia tetap berdiri. Tegar memagari agar sang isi tak lantas pergi, meski ia tau apa yang diingini tak selalu terjadi sesuai prediksi. 
Jangan gegabah, Ndra. Terlebih dia yang yang hatinya ingin lo isi adalah lelaki si keras hati.

Berbahagialah aku, jika dirimu tercerahkan oleh surat singkat ini.
Salam,
Icha.

Surat sebelumnya dapat dibaca di sini.



Jumat, 30 Januari 2015

Selamat Satu Minggu, Michael!

Penantian akan kehadiranmu kami jalani selama sembilan bulan. Entah kurang atau lebih, namun sekitar itulah lamanya kami menanti kehadiranmu di dunia.

Orang tuamu, Oma Opa serta Opungmu, keempat Uwakmu, delapan kakak sepupumu, serta aku, ii-mu. Kami tak lelah mendoakan kesehatanmu yang kian hari semakin lincah bergerak di dalam perut mamamu. Dan terpujilah Tuhan, sebab Ia senantiasa mengabulkan doa kami dengan lahirnya dirimu ke dalam dunia ini, dengan keadaan yang sangat baik dan tampan tentunya.

Michael, mungkin saat ini kamu masih belum bisa membaca tulisan ii. Bahkan untuk melihatpun matamu masih belum cukup jeli. Tapi percayalah, kelak saat kamu bisa membaca surat ini. Kamu akan tau betapa dirimu dicintai bahkan sebelum kami melihatmu. Dan semoga kelak, ketika kamu sudah bisa mengerti apa makna sebuah tulisan yang tersirat dalam surat, ii sudah bisa memberikanmu seorang adik sepupu. Atau jika Tuhan berlimpah belas kasih kepada ii, mungkin tak hanya satu adik sepupumu, bisa juga lebih dari itu. (Amin!)

Michael, tumbuhlah dengan tubuh yang sehat dan wajah rupawan. Tak hanya itu, berkembanglah hidupmu dengan iman yang mengakar kuat di hatimu. Hiaslah harimu dengan mengasah talenta yang Tuhan berikan padamu. Ii yakin, kelak dirimu akan menjadi seseorang yang dikenal khalayak sebagai teladan yang baik. Orang tuamu bangga, keluargamu bangga, dan kami semua bangga memiliki kamu sebagai anugerah terbaik. Berbangga hatilah, Michael. Karena dirimu begitu dicintai oleh kami.

Semoga kelak saat membaca surat ini, kamu sudah jadi pribadi tangguh yang dilimpahi buah akan hasil ketaatanmu pada Firman Tuhan. Amin. 


Untuk Michael Alexander Davidson Nainggolan, yang saat ini baru berusia seminggu.

                                             Dengan penuh cinta,
                                                                               Ii.

Percayalah

Teruntuk kamu, tukang posku setahun lalu yang kini tengah sibuk bekerja.

Di tengah keram jari dan kejang otak yang kurasakan, surat ini kutulis. Dengan lebih dulu mengabaikan sadisnya perbudakan skripsi, tentunya.

Dunia di akhir masa menjelang kehancurannya semakin gencar merenggut waktu kita. Mengikis pengharapan kita. Dan memukul habis kasih kita sebagai manusia. Sama seperti kamu, sama juga seperti aku. Kesibukan akan tuntutan duniawi semakin membuat kita enggan menggenggam jari jemari hanya untuk sekedar berdoa. Waktu yang harusnya diluangkan di pagi hari untuk berjumpa dengan Tuhan dialihkan untuk waktu istirahat yang lebih lama karena semalam terlalu larut terlelap. Bahkan waktu malampun terlalu sayang disisakan untuk sekedar menyapa Tuhan yang menunggu kepulangan manusiaNya.

Tapi kita sama-sama tau. Ada begitu banyak kaki yang lelah berlari di siang hari lalu menyalahkan Tuhan karena ia hanya berjalan di tempat. Ada banyak mulut yang terlalu mudah mengeluh meskipun kehidupannya utuh. Ada begitu banyak hati yang angkuh padahal jika Tuhan mau bisa saja sewaktu-waktu kekayaannya dibuat runtuh. Ada juga yang sudah berjalan jauh mengikuti rancangan Tuhan, namun karena jenuh tak kunjung melihat ujung, ia memilih pergi dan berbalik. Ada. Dan tidak sedikit. Mungkin kamu dan aku adalah salah satunya?

Sayang, dengan segala hal yang terjadi padamu hari ini. Dengan segala susah payahmu di hari ini. Percayalah, Tuhan selalu bersamamu. Bersyukurlah, karena dengan kamu masih merasakan apa yang kamu keluhkan. Itu berarti kamu masih berada dalam prosesNya.

Ingat, kita yang setahun lalu sudah sangat jauh berbeda dengan kita yang sekarang. Mungkin dulu kita masih bisa berada di zona aman yang tak terlalu menyeret kita untuk jauh dari Tuhan atau mungkin juga dari masing-masing kita. Tuntutan yang sekarang harus kita penuhi mendesak kita untuk membuat segala sesuatunya imbang. Namun, tuntutan yang datang tak sesuai dengan yang kita terka, terlebih kamu. Waktu 24 jam yang dulu seringkali kita habiskan dengan main-main kini terasa sangat kurang jika diperhadapkan dengan hal-hal serius.

Tapi aku tetap berharap. Apapun kesibukanmu hari ini. Keluhan dan segala tuntutan apapun yang kamu hadapi hari ini. Percayalah, bahwa Tuhan tak pernah tuli untuk mendengar doa kita. Percayalah, bahwa masing-masing kita ada untuk saling mengingatkan kalau Dia selalu ada. Dan bersyukurlah, jika kamu masih dapat percaya.

Berserahlah padaNya, sayang. Karena apapun yang kamu hadapi hari ini, sekalipun itu tak baik di matamu, Ia akan selalu melakukan dan memberikan yang terbaik untuk kita.

Percayalah, Ia akan membawamu melewati hari ini; hari yang kamu khawatirkan sejak kemarin.

Dengan penuh cinta,
Nona yang selalu menyertakanmu dalam percakapannya dengan Tuhan.

Minggu, 02 Maret 2014

Sukses!

Untuk Tuan Milanisti kesayanganku, 
Suno Christiawan Telaumbanua.

Yihaaaaa!
Akhirnya kita sukses menyelesaikan misi kita dalam program #DuaHati ini. Sungguh ini merupakan pengalaman pertama yang sangat mendebarkan bagiku. Masa-masa mengomelimu untuk rajin menulis, saat aku sendiri berjuang melawan kejenuhan dalam berbalas surat denganmu, itu semua akan menjadi kenangan yang indah untuk diingat kembali. Ternyata perjalanan kita selama 30 hari ini jauh melebihi ekspetasiku di awal bulan lalu. Apa yang terjadi nyatanya lebih menyenangkan dari yang ada dalam dugaanku.

Jujur sayang, aku tidak memiliki ide dan waktu yang cukup untuk menulis penutup yang manis dalam secarik surat terakhir ini. Seperti yang kamu tau, saat ini kita sedang berada di kegiatan bakti sosial yang sangat menuntut keberadaan kita masing-masing. Namun keadaan ini tidak menyurutkan niatku untuk menulis surat bagimu. Dan karena hal yang satu ini, aku sangat mengucap syukur. Berkat komitmen yang telah mengikat kita sejak awal ini, aku jadi mengerti satu hal bahwa waktu luang akan selalu ada jika kita menginginkannya dengan terlalu.

Baiklah, Sayang. Dalam suratku ini aku tidak bisa berlama-lama merangkai ratusan kata yang indah. Biarlah kesederhanaan perasaanku padamu yang tersirat dalam surat ini bisa menjadi kemegahan yang berkesan di hatimu. Sebagai ungkapan syukurku atas suksesnya misi surat menyurat #DuaHati kita ini, aku juga ingin mengucapkan terima kasih tak terhingga kepadamu.

Terima kasih, Sayang.
Terima kasih karena telah memperkenalkanku pada program @PosCinta ini. Terima kasih karena telah bersedia memilihku untuk menjadi partner bersuratmu. Terima kasih atas segala macam hal yang telah kau lakukan untuk membuat ketekunanku dalam menulis semakin menjadi.

Sebagai penutup, kuucapkan selamat untuk kita berdua.

Dengan sepenuh cinta,
Nona Kittymu, Vierena Tirza Dwivantiara.

The Last but not Least

Kepada: @PosCinta dan segenap jajaran tukang posnya.

Pos Cinta beserta seluruh jajaran tukang posnya yang sangat kukasihi, sejujurnya aku sangat bingung ingin menutup program ini dengan mengirimkan surat kepada siapa. Penutup yang manis tentunya sangat didambakan oleh tiap orang yang telah konsisten menulis dalam program #30HariMenulisSuratCinta. Sungguh pusing tujuh keliling kepalaku agar bisa menciptakan secarik surat yang kiranya dapat berkesan, setidaknya untuk diriku sendiri. Tapi apalah daya, saat ini kondisi sekitar tidak mendukungku untuk duduk tenang dan meracik kata-kata yang indah. Sekedar informasi saja, saat ini aku sedang berada di lokasi Bakti Sosial yang diadakan kampusku. Aku berada disini selama tiga hari, dan ini adalah hari keduaku. Berada di desa pelosok kota Bogor yang minim sinyal internet semakin menyulitkanku dalam menulis bahkan mungkin dalam mengirimkan surat kali ini. Tapi aku tau persis, itu bukan alasan untuk lari dari konsistensiku dalam menulis selama 30 hari ini. Baiklah, setelah kupikir berulang kali dengan matang-matang akhirnya kuputuskan surat terakhir dalam program #30HariMenulisSuratCinta ini kutujukan untuk kalian, orang-orang yang dengan setulus hati telah menghempaskanku ke tumpukan cinta di kantor pos yang membuatku lebih bergairah dalam menulis.

...

Untuk kamu yang pertama kali memperkenalkanku pada Pos Cinta, Suno Christiawan.

Terima kasih teramat sangat kuucapkan kepada kamu. Berkat doronganmu yang begitu besar, aku mulai memberanikan diri untuk menulis lembar demi lembar surat setiap harinya. Perlu kau ketahui, namamulah yang paling banyak tertera di tumpukan 45 suratku selama 30 hari ini. Tapi kurasa hal itu tak cukup untuk membayar segala kebaikanmu yang telah menceburkanku dalam program ini. Sekali lagi, terima kasih. Tak akan cukup sehari ini jika harus kugunakan untuk mengutarakan segala kebaikanmu. Karena hanya dengan tindakan sederhanamu yang memperkenalkanku pada Kantor Pos inilah yang menjadi titik awal bagiku untuk meluangkan waktu agar dapat kembali menulis.

Untuk Om Pos yang tak lelah berkeliling menyampaikan suratku setiap harinya, Kak Em.

Halo Om Pos yang sempat mengajukan cuti. Terima kasih sekali kuucapkan kepada dirimu. Kalau kau ingat, ini bukan kali pertama aku mengucapkan terima kasih kepadamu. Karena sebelum hari inipun aku sudah merasakan kebaikanmu yang mungkin tak sengaja kau berikan kepadaku. Terima kasih, Kak Em. Karena di tengah-tengah harimu yang kuyakin sangat sulit mencuri sela waktu itu, kamu menyempatkan diri untuk meluangkan waktu berkeliling mengantar surat dari para pecinta yang mengirim surat mereka melaluimu. Kuharap kebahagiaan selalu menyertaimu yang dengan tulus mau menjadi lelah untuk kebahagiaan kecil bagi orang lain.

Untuk Tukang Pos Keliling dan Tukang Pos Siaga yang tak dapat kusebut satu persatu.

Siapapun kalian, aku percaya kalian adalah orang-orang baik hati. Ya, kalian tak bisa memungkiri kepercayaanku itu. Karena telah terbukti, melalui kalian banyak orang merasa terbahagiakan oleh surat-surat yang kalian antar maupun surat yang kalian posting. Terima kasih untuk kalian semua, semoga kelak Tuhan memberiku kesempatan untuk bisa mengenal kalian lebih dekat lagi. Supaya kebaikan yang kalian miliki boleh menulari diriku yang terbilang kagum atas jerih lelah yang kalian upayakan dalam program #30HariMenulisSuratCinta ini. Diberkatilah kalian oleh Tuhan , para tukang pos cinta yang kukasihi.

Untuk Kantor Pos paling romantis sejagat raya, @PosCinta.

Biiim! Biiim!
Sapaan hangat khas yang setiap hari selalu berkeliaran di linimasaku selama bulan merah muda ini memang selalu dinanti oleh orang-orang yang dipenuhi cinta, termasuk aku. Terima kasih @PosCinta, terima kasih juga Bosse yang telah berbaik hati menciptakan program berkualitas ini. Sungguh aku kehabisan kata untuk berucap terima kasih kepada kantor pos yang satu ini. Tapi benar, tiada terkira rasa syukurku atas pertemuanku dengan pos cinta di tahun kuda kayu ini.

Akhir kata, terima kasih untuk kalian semua.
Berkat kalian, ada banyak hal positif yang berdampak dalam hidupku. Salah satunya adalah ketika aku tau, bahwa tulisanku tidak hanya dapat menyenangkan hatiku sendiri tapi juga orang lain yang membacanya. Dan banyak syukur yang lainnya terjadi ketika aku menjadi lebih peka dengan keadaan sekitar dan menuangkan apa yang kulihat dan kurasa dalam secarik surat setiap harinya.  Untuk ke depannya, kuharap kantor pos cinta ini selalu setia membagi cinta lagi di bulan warna merah jambu pada tahun berikutnya. Sekali lagi, terima kasih @PosCinta! Peluk dan ciumku tercurah untuk kalian semua!
Dengan penuh cinta,
Vierena Tirza Dwivantiara.

Sabtu, 01 Maret 2014

Benarkah Kamu tak Bersayap?

Kepada malaikat yang mengaku tak punya sayap.

Suatu hari yang tak terprediksi, kau datang sendiri. Menawarkan diri untuk mengobati hati ini. Aku yang masih ragu dengan hadirmu merasa harus mawas diri dan berhati-hati. Tapi dengan lembut kau katakan kau datang untuk mencintai, bukan melukai. Sepi dan sunyi yang menaungi diri membuatku langsung mempercayai. Tanpa kusadari dirimu malah memberi duri.
Kau datang begitu saja, tanpa kuminta dan tak terduga. Memberi tawa yang selalu membuatku tergoda. Aku tak mungkin lupa dengan cinta yang kau bawa. Begitu setia dan buatku terlena, kehadiranmu selalu membuatku bahagia. Kapanpun ku mau, kau ada. Setiap aku butuh, kau siap sedia. Tapi tiba-tiba kau pergi begitu saja meninggalkan luka, meretakkan hati dan jiwa.

Kini dalam sekejap sosokmu lenyap. Aku yang tanpamu bagai terperangkap dalam ruang gelap. Mencari suara pada hening yang senyap. Aku kalap, harusnya sebelum terlelap aku dapat melihat kau yang punya sayap. Agar aku dapat bersiap, hingga ketika kau pergi mengepakkan sayap aku tak lagi meratap.


Dariku, manusiamu, yang kau tinggalkan.

Jumat, 28 Februari 2014

Catatan Syukur di Akhir Bulan Merah Muda

Pagi yang cerah di langit kota Depok membangunkanku dari tidur semalam yang tak cukup lama.
Sembari ditemani kicauan burung kenari dan suara bising kendaraan bermotor, aku meluangkan waktu sejenak untuk menulis surat ini.
Surat sederhana berisi beberapa catatan syukurku selama sebulan penuh.
Tentunya surat ini kutujukan untukMu, Penulis Kehidupan yang Maha Baik.
Tempat bermuaranya segala rasa syukurku, Tuhan Yesus Kristus.

Tuhan, aku bersyukur.
Di awal bulan kemarin dengan luar biasanya Engkau masih memelihara seluruh aspek kehidupanku hingga akupun dapat mengawali bulan merah muda ini dengan penuh optimalisasi diri. Keluargaku, sahabatku, kekasihku dan juga orang-orang yang kukasihi masih terus ada dalam perlindungan kuasaMu. Ingatkanku terus ya Tuhan, agar aku tak pernah meluputkan mereka semua dari segala doa yang kupanjatkan tiap harinya.

Tuhan, aku bersyukur.
Jika di pertengahan bulan kemarin Engkau memperhadapkanku pada masalah. Terima kasih karena Engkau tidak meninggalkanku sendiri. Melalui tangan kuasaMu yang ajaib akupun dapat berkata pada masalahku bahwa Engkau jauh lebih besar dari mereka semua.

Tuhan, aku bersyukur.
Sampai pada akhir bulan ini aku masih terus bisa mengecap kebaikanMu. Aku sangat berterima kasih karena masih diizinkan untuk mengingat Engkau sebagai sumber dari segala rasa syukurku. 

Tuhan, aku bersyukur.
Karena aku percaya, Engkau akan kembali melakukan perkara besar dalam kehidupanku ini mulai dari sekarang sampai sisa hidupku habis di dunia.

Terima kasih, Tuhan. Atas segalanya, aku bersyukur.

Hati-Hati di Jalan!

Untuk Tuan yang sedang dalam perjalanan ke lokasi Bakti Sosial...

Halo Tuan, sungguh suratmu kemarin merupakan apresiasi yang sangat menyegarkan bagiku. Aku senang jika bisa menjadi salah satu alasanmu untuk semakin giat menulis. Dan terpujilah Tuhan yang masih memelihara sebaik mungkin hubungan kita sampai detik ini. Meskipun kita sama-sama tak bisa menutup mata, rintangan yang akan kita hadapi di depan bukan hanya gerimis hujan namun juga badai topan yang siap memisahkan genggaman tanganmu dariku.

Aku akui, untuk bisa bersanding denganmu sampai sekarang ini bukanlah hal yang mudah. Ada banyak kesulitan yang kuhadapi untuk dapat menyesuaikan diri denganmu. Tapi bukan berarti kesulitan yang ada tak mampu untuk kusederhanakan. Diriku dan tentunya juga dirimu sudah mulai berteman dengan kesulitan sehingga untuk saling menerimapun terasa mudah jadinya.

Sayang, hari ini, besok, lusa dan sampai besoknya lagi kamu akan mengabdikan diri dalam acara bakti sosial kampus kita di kota Bogor. Kuharap, kamu bisa dengan baik menjaga kesehatanmu ya. Selain itu aku juga berharap agar kamu bisa menjaga emosimu dalam menghadapi salah satu rekan kita yang seringkali membuat jengkel. Percayalah, kelakuan orang lain yang menyebalkan itu merupakan sumber pelatihan bagi kita untuk bersabar.

Besok sesegera mungkin aku akan menyusulmu bersama teman-teman yang lainnya. Simpanlah rindumu dan tumpahkanlah dalam satu pelukan erat ketika kamu menjumpaiku disana. Saat ini aku hanya bisa memohon pada Tuhan untuk tetap tak meluputkanmu dalam perlindunganNya.

Berhati-hatilah di jalan, Sayang!
Semoga di tengah kesibukan kita esok dan lusa tak membuat kita berhenti dari program #DuaHati ini. Tinggal selangkah lagi, maka komitmen kita telah terpenuhi. Aku menyayangimu, Suno Christiawan.

Dengan penuh cinta,
Nona yang akan segera menyusulmu.

Kamis, 27 Februari 2014

Loving or Losing You

Kepada kamu yang sedang lelah...

Surat ini kutulis atas dasar cinta yang begitu mendalam kepada kamu. Ketika aku melihat ketidakpastian dalam isi hatimu. Saat kulihat guratan namaku mulai memudar di relung jiwamu. Ketika badai mulai menggoyahkan genggaman tanganmu di zona kekalutan masa sulit yang sudah dan akan kembali kita hadapi.

Di tengah kebimbangan luar biasa yang menyerangku ini, ingin sekali aku berlindung padamu yang ternyata gemetar karena takut. Entah takut pada apa. Haruskah aku membuta sementara hanya untuk mengalihkan mata dari kamu yang tidak gagah? Bukankah kamu juga manusia yang lazim merasa lelah, juga gentar? Sayang, apa semua lelah yang berlaksa di sisi mulai membuatmu menyerahkanku pada masa depan yang tanpa kamu? 

Aku tidak memaksamu untuk tetap gemilang dengan semangat yang membara. Aku tidak ingin memburumu dengan cinta liar tak terkendali. Aku hanya berharap kelelahanmu tidak membuatku berdiri sendiri pada dua pilihan yang tersirat dari lontaran suaramu. Pilihan yang dapat mewujudkan atau mungkin malah menampar segala harapan yang telah kita rajut bersama.

Sejatinya aku terheran. Mengapa cintaku yang sudah susah payah kau kantongi justru membuatmu rela membebaskanku. Lagipula jika kita tekun menelusuri, cinta kita sangat besar untuk bisa dikalahkan oleh masalah. Tapi kenapa dengan mudah kau berkata akan membebaskanku? Tak ayal segala cara pun kau lakukan dengan dalih tidak ingin menyusahkanku. Tenagamu kau kuras untuk menutupi segala rasa cintamu dengan keadaan yang tak patut disalahkan. Entah apa alasanmu berlaku begitu. Namun percayalah, sampai detik ini itu semua masih jauh dari cukup untuk membuatku menyerah mencintaimu.

Sayangku.
Tolonglah, usir segala rasa tak mengenakkan dari hatimu. Lupakan segala hal yang telah kuberi. Kecuali satu, doaku untuk kebahagiaanmu kumohon kau amini. Biarkan roda kehidupan berputar sebagaimana mestinya. Jangan paksakan diri untuk memenjarakan dirimu dalam ketidakberdayaan. Cintamu terlalu kuat untuk membiarkanku berdiri sendiri pada dua pilihan yang tak serupa.

Sayangku.
Tangguhkanlah hatimu untuk mengambil satu ketetapan bagiku. Tuhan memberikan kuasa padamu untuk mengambil satu pilihanku. Kini, semua tergantung padamu. Terus buatku keras kepala mencintaimu atau membuatku lumpuh tak berdaya hingga melepaskanmu.

Dariku,
yang mengharapkan jawaban terbaik. 

Rabu, 26 Februari 2014

Akhirnya Datang Juga!

Halo Tuan yang suka terlambat!

Akhirnya datang juga surat darimu yang sudah kutunggu sejak kurang lebih dua puluh empat jam yang lalu. Aku pribadi sih bisa memaafkanmu. Karena aku maklum dengan sifat jelekmu yang suka terlambat itu. Tapi entah dengan tukang pos kita, semoga beliau berbaik hati memaafkan keterlambatanmu yang sebenernya sudah keterlaluan itu. Padahal jika kemarin kamu dibilang sibukpun tidak, bukan? Mungkin ulah si gigi geraham bungsu itu semakin membuatmu uring-uringan ya? Sampai suratkupun terlupakan untuk kau balas. 

Baiklah sayang, kurasa tak baik jika terus membicarakan sesuatu yang mengarah pada kelemahanmu itu. Yang terpenting bagiku adalah kamu tetap sehat selalu, meski terkadang lupa mengiringmu pada sesuatu yang buruk. Seperti misalnya lupa mandi dan lupa makan. Ya, libur yang terbilang sebentar ini membuatmu sering dengan sengaja melupakan dua hal rutinitas terpenting dalam keseharian manusia. Seharian di kamar sembari berkelut dengan rasa nyeri di gigi membuatmu malas beranjak dari kamar untuk sekedar menyegarkan tubuh dengan mandi. Kuharap sekembalinya kita nanti pada jadwal kuliah, kamu dapat menghilangkan sifat "lupa mandi"mu itu ya, Sayang!

Bicara tentang kuliah, aku jadi teringat suratmu tadi yang sedikit menyinggung perihal Indeks Prestasi. Ketahuilah sayang, aku sungguh berharap ada kenaikan yang drastis pada nilai-nilaiku di semester lima ini dan sampai seterusnya. Ada motivasi tak kasat mata yang menyerang semangatku untuk terus meningkatkan setiap nilai-nilaiku yang sempat menurun di semester tiga yang lalu. Melalui surat hari ini juga aku memohon dukungan semangat dan doamu agar aku mampu mencapai targetku kelak. 

Oia, kuharap kamu juga memiliki semangat yang sama atau bahkan melebihi semangat yang kupunya ya sayang. Karena biar bagaimanapun, tanggung jawab yang kamu miliki jauh lebih besar dari yang dibebankan padaku. Ingatlah, dalam waktu yang segera kamu harus secepatnya mengambil alih tongkat estafet yang saat ini ada dalam genggaman papamu. Ya, tenang saja sayang. Sebisa mungkin aku akan terus ada di sampingmu untuk mendampingi dan mendoakanmu. Berdoalah, supaya Tuhan yang Maha Baik itu tetap memelihara hubungan kita sebagaimana seperti yang ada dalam rencanaNya.

Sampai disini dulu sayang surat balasanku ini. Semoga harimu menyenangkan dan penuh dengan kebahagiaan. Aku disini selalu mendoakanmu; mendoakan kita. Selamat beraktivitas, Sayang.

Dengan penuh cinta dan kerinduan,
Nonamu di Depok.

Apa Kabar Kak Om Em?

Untuk Om Pos yang baru saja mewujudkan salah satu impiannya, @omemdisini

Apa kabar Kak Om Em?
Oke, aku memulai surat ini dengan sapaan yang sangat ganjil dimana sapaan "Kakak" bersanding dengan "Om". Tak apalah ya. Karena kurasa dirimu terlalu tua untuk kupanggil Om. Menurutku orang yang hidupnya dipenuhi cinta pasti akan terus diliputi kemudaan walau hanya sekedar jiwanya. Dan hal itu tentu berlaku untukmu yang selama bulan merah muda ini terus menerus dikelilingi cinta; cinta yang tersirat dalam surat para pecinta. Aku sok tau? Memang. Ketahuilah aku ini seringkali menciptakan teori yang tak jarang membuat orang-orang di sekitarku menggelengkan kepala. Entah heran, entah kagum. 

Nah kak, bagaimana pertemuan kopi daratmu dengan Banda Naira? Sesuaikah dengan ekspetasi yang kau impikan selama ini? Ah, aku iri denganmu yang sudah meraih salah satu mimpi dengan menginjakkan kaki di tanah impian. Doakan semoga sesegera mungkin aku juga bisa sepertimu; mewujudkan salah satu impian dalam hidup. Dan kuharap salah satu mimpiku dapat terwujud dalam waktu selambat-lambatnya secepatnya.

Baiklah Kak Em, dalam kesempatan bersurat denganmu hari ini aku ingin menyampaikan beberapa hal. Yang pertama, kalau boleh aku ingin meminta sesuatu. Tenang saja, aku bukan meminta oleh-oleh atau sejenisnya. Aku hanya meminta ceritamu saat berbahagia dengan Banda Naira.  Walau hanya sepenggal cerita yang kau berikan aku rasa itu sangat cukup berarti bagi orang-orang yang sedang mendaki menuju puncak mimpi seperti aku ini. Karena tak bisa dipungkiri, motivasi tak melulu lahir dari diri sendiri. Keberhasilan yang diraih oleh orang lainpun kerap menjadi motivasi yang ampuh untuk membangitkan semangat diri.

Yang kedua, aku ingin mengucapkan terima kasih. Karena melalui surat cutimu dengan tulus kau memotivasi para pecinta akun S-V untuk tetap konsisten menulis. Mungkin tanpa kau sadari, keinginan sederhanamu yang terlampir dalam surat cutimu itu telah mengikat diriku pada suatu komitmen untuk tetap menulis sampai program ini selesai. Dan ya, terima kasih sekali kak. Meski rasa jenuh dan pikiran buntu sering menyublim menjadi rasa malas untuk menulis, berkat komitmen yang telah mengikatku itu aku masih tetap berpegang pada konsitensiku dalam menulis selama 30 hari. Hal itu sungguh membuatku puas. Bukan, aku bukan sepenuhnya puas pada tulisanku yang tertuang dalam 39 surat sampai hari ini. Yang membuat puasku menjadi terlalu adalah ketika aku melihat beberapa orang terbahagiakan oleh karena suratku. Sungguh itu lebih dari sebuah cukup untuk membayar waktu yang sulit kudapatkan agar bisa duduk tenang dan menulis sebuah surat.

Yang ketiga, dan yang terakhir dalam surat ini. Aku ucapkan selamat bertugas kembali. Semoga kebahagiaan ketika di Banda Naira tak ikut menguras habis tenagamu. Sehingga dalam 4 hari ke depan dirimu masih terus tetap semangat berkeliling mengirimkan cinta berwujud surat dari para pecinta. Sekali lagi. Ganbatte, Kak Em!

Tertanda,
orang awam yang memberanikan diri ikut program #30HariMenulisSuratCinta.

Selasa, 25 Februari 2014

Kenapa Terhenti?

Untuk pemilik account twitter @sedimensenja

Halo, Kak/ Bang/ Om/ Mas atau mungkin malah Dek. 
Aku tidak tau harus memanggilmu apa, karena jujur saja aku tidak mengenalmu. Dan aku tak punya banyak waktu luang untuk mencari tau siapa kamu. Aku hanya pernah beberapa kali tertarik pada tulisanmu, atau suratmu lebih tepatnya. Mungkin supaya suratku ini lebih nyaman dibaca, alangkah baiknya jika aku menetapkan panggilan untukmu ya. Bagaimana jika kamu kupanggil "Kakak"? Bukan karena aku sok muda atau hendak menuakanmu. Hanya saja aku pernah membaca suratmu yang menyatakan bahwa ini adalah tahun ketigamu dalam mengikuti program #30HariMenulisSuratCinta, sedangkan untukku sendiri, ini adalah tahun pertamaku. Nah, berdasar dari hal itulah aku memanggilmu kakak. Ya, anggap saja aku adalah seorang anak baru yang yang masih lugu dalam program surat-menyurat ini.

Baiklah, mungkin kakak heran kenapa aku mengirimkan surat ini kepada kakak. Alasannya sederhana saja. Aku menanti tulisan kakak yang tertuang dalam surat-surat yang biasa diantarkan oleh Om Em. Entah mengapa sejak tugas Om Em digantikan oleh tukang pos siaganya, aku tak lagi melihat surat dengan kakak sebagai pengirimnya. Kalau boleh tau, kenapa terhenti kak surat-suratmu itu? Apa karena kakak kurang percaya dengan tukang pos yang menggantikan Om Em? Aku harap bukan itu alasannya. Karena tukang pos yang satu ini sama baiknya kok dengan Om Em. Mereka sama tulusnya dalam mengantarkan surat-surat dari para pecinta.

Nah, masih ada waktu beberapa hari lagi sebelum program #30HariMenulisSuratCinta ini selesai terlaksana. Semoga sebelum program ini usai aku dapat menikmati lagi untaian aksara dalam surat-surat cintamu. Hmm sepertinya sampai disini dulu surat dariku, Kak. Terima kasih karena telah menyempatkan waktu untuk membaca suratku ini. Maafkan aku jika ada kesalahanku meracik kata dalam surat ini.

Tertanda,
penikmat suratmu.

Senin, 24 Februari 2014

Seharusnya Besok Kau Berulang Tahun

Untukmu yang saat ini (kuyakini) sedang menari di Surga,
kak @aliffamaria...

Kak Maria, sudah hampir setahun aku tidak melihatmu. Apa kabarnya kamu disana, kak?Aku disini baik-baik saja, walau jujur rindu padamu tak bisa lagi terbantahkan. Kurasa, bukan hanya aku tapi semua teman dan keluargamu pasti juga rindu akan hadirmu. Mungkin beberapa di antara kami masih ada yang belum sepenuhnya sadar bahwa dirimu sudah tak ada lagi di muka bumi ini. Ya, hal itu mungkin saja terjadi karena pribadimu yang begitu kuat terpatri dalam ingatan kami.

Kak, seandainya dirimu masih di sini sekarang kau pasti sudah mendapat gelar sarjana psikologi. Ah, sungguh kasihan kampus kuning itu. Mereka pasti kehilangan dirimu yang merupakan salah satu mahasiswi terbaiknya. Bagaimana tidak, tanpa perlu terus berada di dekatmupun aku tau ketekunanmu dalam menimba ilmu. Bahkan dengan sengaja kau tularkan semangatmu itu ke teman-temanmu yang lainnya. Aku masih ingat betul bagaimana kakak mencari tau letak rumahku hanya untuk mengantar temanmu yang perlu mewawancarai anak seusia sepupuku untuk tugas akhirnya. Kebaikanmu itu sungguh terlalu, Kak.

Hari ini tanggal 24 Februari, tepat esok hari seharusnya usiamu sudah memasuki angka 22 tahun. Usia yang terpaut tidak terlalu jauh denganku. Tapi entah mengapa tingkat kedewasaan kita sungguh jauh berbeda. Ya, itu menurut penilaianku sendiri sih, entah dengan yang lainnya. Dan sangat disayangkan, besok tak akan ada yang bisa mengucapkan selamat ulang tahun secara langsung padamu meskipun ingin. Hmm, rencana Tuhan memang sulit untuk diselami oleh akal manusia yang terlalu sempit ini. Kak, sebetulnya saat pertama kali mendengar dirimu sudah berpulang ke Rumah Bapa, ada sesuatu dalam diriku yang ingin memberontak. Ada keinginan yang sangat besar untuk memprotes keputusan Tuhan yang satu ini. Terlebih usiamu yang masih muda itu sangat kusayangkan untuk terhenti secepat itu.

Tapi apalah dayaku. Sebagai seorang manusia aku hanya bisa mengambil sepercik pelajaran dari setiap kejadian yang terjadi di sekitarku. Melalui "kepulanganmu" aku belajar bahwa hidup di dunia ini sewaktu-waktu dapat terhenti sesuai maunya Tuhan. Dan melalui "kepergianmu" yang terlalu cepat, aku jadi mengerti bahwa umur terlalu berharga untuk dirayakan hanya setahun sekali. Karena pada dasarnya umur kita dapat bertambah (atau tepatnya berkurang) setiap harinya itu merupakan anugerah yang sangat besar yang dapat kita terima.

Sejujurnya sampai detik inipun aku masih membutuhkanmu. Banyak pemikiran dan tindakanmu yang memberi kontribusi tak terhingga bagi program-program komisi Pemuda di Gereja. Tapi sekali lagi apalah dayaku? Dia, Sang Empunya mungkin lebih menginginkanmu untuk berada di dekatNya. Yang aku bisa lakukan sekarang hanyalah percaya. Percaya bahwa dirimu telah bahagia di sisiNya. Dan selagi menunggu waktu panggilanku tiba, aku akan coba untuk terus membperbaiki diri. Melakukan setiap pekerjaan yang baik untuk kemuliaanNya. Ya, aku belajar banyak darimu, Kak. Meski masih muda aku tak bisa bermain-main lagi, karena maut tak pernah mengenal usia.

Baiklah, aku akan mengakhiri surat ini. Ada beberapa ide yang dulu sempat tercetus darimu harus kukerjakan saat ini. Aku tau, kakak tidak akan membaca surat ini apalagi sampai membalasnya. Biarlah surat ini hanya sebagai pertanda bahwa ketiadaanmu pun memberi dampak yang berarti. Aku merindukanmu, Kak. Surat inipun kuakhiri dengan sebulir air mata yang menetes di pipi.

Sampai berjumpa lagi, Kak Maria.
Kelak kita akan bertemu di pelataran singgasana kerajaan terindah; di Surga.

Salam rindu dariku,
gadis yang menurutmu terlalu koleris.

Mungkin ini Mengenai Jarak

Selamat pagi, Tuan yang sedang uring-uringan.

Sayang, ketika aku membaca suratmu kemarin aku sempat tersenyum-senyum sendiri. Bukan, bukan karena aku senang melihatmu kesulitan menghadapi si gigi bungsu. Tapi yang sedikit lucu bagiku adalah entah mengapa kamu si sulung ini sering kesulitan sampai uring-uringan saat menghadapi yang bungsu-bungsu. Seperti aku misalnya. Jangan memungkiri, Sayang. Yang bungsu memang seringkali sulit untuk ditaklukan. Hihihi

Baiklah, lupakan soal si gigi bungsu itu. Toh itu adalah proses alami yang akan dialami oleh manusia normal yang hendak beranjak dewasa. Bersyukurlah sayang, karena dari ceritamu kemarin proses tumbuhnya gigi bungsumu ini terbilang sangat cepat. Apalagi bila dibandingkan denganku. Proses pertumbuhan gigi geraham bungsuku ini sangatlah lamban. Di satu waktu ia berulah, memunculkan diri dengan disertai rasa sakit selama seminggu lebih. Lalu di bulan lainnya ia kembali berulah dengan pola yang sama. Dan sebalnya lagi, rasa sakit yang ada itu tidak terbalas, karena gigi bungsu yang tumbuh itu hanya muncul kurang dari setengah ukuran gigi geraham lainnya.

Sayang, pagi ini agak kurang menyenangkan untukku. Kukira pagi ini kesehatanku mulai membaik, tapi nyatanya aku masih pusing dan beberapa kali sesak nafas. Dan anehnya kamu malah berkata bahwa penyebab sakitku ini adalah karena rinduku padamu. Astaga, kamu pikir rindu yang menumpuk ini bisa menghalangi oksigen untuk beraktivitas di dalam tubuhku? Bisa jadi sih kalau rindunya sudah sekarat sampai berbulan-bulan tak bertemu. Tapikan kita baru beberapa hari tidak bertemu, tidak sampai seminggu. Jadi kurasa, bukan itu alasannya. Semoga saja ini bukan pertanda aku mengidap penyakit yang aneh-aneh.

Oia, pagi ini juga aku melihat berita di televisi mengenai geng motor yang merajalela di wilayah Bekasi. Dan setelah itu juga disiarkan berita mengenai himbauan warga Depok untuk berhati-hati pula terhadap geng motor. Entahlah, kedua berita itu sangat membuatku khawatir. Selain karena berita itu menandakan bahwa kedua kota tempat kita beraktivitas sudah tidak aman, titik rawan geng motor itu adalah jalan-jalan yang biasa kamu lalui untuk menemuiku. Apakah begitu beratnya perjuangan yang harus kamu lalui untuk menemuiku? Oke, aku berlebihan.

Hmm, apapun  yang menjadi halangan untuk kita bertemu aku harap itu tidak mengurangi intensitas komunikasi kita ya, Sayang. Karena biar bagaimanapun ada hal yang bisa kita syukuri dari jarak yang memisahkan keberadaan kita. Pertama, kita bisa bersyukur karena jarak yang memisahkan tempat tinggal kita itu masih bisa ditempuh dalam hitungan jam oleh kendaraan bermotor. Kedua, jarak yang terpaut di antara kita dapat menyadarkan kita bahwa waktu temu yang Tuhan izinkan ada di antara kita itu berharga adanya. Jadi, jangan kita sia-siakan waktu pertemuan kita yang tak sering itu. Ketiga, jarak tidak sekejam yang kita duga. Ia tidak dengan sengaja memisahkan kita, tapi itu memang alur yang Tuhan buat untuk membuat kita tetap berada pada tempat kita masing-masing dan mengerjakan pekerjaan yang sudah Ia tetapkan bagi kita.

Sejujurnya, baru kali ini rasa syukurku disebabkan oleh jarak. Terlebih saat ini juga terdapat beberapa ancaman dalam jarak yang memisahkan kita. Ya beruntunglah kamu jika saat ini aku lebih banyak bersyukur dibanding mengeluh karena jarak. Sebab seperti yang kamu tau, aku kurang bisa sabar jika harus berbicara soal jarak. Karena jarak dan waktu akan menyublim menjadi sebuah rindu. Semoga saja besok atau mungkin nanti menjelang sore akan ada berita baik yang dibawa oleh para aparat kita mengenai ulah nakal geng motor tersebut. Supaya tak ada lagi rasa cemas dan khawatir yang menyatu dengan gebu rindu saat akan bertemu denganmu.

Baiklah, Tuan. Sampai disini dulu suratku hari ini. 
Semoga harimu menyenangkan ya, Sayang!

Peluk dan rindu tercurah melalui doa bagimu.
Dari Nonamu di Depok. 

Minggu, 23 Februari 2014

Surat yang Tak Perlu Dibalas

Untukmu yang sedang menimba ilmu di Negeri Kangguru.

Halo, apa kabar kamu?
Sepertinya aku tak perlu menyebutkan siapa kamu. Orang yang mengenal baik diriku pasti tau kepada siapa surat ini kutujukan. Hari ini tanggal 23, tanggal yang pernah begitu berarti dalam 50 bulan kebersamaan kita, dulu. Kalau kamu ingatpun, surat terakhir yang kutujukan padamu itu juga tertulis di tanggal 23. Dan kalau ditelusuri lagipun kisah kita juga berakhir di tanggal yang sama.
Tapi... Hei! Siapakah aku ini yang dengan beraninya lancang berkata tamat pada suatu kisah yang diguratkan oleh sang Pencipta. Kita sama-sama tidak akan tau apa yang menjadi akhir dari kisah yang terdapat aku dan kamu di dalamnya. Biarlah Tuhan yang Esa itu yang akan menentukan akhir dari cerita kita, masing-masing.

Kudengar, kamu sudah selesai menempuh program Diplomamu ya? Dengan penuh ketulusan aku ucapkan selamat untukmu. Sungguh, aku turut senang dengan kelulusanmu. Tentunya aku juga ikut bangga dengan nilaimu yang terbilang sempurna itu. Pertahankanlah itu sampai ke jenjang strata satumu. Aku yakin tanpa perlu kuingatkan lagi kamu pasti akan menjalani studymu sebaik mungkin. Kau tau, tanpa perlu berucap pun kamu sudah menularkan semangat belajarmu padaku. Ya, kamu memang seseorang yang bisa kujadikan teladan yang baik. Perjuanganmu hidup sendiri di negeri orang tak bisa dipungkiri membuatmu semakin dewasa dan mandiri dalam segala hal.

Kalau aku boleh tau, apa kegiatanmu sekarang ini? Kuharap, di tengah kesibukanmu kamu masih tetap setia dengan pelayanan yang telah Tuhan percayakan padamu ya. Jujur, sesekali aku merindukanmu disini. Sebagai apapun aku, aku masih merindukanmu. Walaupun bisa dibilang rinduku ini bukan hanya untukmu. Rinduku ini juga terbagi kepada keluargamu, terlebih kepada kedua kakak perempuan dan ibumu. Aku sering mengharu bila mengingat kebaikan mereka semua padaku. Betapa mereka tulus menyayangiku seperti adik dan anak mereka sendiri. Ketahuilah, kalian semua -tak terkecuali papa dan abangmu- masih sering aku sebut dalam setiap rapal doaku.

Meski begitu, terkadang aku suka bertanya di dalam hati. Mungkinkah dalam jarak yang sejauh ini kita masih saling mendoakan seerat dulu? Terlebih ikatan yang ada sudah tak lagi mengharuskan kita untuk saling membangun di dalam doa. Bukan, pertanyaanku itu bukan berarti aku pamrih dalam hal mendoakanmu. Hanya saja, seringkali aku merasa mujur jika didoakan olehmu. Sebagai teman, bolehkah aku meminta diri untuk terdaftar dalam doamu? Sederhana saja, aku hanya ingin didoakan agar aku bisa lebih dewasa lagi dalam menjalani hidup. Karena seperti yang kamu tau sejak dulu, hidup yang kujalani terkadang terlalu berat untuk dilampaui. 

Ah, terkadang aku ingin sekali berbagi cerita denganmu. Ya, sebagai apapun asalkan tidak ada yang merasa tersakiti. Dengan tiadanya kamu aku suka linglung harus bercerita kepada siapa. Sulit menemukan seseorang yang bisa membuat hati ini membebaskan perasaannya untuk bercerita. Akhir-akhir inipun ingatanku terdampar ke kamu karena beban yang menumpuk di pikiranku sudah mengendap terlalu lama. Aku butuh sedikit pencerahan agar bebanku bisa sedikit berkurang, dan aku tau pencerahan itu bisa kudapat dari nasehatmu. Tapi tenang saja, aku tau diri sekali. Tak mungkin aku meminta kamu menyediakan waktu hanya untuk mendengar keluh kesahku.

Oia, apa kamu mau tau satu hal tentangku? Sekarang aku semakin senang menulis. Terpujilah Tuhan karena Ia mempertemukanku dengan seseorang yang bisa membimbingku untuk tekun menulis. Dan jangan khawatir, meski tadi aku sempat mengeluh tentang beban hidupku, aku tetap baik-baik saja. Seperti janjiku dulu saat berucap pisah denganmu. Apapun yang terjadi, aku akan tetap baik-baik saja. Sebelum kuakhiri surat ini, ada satu hal lagi yang ingin kusampaikan. Banyak salam yang dititip padaku untukmu. Aku hampir lupa dari siapa saja itu. Yang pasti mereka semua merindukanmu.

Baiklah. Mungkin sebaiknya kuakhiri suratku ini sampai di sini. Aku harap kamu baik-baik saja disana. Jagalah kesehatanmu dan cepatlah kembali. Banyak orang yang menantikan kepulanganmu, termasuk aku. Dan kamu tak perlu membalas suratku ini. Cukup kamu pulang dengan kesuksesan, itu sudah lebih dari cukup untuk membalas suratku. Sukseslah kamu dengan segala usahamu. Doakan aku agar juga memiliki kesuksesan yang sama bahkan lebih darimu. Akhir kata, sampai berjumpa lagi di bulan Desember!

Dengan penuh kasih,
Vierena.

Sabtu, 22 Februari 2014

Hujan

Kepada hujan yang masih terus mengalir dari mata langit.

Hujan, aku selalu suka caramu hadir membasahi tanah.
Airmu yang meresapi tanah menguarkan wewangian basah yang menyeruak di paru-paruku.
Memberi efek terbukanya memori ingatan lampau di dalam kepala.
Memaksa diri untuk memproyeksikan lagi suka dan sakit yang telah menjadi kenangan.

Hujan, aku selalu suka caramu yang hadir beramai-ramai.
Gerimismu bersehati menghujam tanah tanpa maksud menyakiti.
Tapi entah mengapa ramaimu selalu mengundang sepi di sekitarku.
Hanya bulir kenangan yang turut menyertai airmu yang menjadi teman setiaku.

Hujan, aku selalu suka caramu bermain dengan waktu.
Tanpa peduli apapun kamu datang mengguyuri bumiku.
Membasahi tubuh yang tak siap dengan kedatanganmu.
Memperlambat bahkan menghentikan langkah mereka yang terdesak oleh waktu.

Hujan, aku selalu suka caramu menyeretku ke dalam keteduhan.
Airmu memaksaku untuk berteduh dan mencari ketenangan sejenak.
Berkat itu, kamu selalu memberi kesempatan yang tepat untukku bergulat dengan waktu.
Melamunkan sesuatu yang mungkin terlewati namun mengendap di hati.

Hujan, aku selalu suka caramu berhenti.
Kamu datang dengan kesopanan penuh arti.
Membawa awan kelabu sebagai pengiring mentari pergi.
Dan pulangpun kamu sengaja membawa pelangi.
Sebagai pertanda bahwa langitmu tak lagi bersedih.

Hujan, selepas kamu pergipun aku tetap tak mengerti.
Mengapa kenangan ini tak ikut luruh bersama aliran airmu yang mulai mengering?
Ah, kau mungkin juga tak tau hal ini.
Bahwa tak hanya pelangi yang tercipta karena pergimu, tapi juga rindu.

Hujan, kini langit telah usai mencurahkan airmu.
Bisa jadi ia lelah menumpahkan rintikmu.
Tapi disini masih ada yang terus membasahiku.
Hujan dari mataku.

Belajar dari Smurfette

Dear, my numero uno; Tuan Uno Telaumbanua...

Selamat pagi, sayang.
Saat aku mengetik surat ini untukmu, hujan deras sedang menyelimuti kota Depok sedari tadi. Bagaimana dengan keadaan cuaca di kotamu? Semoga tidak sesendu awan di kota Depok ya. Karena cuaca yang dingin ini mengakibatkan tumpukan rindu di hatiku semakin menggunung. Jangan tanya rinduku pada siapa. Sudah tentu muara rinduku ini tertuju ke kamu. 

Sayang, seperti yang pernah aku katakan dalam surat-surat sebelumnya bahwa banyak sekali perbedaan di antara kita yang membuat kita kesulitan dalam membangun komunikasi yang baik. Seperti kemarin misalnya, aku melakukan kesalahan yang fatal dalam memahami suratmu. Untuk itu aku mohon maaf ya, sayang.

Baiklah, jika kemarin kamu mengambil sebuah intisari dari kisah film Robocop. Kali ini aku akan membawamu jauh ke momen pertama kita saat menonton film. The Smurfs! Apalagi kalau bukan film itu yang sampai kini masih membekas jelas di ingatanku. Kamu tau sendirilah, selain karena aku menyukai film animasi, aku juga suka berimajinasi. Film the smurfs mampu membangkitkan daya imajinasiku dengan begitu hebat. Bahkan kalau boleh, aku ingin sekali berada di posisi Patrick yang bisa dengan begitu akrabnya berteman dengan para Smurfs. Atau, sesekali aku ingin mencoba untuk bisa masuk ke dunia Smurfs yang setiap harinya penuh dengan keriangan, sukacita dan persahabatan.

Oke, sepertinya aku mulai melantur.

Dalam surat ini aku bukan ingin membuat kamu bosan terlebih jengah dengan khayalanku yang terkadang tidak bisa kamu mengerti. Disini aku ingin mengajakmu; dan juga aku sendiri, belajar dari seorang Smurfette. Si gadis yang paling cantik di antara para makhluk biru lainnya ini memiliki sifat perasa yang hampir setingkat denganku. Masih ingatkah kamu, awal mula konflik di film The Smurfs ini dimulai dari Smurfette yang merasa bahwa teman-temannya telah melupakan hari ulang tahunnya. Padahal di balik sikap dingin teman-temannya itu mereka telah mempersiapkan sesuatu yang snagat istimewa untuk Smurfette. Dan hal itupun langsung dimanfaatkan oleh si penyihir jahat, Gargamel.

Ya, sepertinya aku tak perlu menjelaskan sinopsisnya seperti apa. Toh kita berdua sudah menonton habis film itu. Yang mau aku tekankan disini adalah bahwa melalui sifat Smurfette yang hampir sama denganku, aku belajar sesuatu. Aku belajar untuk tidak membiarkan perasaanku menjadi liar tak terkendali hanya karena sebuah pandangan yang terlihat dari satu sisi. Contoh nyatanya adalah aku yang sering merasa takut padamu kalau kamu sudah diam tanpa suara, aku merasa bersalah sendiri dan akhirnya aku meminta maaf tanpa sebab musabab yang jelas kepadamu. Padahal diamnya kamu itu belum tentu karena kesalahanku.

Nah, sayang. Aku memang belajar dari Smurfette. Tapi kamu taukan betapa sulitnya berproses untuk mempelajari sesuatu. Ya, meskipun aku sudah lama belajar untuk mengubah sifatku yang satu itu tapi tetap saja sampai sekarang sepertinya tidak ada perubahan sedikitpun. Aku harap kamu bisa memakluminya ya, Sayang!

Oia, dalam surat ini aku sekaligus ingin memperjelas bahwa aku yakin dengan sifat kita yang jauh berbeda ini, kita masih bisa bergandengan tangan melangkah bersama menuju masa depan yang indah. Lagipula, aku ingin lihat akan Tuhan buat seperti apa hubungan si nona perasa dan tuan yang cuek ini.

Baiklah sayangku, hujan semakin mendukung udara dingin untuk menusuk kulitku. Aku ingin segera berlindung di balik selimut. Selagi libur, aku ingin memanfaatkan hari ini untuk bersantai dan memanjakan diri. Semoga kamu juga bisa bersantai ya di hari ini. Aku menyayangimu!

With love,
your Nona.

Jumat, 21 Februari 2014

Seandainya

Untukmu yang seandainya ada di sampingku kini.

Kamu, seandainya kamu membaca surat ini, kumohon jangan tertawa.
Karena andaikan kamu tau betapa ada rindu yang tertumpuk di dada kala senyum merekah di bibirku.
Aku hanya bisa berandai kamu merasakan hal yang sama denganku.
Walau aku tau mungkin rasa itu sudah terkikis karena basi di hatimu.
Seandainya saja aku bersabar menantimu.
Pastinya aku tak hanya berlarian dalam angan saat ini.
Entahlah, tak ada obat rindu yang lebih ampuh dari temu.
Berandai tentangmu pun malah semakin memicu rindu.
Seandainya saja aku ada di sampingmu sekarang.
Meski sedih pasti akan banyak usahamu untuk melemparku ke dalam wahana kebahagiaan.
Ah, seandainya dulu aku tau hebatnya rasa kehilanganmu.
Mungkin tak sampai hati aku merelakanmu pergi.
Seandainya saja aku tau bahwa tak ada yang lebih baik darimu.
Aku pasti tetap mempertahankanmu sampai mati.
Ya Tuhan, seandainya saja waktu dapat diputar kembali.
Tapi aku tau itu tak mungkin.

Yaaa, semua hanya tinggal seandainya...
Seandainya di masa depan kita bertemu,
kuharap kamu masih tetap menatapku dengan cara yang sama.

Dariku, yang seandainya saja berani berucap langsung padamu bahwa aku rindu.

Kamis, 20 Februari 2014

Santai Saja

Dear Tuan yang tak punya mimpi.

Sayang, apa gerangan yang membuatmu terburu-buru?
Segitu kejamnya kah hari mengancammu untuk segera berburu waktu?
Tak habis pikir aku dengan hidupmu yang tanpa mimpi itu.
Apakah dunia yang kau jalani begitu indah hingga kau tak perlu lagi fiksi untuk kau khayalkan?

Sayang, janganlah terburu-buru menghempaskan mimpi dari hidupmu.
Tanpa kau tau mimpi memiliki kekuatan magis untuk menambah semangatmu.
Kelak mimpilah yang akan merengkuhmu pada pelukan masa depan.
Lagipula, bukankah dewi fortuna berteman baik denganmu?
Jadi, tak usahlah kau ragu untuk bermimpi.

Kupikir, Tuhan tak akan setega itu sampai tak memberimu mimpi indah.
Pasti dengan lapang Ia akan memberimu ruang untuk mencipta mimpimu sendiri secara sadar.
Beranilah menjadi pencipta bagi mimpimu sendiri, kamu diberi kehendak bebas untuk itu.
Jangan terburu waktu, rileks dan santai saja.
Perlahan, susun mimpimu serapi dan setinggi mungkin, lalu kolaborasikan dengan mimpiku.

Dan kalau kugali lagi memoriku.
Bukankah kamu yang sedari awal mengajariku bermimpi?
Bagaimana mungkin kemarin kamu bisa berkata bahwa kau tak memiliki mimpi?
Atau mungkin itu sebuah isyarat bahwa kamu mau berduet denganku untuk membangun sebuah mimpi yang baru?

Jika iya, ayo kita lakukan.
Santai saja, tapi jangan sampai buang waktu lama.
Cukup kita renda sebuah mimpi sederhana.
Tak usah megah, cukup kita berdua yang mencipta itu juga sudah istimewa.
Dan ketika akan mengakhiri surat ini, muncul suatu ide baru lagi untuk bermimpi.
Aku berimpian untuk bisa menulis lagi setelah ini, denganmu tentunya.

Bagaimana sayang, berminat untuk menjadi rekanku dalam mewujudkan mimpi itu?
 
With love,
aku,
Nona yang masih saja suka bermimpi.

Pagi yang Kurindukan

Untukmu pagi...

Selamat siang, pagi.
Apa kabarmu beberapa minggu terakhir ini?
Sudah lama kita tidak berjumpa atau sekedar menyapa lewat doa.
Belakangan ini tubuhku terlalu lemah melawan godaan hangat selimut.
Sehingga untuk melepasmu pergipun aku tak sempat.

Pagi, betapa aku sungguh merindukanmu.
Kamu yang selalu menyiratkan pesan Tuhan yang tersurat melalui dirimu.
Pesan bahwa aku masih bisa menjalani hari dengan hadirmu.
Rinduku menumpuk pada langitmu yang biru.
Entah kapan pasti rindu ini akan terolah beku tanpa sebuah temu.

Pagi, ada yang hilang ketika aku tak lagi menjadi penikmatmu.
Aku kehilangan gairah untuk menyiarkan semangat pada dunia tanpa embunmu.
Tak terhitung detikku terbuang sia-sia tanpamu.
Geloraku untuk bercumbu dengan sinarmu telah lenyap ditelan kantuk.
Dengan lancang panas matahari siang merenggut tugasmu untuk membangunkanku dari mimpi.

Pagi, terlalu aku merindu pada sunyimu.
Sunyimu yang mampu mengiris benci yang sehari semalam telah menggerogoti hati.
Sunyi yang tak melulu menjadi pertanda bagi sepi.
Sunyimu yang menjadi prolog bagi pejuang yang bersaing dalam cinta.
Ataupun epilog untuk mereka yang terlelap dalam hempasan luka patah hati.

Pagi, masihkah pesonamu indah untuk menjadi pembuka hari?
Sesal hatiku melewatkan alunan harva malaikatmu yang dulu tak jarang menyapaku.
Meski enggan kini terbiasalah aku disambut oleh terik sang raja siang.
Namun tetap saja tak timbul cinta dari pola yang biasa itu.
Matahari yang tersipu malu tetap menjadi indah yang pertama.
Ah, salahku memang karena tak luangkan waktu untuk menemuimu seperti dulu.

Pagi, dekaplah erat tubuhku ketika kita bertemu nanti.
Mungkin esok atau lusa aku akan menemuimu meski tanpa janji.
Gerimis hujan, hangat mentari atau siapapun yang menjadi pengiringmu, aku tak peduli.
Yang terpenting hadirlah kamu dan kita saling menemui.
Aku merindukanmu, maafkan aku yang mulai sering mengabaikanmu.

Dariku,
yang sedang merindu... 

-Ditulis ketika bangun siang sudah menjadi kebiasaan-