Senin, 27 Januari 2014

Debar yang Kembali (Oleh: Suno Christiawan dan Vierena Tirza)


Tuhan memberikan keajaiban, yaitu : Cinta pandangan pertama
yang selalu disangsikan banyak orang, termasuk aku.
Di tengah segala hal tersebut, Tuhan menghukum aku.
Aku dibuat berkali-kali mencintai seseorang pada pandangan pertama.
-Christian Sandiego
Christian Sandiego, namaku tertulis di daftar peserta yang diterima dalam Open Recruitment BEM Sanata Darma region Bekasi. Sebagai mahasiswa yang tidak hanya ingin menjadi kupu – kupu alias kuliah-pulang-kuliah-pulang, diterima dalam organisasi bergengsi incaran banyak mahasiswa ini menjadi berkat tersendiri yang pastinya akan mewarnai segala macam aktivitas perkuliahanku. Sudah aku bayangkan bahwa kehidupan perkuliahanku tidak akan membosankan, akan ada banyak pengalaman yang menantiku di waktu depan, dan siapa yang tahu akan ada cerita cinta yang terselip dalam kehidupanku di saat aku berada dalam organisasi ini, who knows?. Aku tersenyum senangAh, perjuanganku tak sia – sia, thank God aku bersyukur dalam hati.
***
Viva Fielicha Stania, namaku tertulis di daftar peserta yang diterima dalam Open Recruitment BEM Sanata Darma region pusat. Baguslah, keisengenku dalam mencoba peruntungan untuk lolos ke dalam organisasi mahasiswa ini berbuah manis. Walau sejujurnya niatanku dalam bergabung dengan organisasi ini bukan hanya semata – mata ingin menjadi aktivis atau memberikan sedikit tuah pada kampusku.Melainkan, percobaan untuk mencari kesibukan agar segala macam pikiran dan perasaanku teralihkan dari masa lalu yang begitu pahit. Ya, pahit! Hingga membuatku membangun tembok tebal pembatas antara ruang cintaku dengan para pengisinya.Setidaknya aku akan melupakan dia secepatnya seloroh batinku.
***
“Chris, acara job fair nanti keuangannya tolong laporin ke gue ya!,” pinta seorang perempuan yang parasnya sedari awal rapat perdana BEM membuat hatiku kikuk.
“Iya Ndra, nanti gue minta koordinator perlengkapan laporin pengeluaran dulu, nanti baru gue report ke elo,” balasku mencoba untuk tenang mengendalikan hati yang terlanjur salah tingkah.
“Okay, ditunggu,” ucapnya singkat dan langsung pergi mengurus hal lain.
Diandra adalah salah satu dari mahasiswa yang namanya tercatat sebagai pendaftar yang diterima masuk dalam BEM Sanata Darma region Bekasi.Otomatis, dia menjadi rekan kerjaku dalam organisasi ini.Sedari awal pertemuan pertama anggota baru, Diandra lah yang mencuri segala pandangan dan perhatian, termasuk juga minat hatiku.Rambut hitam panjang, kerlip mata yang indah, bibirnya kecil yang berwarna merah, dan sedikit lesung pipi yang terpaket lengkap pada wajahnya jelas mengetuk pintu ketertarikan hatiku kepada dirinya. Tapi, apa daya. Segala macam kekagumanku terbentur pada kenyataan, bahwa yang menyukai Diandra tak hanya aku, melainkan sahabatku sendiri di kelas maupun di organisasi ini, Rexy.Aku tak mungkin menikung sahabat sendiri.
***
            “Seriusan lo tolak, Cha?”
“Iya serius, kenapa emangnya?Ngga harus diterima jugakan kalo emang ngga ada rasa?”
“Ah, parah sih lo Cha.Padahal dia perfect banget loh.Lo sih trauma lama masih aja dibawa-bawa.”
Trauma?Aku hanya tersenyum untuk membalas ucapan Mala, sahabat terdekatku di kampus.Dialah diary berjalan yang selama ini selalu menjadi tempat aku menumpahkan semua cerita-ceritaku, khususnya tentang cinta. Dan dari seluruh cerita yang aku sampaikan, hanya satu kata yang menjadi kesimpulannya tentangku: trauma.
Coba bayangkan saja.Empat tahun sudah aku lewati bersama dia, tapi dia tetap tidak mengerti bahwa tidak ada harapan yang dapat aku pertahankan dalam jarak yang terlalu jauh untuk kami jalankan.Janji-janji dan rencana mengenai pertunangan kami setelah kuliahku selesai, sekarang hanya tersisa menjadi luka.Aku kalah melawan waktu dan jarak yang memisahkan kami.Aku putuskan begitu saja hubungan cinta kami secara sepihak karena kini cintanya hanya tinggal bayang-bayang saja dalam hatiku.
            Apa salah aku merasa sepi dan kini sulit untuk membuka hati bagi pria lain? Aku sudah mati rasa menahan segala sakit yang mengoyakkan perasaanku ini.Aku tidak butuh orang baru yang datang untuk membalut luka atau mencoba menyembuhkan, aku tidak butuh itu.Aku hanya butuh sendiri dan mencoba untuk menepi.Melupakan kata “kita” antara aku dan dia yang kini telah mati karena terhempas jarak dan banyaknya janji.
***
            “Chris lo mesti bantuin gue ya deketin Diandra!,” Rexy menggebu – gebu memintaku untuk menolongnya mencari cara untuk menyatakan perasaannya pada Diandra.
            Aku hanya mengangguk – angguk malas dan mencoba untuk menahan segala kesal yang tertahan ketika nama Diandra terluncur jelas dari mulut sahabatku ini. Aku mengerti bahwa tidak salah bila Rexy menyukai Diandra, tidak salah bila Rexy memintaku untuk membantunya menyatakan perasaan, dan tidak salah bila nanti Rexy dan Diandra berpacaran. Yang salah adalah, aku! Aku yang salah karena hanya berani mencintai Diandra diam – diam, aku yang salah karena tak berani mengungkapkan atau setidaknya memberi kode kepada Diandra bahwa aku menyukainya, bahkan aku yang salah karena tidak mem-block rasa suka Rexy terhadap Diandra padahal akupun menyukai perempuan yang sama. Aku yang terlalu takut.
            “Iya Rex, iya…” Aku menjawab sebaik mungkin mengingat bahwa sahabatku sendirilah yang meminta bantuan menunjukkan keberaniannya, bukan seperti aku yang tak punya nyali.
            Tring! handphone Rexy berbunyi, menandakan ada satu chat message masuk.
            Rexy yang terlalu sibuk dengan rencana penembakan terhadap Diandra tidak mengindahkan handphonenya, dia masih terlalu di mabuk cinta dan sangat merasa bahagia.
            Aku mengecek handphone Rexy, membuka fitur chat messenger, dan mendapatkan V. Icha Stania sebagai profile name.
            “Siapa Chris?,”
            “Icha Stania,”
            “Oh, yaudah balas aja. Dia ngomongin Festival Musik bikinan BEM pusat kan ya?,”
            Jujur aku tak mendengar apa yang diucapkan oleh Rexy setelah dia bertanya siapa yang mengirimkan chat message kepadanya. Aku terlalu sibuk melihat profile picture yang sengaja aku buka, dan kini menampilkan sosok wajah perempuan yang sebelumnya tak pernah aku lihat. Aku tersenyum, cantik bisikku dalam hati.
***
Tugas! Aku lupa membawa tugasku untuk mata kuliah Pengantar Bisnis! Sudah seminggu yang lalu Dosen memberikan tugas pribadi kepadaku sebagai pengganti absensiku saat membolos dua kali pertemuan dalam mata kuliahnya.Sudah bagus dikasih kesempatan sekarang aku malah lupa membawa tugasnya, aduh gimana ini!!! Tinggal sepuluh menit lagi sampai jam mata kuliahnya dimulai!, aku menggerutu sendiri dalam hati sambil kebingungan harus berbuat apa. Ketika aku hendak mengeluarkan hand phone untuk menghubungi Mala, tiba-tiba saja aku tersentak oleh teguran seseorang.
“Cha, ngapain disini?Yuk masuk, Bu Eva sebentar lagi masuk.”Seseorang yang sangat kuhapal garis wajahnya ini menegurku dengan lembut.
“Jo, aduh gini Jo…” Aku cemas tidak tau harus berkata apa pada Johan, salah satu teman sekelasku ini.
“Kenapa, Cha?” Tanya Johan menatapku dengan tatapannya yang teduh.
“Hmm gini Jo, lo ingetkan gue udah dua kali absen mata kuliahnya Bu Eva? Gue dikasih kesempatan buat ganti absen gue dengan tugas Jo.Tapi sekarang gue lupa bawa tugasnya. Aduh, gimana nih ya Jo? Gue pasti kena omel deh.”
“Loh Cha! Ayo cepetan kita ambil tugas lo itu!”
“Kita?” kataku seraya menunjuk ke arah Johan dan diriku sendiri.
“Iya, kita! Nggak mungkin kan lo balik ke rumah naik angkot. Makan waktu banyak Cha! Udah mending sekarang lo gue anter ke rumah buat ambil tugas lo itu.”
“Eh tapi, nanti kita...”
Udah Cha, ayo cepetan! Jangan buang waktu!” belum selesai aku berkata-kata, Johan sudah menarikku ke arah parkiran motor.
Dalam perjalanan aku hanya bisa memikirkan bagaimana resiko kalau kami telat. Aku ingat betul peraturan yang diberikan oleh Bu Eva, beliau hanya mengkompromi Mahasiswa yang terlambat lima menit setelah ia masuk kelas. Selebihnya, jangan harap bisa ikut mata kuliahnya pada hari itu.
“Nggak usah takut, Cha.Kita pasti bisa masuk kelas kok.” Johan membuyarkan pikiranku, seolah-olah dia bisa membaca apa yang sedang aku pikirkan.
“Gue Cuma nggak enak aja sama lo, Jo. Gara-gara gue nanti lo bisa ikutan telat juga.”
“Ya ampun, Cha.Apa sih yang ngga buat lo?” Johan tertawa sembari melajukan sepeda motornya dengan kecepatan yang lebih tinggi.
Johan, pria yang punggungnya ada di hadapanku ini memang selalu menaruh perhatian padaku.Sudah tiga minggu sejak Johan menyatakan perasaannya dan memintaku untuk menjadi kekasihnya, aku menolaknya.Tapi entah mengapa sampai sekarang Johan masih tidak mengubah sikapnya kepadaku.Seperti biasa, aku masih tetap diistimewakannya.Padahal banyak wanita cantik di kampus kami yang mengaguminya, tapi Johan tidak pernah menggubrisnya.“Cinta butuh waktu, Cha.” Itulah yang Johan katakan padaku ketika aku menanyakan alasannya kenapa ia tidak pernah mau meladeni salah satu dari wanita yang mendekatinya.
Ya, cinta butuh waktu.Hal itulah yang juga aku katakan kepada Johan ketika aku menolaknya.Saat itu aku merasa hanya butuh waktu untuk benar-benar bisa melihat Johan sebagai seseorang yang lebih dari sekedar teman.Kalau dijalani beberapa waktu lagi, mungkin aku bisa mencintainya.Kenapa tidak?Johan adalah seseorang yang pantas untuk dicintai dan dimiliki.Dia tegas, pintar, baik, dan tampan.Hampir semua kriteria yang aku inginkan untuk menjadi pacar ada dalam dirinya.Hanya saja, aku tidak merasakan cinta dalam hatiku ketika aku berada di dekatnya. Sejak memutuskan untuk berpisah dengan Yansen, aku memang tidak pernah lagi merasakan debar-debar cinta yang menyenangkan seperti dulu.
“Cha, udah sampai. Buruan ambil tugas lo terus kita ngebut ke kampus”
“Oke” kataku tanpa pikir panjang.
Sesampainya di kampus, betul saja kami telat.Tapi berkat bujukan dan predikat Johan sebagai anak kesayangan Bu Eva, kami berhasil masuk mengikuti mata kuliah Pengantar Bisnis pada hari itu.Ini sudah ke sekian kalinya Johan menyelamatkan absensiku di kelas.Sebetulnya aku bukan termasuk Mahasiswi yang malas masuk kelas.Hanya saja kesibukanku dalam organisasi BEM akhir-akhir ini banyak mengharuskanku untuk meninggalkan kelas untuk sementara.Sebuah Festival musik yang dipercayakan untuk aku ketuai tinggal menghitung hari dan banyak persiapan yang harus aku lakukan untuk kesuksesan acara itu.
***
            “Harus ya kita ikut ke pusat? Males banget Rex,”
            “Udahlah, ikut aja! Dari region kita cuma gue sama elo doang yang diajak. Sekalian juga nanti kita kenalan sama anak – anak pusat.”
Aku sebenarnya malas untuk ikut bersama dengan Rexy.Kenapa? Dia sukses mendapatkan Diandra, dan dengan bangganya dia menceritakan segala macam detil – detil percintaannya yang masih berumur 2 minggu itu kepadaku.
            “Kenapa lo ga sama Diandra aja sih?,” tanyaku masih mencoba untuk berkelit agar tidak usah menemani dia datang ke acara Festival Musik di Sanata Darma pusat.
            “Diandra ngga bisa hari ini, dia lagi pergi sama keluarganya jalan – jalan,”
            Mau tidak mau aku pun harus menemani Rexy ke dalam event akbar BEM Sanata Darma ini. Argh! Semoga saja aku tidak bosan disana kesalku dalam hati.
***
Hari yang aku tunggu akhirnya tiba, Festival Musik di kampusku akhirnya terlaksana.Aku mengundang semua teman-teman dekatku di kampus untuk ikut menghadiri Festival itu dari awal hingga akhir acara.Aku ingin mereka melihat hasil bolosku selama beberapa pekan terakhir ini.Johan juga ada disana, membawa kamera yang menggantung di lehernya. Aku tersenyum padanya, ia langsung memotretku. Di pertengahan acara, Johan memanggilku ke sebuah stand yang menjual berbagai jenis minuman segar. Kami duduk disana sambil menyeruput es buah di kedua tangan kami.
“Gimana Jo acara ini?Seru kan” tanyaku sambil membuka percakapan kami.
“Seru, Cha. Lo berhasil” senyum Johan merekah.Manis sekali. Tapi entah mengapa, sampai saat ini senyum Johan masih tidak menimbulkan reaksi apapun dalam diriku.
“Cha, sampai saat ini masih Cuma lo yang ada di pikiran gue.”Johan berkata lembut, sambil menatapku. Ah, otakku langsung berpikir kemana muara arah pembicaraan ini, “Apa nggak bisa lo coba untuk menerima gue?”.
Nah kan! Betul tebakanku, pikirku dalam hati.Johan masih mengupayakan perasaannya.
Aku memalingkan wajahku dari tatapan mata Johan yang memelas.Tepat di saat aku memalingkan wajah, aku menangkap sepasang mata sedang melihat ke arahku tajam. Seorang pria dengan setelan kaos dan blue jeans yang berdiri di antara kerumunan orang-orang itu menatap aku dengan cara yang tak biasa. Darahku berdesir.Apa ini?aku memikirkan perasaan aneh yang tiba-tiba merasuk masuk ke dalam diriku. Degup jantungku berdetak lebih cepat. Aku pernah merasakan ini, ketika Yansen menggenggam erat tanganku di Airport saat ia hendak pergi ke Jerman, untuk melanjutkan kuliahnya. Saat itu aku masih mencintainya. 
“Cha, jadi bagaimana” Tanya Johan untuk ketiga kalinya
Aku membalas pertanyaan Johan dengan senyuman, aku tau betul isi hatiku, aku tidak mencintainya.
            “Jo, sekali lagi.Maaf.”Aku kembali tersenyum sebelum melanjutkan kata-kataku.“Gue nggak bisa nerima lo, lo teman yang baik buat gue.”
***
Aku memperhatikan gadis itu, senyumnya, lekukan wajahnya, tatapan matanya. Ah, gadis itu indah. Sayang sekali tatapan mata dan senyumannya tidak ditujukan kepadaku.Gadis itu tersenyum pada pria tampan yang duduk di hadapannya.Kalau boleh kutebak, mungkin pria itu adalah pacarnya.Apa yang mereka bicarakan? Kalau kulihat dari raut wajah pria yang terus berbicara itu sepertinya pembicaraan mereka adalah sesuatu yang serius.Entahlah, itu bukan urusanku.Aku jauh-jauh datang ke sini hanya untuk menemani Rexy dan mengenal lebih dekat lagi rekan kerjaku yang berada di kampus pusat.Tapi!Argh siapa gadis itu?.
“Rex, itu siapa? Anak BEM bukan?,” tanyaku menarik tangan Rexy sambil menunjuk ke arah tempat gadis itu berada.
“Mana? Yang di stand minuman itu?,” Rexy membaca arah telunjukku, “yang ngalungin SLR kalau ga salah namanya Johan, yang di sampingnya itu si Icha,” tandas Rexy mengenali kedua orang yang aku tunjuk tersebut.
***
Aku berlari melewati kerumunan orang banyak yang asik terbawa alunan lagu yang dimainkan oleh bintang tamu kami.Aku berusaha menyelinap di antara kerumunan orang banyak untuk bisa menuju ke tenda di dekat panggung tempat panitia berkumpul.
“Cha, kemana aja dari tadi?”Mala menepuk bahuku.
            “Eh, lo Mal. Tadi gue ngobrol sama Johan sebentar di sana,” kataku sambil menunjuk ke arah stand penjualan minuman. Aku lihat Johan masih duduk di sana ditemani dengan beberapa teman-teman sekelasku.
            “Johan nembak lo lagi ya Cha?”Tanya Mala sambil tersenyum menggodaku.
            “Iya Mal, dan lagi-lagi, gue nolak dia.”
            “Ah lo Cha!Apa sih kurangnya Johan Cha, gue yakin lo sebenernya juga suka sama dia, Cuma lo takut aja ngejalanin cinta yang baru lagi. Move on Cha! Move on! Udah nggak zamannya masa lalu ngiket kita!”
Aku hanya tersenyum geli melihat antusias Mala dalam mengucapkan kalimat barusan.Dia tidak tahu bahwa ada seseorang di luar sana yang kini mulai mengaktifkan debaran cintaku kembali.
            “Oh iya Cha, gue minta passworde-mail kepanitiaan dong. Ada list sponsor yang harus diurusin nih. Cuma lo kan yang megang passwordnya?”, Tanya Mala dengan sedikit tergesa-gesa.
            “Iya, sekalian deh lo urusin sisa sponsorship yang di catetan gue nih!” aku merogoh kantongku dan tas kecil yang aku pakai untuk mencari buku catatanku.
Tidak ada! Aku mulai panik dan membongkar seluruh isi tasku.
“Gawat, buku catetan gue ilang Mal! Kayaknya jatoh deh pas tadi gue desak-desakan di kerumunan orang-orang”
“Ya ampun Cha, itukan penting banget.Terus gimana dong, pihak sponsor minta maksimal lusa kita sudah harus balas e-mail dari mereka.”Mala mulai ikut merasakan kepanikanku.
“Iya Mal gue tau. Oke oke, gue cari dulu ya di tengah-tengah sana, siapa tau ketemu.” Kataku berusaha menenangkan Mala.
            “Icha ya?” suara berat seorang pria memaksaku untuk menoleh ke arahnya, pria yang tadi menatapku secara tak biasa.
            “Saya?” tanyaku heran.Darimana orang ini tau namaku?, tanyaku dalam hati.
            “Nyari ini ya?” pria itu menyodorkan buku kecil bergambar Hello Kitty. Buku catatanku!“Tadi jatuh pas lo lewatin kerumunan. Lain kali hati – hati ya,” ujarnya lebih lembut sembari tersenyum.
***
Gadis itu melangkah meninggalkan pria tampan yang tadi berbincang dengannya.Tanpa disadari aku pun melangkah dari tempatku berdiri.Dengan sendirinya kakiku bergerak mengikuti arah gadis itu pergi, tak jauh dari tempatku semula, gadis itu menjatuhkan sebuah buku kecil.Aku memungut buku itu.Buku kecil bergambar Hello Kitty.Sepertinya gadis itu tidak sadar sudah menjatuhkan buku ini.Aku tersenyum geli memikirkan buku yang lebih cocok untuk adikku yang masih SD ini ternyata dimiliki oleh seorang gadis cantik yang seumuran denganku.Mataku menyapu kerumunan orang banyak.Kemana gadis itu pergi?tanyaku lebih kepada diri sendiri.
“Chris ke tenda panitia yuk, ketemu Icha disana,” tetiba Rexy mengajakku untuk bertandang ke tenda panitia pelaksana, dan menyebutkan nama perempuan yang kini menarik minatku.
Kehadiranku dan Rexy tidak disadari oleh sang ketua pelaksana festival musik ini, dia terlihat kalut sembari merogoh – rogoh isi tasnya mencari sesuatu.
“Icha ya?” suaraku agak tercekat ketika memanggil nama gadis itu. Lantas gadis itu tersentak dan menoleh kepadaku.
            “Saya?” gadis itu bertanya dengan wajah heran.Gadis itu pasti bingung bagaimana aku bisa mengetahui namanya.
            “Nyari ini ya?” aku menyodorkan buku kecil bergambar Hello Kitty yang tadi dijatuhkannya.“Tadi jatuh pas lo lewatin kerumunan. Lain kali hati – hati ya,” aku kontan tersenyum memandangi wajahnya yang langsung berseri mendapati buku catatannya yang sempat hilang.
            “Iya buku gue! Thanks yah,” gadis itu segera mengambil buku catatannya dari tanganku dengan senyum yang ceria di wajahnya. Darahku berdesir, Aku bahkan sempat menahan nafas ketika tangannya tak sengaja menyentuh jari-jemariku.
            Aku terpaku dan kaku di hadapan gadis ini.Jelas cinta pandang pertama itu ada dan nyata. Saat ini jelas, gadis di depanku ini merenggut segala perasaan cintaku, dan aku tidak akan memakan waktu lama lagi untuk memberanikan diri memperjuangkan apa yang cintaku inginkan. “Gue Chris, salam kenal Cha,” aku mengulurkan tangan, dan menjabat halus tangannya.
***
2 Tahun Kemudian
“Mbak Icha, tolong agak miring ke kanan sedikit badannya.” Fotografer mencoba mengarahkan gayaku.Aku memiringkan badanku sedikit ke arah kanan sampai menyentuh lengan pria yang ada di sampingku. Pria itu Christian. Pria yang cukup dengan tatapan tak biasanya,  kembali menghidupkan debaran cinta di jantungku. Aku menatap wajah pria itu. Pria itu tersenyum manis kepadaku.Sambil membetulkan tali topi togaku, ia merangkul mesra diriku.
“Oke, lihat ke arah kamera ya.Satu, dua, tiga.Cheers!”
“Terima kasih sudah menyelamatkan rasa yang hampir tenggelam, dengan hadir dalam hidupku membawa penawar bagi harap yang kian pudar.”
-Viva Fielicha Stania

Selasa, 21 Januari 2014

Harta dari Masa Lalu



Aku duduk di depan laptop kesayanganku. Sesekali aku menyeruput kopi panas yang kini telah dingin. “Ini sudah gelas ketiga tapi aku belum menyelesaikan tulisanku.” Selorohku dalam hati. Ini masih terlalu pagi untuk seseorang beranjak dari tempat tidur. Tapi tidak untukku, karena semalaman ini aku sama sekali tidak memejamkan mata untuk mengistirahatkan tubuhku. Aku melihat jam dinding yang terletak di samping tempat tidur. “Masih jam tiga, terlalu pagi untuk membuat sarapan.” Pikirku dalam hati.
Aku kembali berkutat dengan tulisanku. Pihak penerbit sudah cerewet meminta naskah novelku yang berikutnya untuk segera diserahkan. Ini adalah novel kelimaku, terhitung setelah aku serius dengan dunia tulis menulis, mungkin sudah hampir sepuluh tahun lamanya. Aku kembali mencari inspirasi untuk bisa membuat sesuatu yang baru dalam cerita di tulisanku. Tiba-tiba saja aku terbayang pada sosok lelaki remaja yang akhir-akhir ini sering kutemui, baru membayangkan wajahnya saja sudah membuat hatiku terasa hangat dan aku merasa bisa melakukan apapun yang terlihat mustahil. Ya, aku rasa aku bisa melakukan apapun asalkan aku bisa melihat inspirasiku itu dengan mata kepalaku sendiri. Akhirnya dengan lancar aku memainkan jari jemariku di atas laptop.
“Sayang, kamu belum membuatkan sarapan untukku?”
Aku menoleh ke belakang, terlihat seorang laki-laki yang tengah bercermin membetulkan dasi di kemejanya. Dia terlihat rapi dan tampan, sepertinya orang ini siap untuk berangkat bekerja.
“Belum Mas, maafkan aku, aku terlalu asik mengerjakan tulisanku sampai lupa waktu. Aku buatkan sekarang ya, Mas.” Aku beranjak dari kursi tempat aku semalaman duduk di sana berkutat dengan tulisanku. Aku menghampiri laki-laki itu dan membantu membetulkan dasinya. Dia tersenyum manis dan membelai lembut rambutku, mengecup keningku dan  menjatuhkan kecupannya di bibirku.
“Aku nanti pulang lebih awal, aku harap saat aku pulang aku bisa melihatmu membukakan pintu untukku.”
Aku langsung teringat bahwa malam ini aku sudah membuat janji dengan seseorang, seseorang yang sangat penting bagiku.
               “Maaf Mas, aku malam ini ada janji dengan seseorang yang ingin tulisannya dikomentari olehku.”
               “Haruskah malam ini? Aku sengaja menukar jadwal praktikku dengan Dokter Revo agar aku bisa pulang lebih awal malam ini.”
“Sekali lagi maaf Mas, ini janji yang betul-betul penting. Aku sudah membuat janji ini seminggu yang lalu, jika aku batalkan pasti orang yang akan kutemui itu akan kecewa.”
“Kalau aku boleh tau, siapa yang akan kau temui itu?”
Aku terdiam mendengar pertanyaan dari Mas Arya, suamiku.
               “Hanya penggemar dari novel-novelku.”
               “Kau yakin dia hanya peggemarmu?”
Aku memicingkan mataku menatap tajam ke arah Mas Arya.
               “Kau mencurigaiku?”
               “Aku bukan mencurigaimu, Sayang.” Mas Arya berkata dengan suara yang lebih lembut. Sambil memakan roti yang kubuatkan untuknya dia kembali melanjutkan perkataannnya.
               “Aku hanya heran dengan tingkahmu yang lebih sering keluar rumah akhir-akhir ini. Dan lagi aku sempat mendengar dari tetangga bahwa kau pulang diantar oleh seorang remaja laki-laki berseragam SMA dan itu bukan hanya sekali dua kali.”
Mas Arya membetulkan posisi duduknya untuk bisa melihat ke arahku.
           "Tapi aku percaya dia hanya penggemarmu.” Mas Arya kembali tersenyum sambil membelai rambutku. “Penggemar yang membuatmu melupakan alasanku untuk pulang lebih awal malam ini.” Aku tak langsung menjawab, terpaku beberapa saat dan menemukan bola mata Mas Arya benar-benar menyorot tajam mataku.
Aku terkesiap, “Tanggal 23! Dan ini bulan Oktober! Aku lupa kalau ini adalah hari jadi pernikahan kami!” Aku masih terdiam, tidak tau harus memberi tanggapan apa atas ucapan Mas Arya.
               “Mungkin kamu terlalu sibuk sampai lupa hari jadi pernikahan kita, Sayang.” Mas Arya bangkit berdiri mengambil Jas Putih kebesarannya, baju dinas kedokteran.
Aku lantas menghampirinya, mengambil Jas dan memakaikannya pada Mas arya. Aku masih terdiam, bibirku terlalu kelu untuk mengucapkan kalimat untuk membalas ucapan Mas Arya.
               “Aku rasa kita butuh liburan, Sayang. Aku sudah persiapkan semuanya, Minggu depan kita akan berangkat ke Italy. Aku harap kamu bisa mempersiapkan diri dari sekarang dan membereskan beberapa baju secukupnya.”
               “Tapi Mas…” Aku berusaha menyela pembicaraan Mas Arya, tapi telunjuk Mas Arya sudah menempel di bibirku.
               “Tidak ada kata tapi. Aku sudah membicarakan ini dengan editormu dan dia sudah memberimu izin untuk berlibur.”
               “Bukan itu Mas masalahnya…”
               “Cukup Dyla, tidak ada masalah di sini. Kita hanya berlibur. Dan aku yakin kamu sangat memerlukan itu.”
Mas Arya memeluk erat diriku dan menatap wajahku. “Dan satu lagi, Dyla. Ibuku sudah tidak sabar ingin menimang cucu.”
Mas Arya mengecup keningku dan masuk ke mobilnya.
Aku masih berdiri di ambang pintu sampai mobil Mas Arya sudah tidak terlihat lagi di balik tikungan.
Aku menghela napas ketika masuk dan menutup pintu. “Aku tidak butuh liburan.” Kataku lebih kepada diri sendiri. Aku kembali ke meja kerjaku dan duduk di kursi kesayanganku, tempatku bisa bebas menuangkan segala perasaan dan pikiran yang selama ini mengekangku. Suasana rumah yang sunyi semakin mendukung imajinasiku untuk bekerja mencari inspirasi baru untuk tulisan-tulisanku. Rumah yang sudah sepuluh tahun aku tempati bersama Mas Arya ini memang tidak pernah terdengar ramai. Rumah ini terlihat terlalu rapi dan terdengar sunyi. Tidak pernah terdengar tangisan bayi ataupun terlihat mainan anak-anak yang berserakan di lantai rumah kami.
Tring
Blackberry Messengerku berbunyi. Aku segera mengecek chat dari siapa yang masuk.
Nino.
Senyumku langsung merekah melihat nama itu terpampang di layar BBMku.

Tante, sore ini kita jadi ketemu kan?
Aku pulang sekolah jam 3 sore. Kita ketemu di Gramedia jam 4 sore ya tan.
See you :)
 
Tanganku dengan cepat membalas Message itu.

Iya Nino, kita jadi ketemu.
Kamu hati-hati ya pulang sekolahnya :)
See you.

Pesanku terkirim. Hatiku langsung berdegup memikirkan akan bertemu lagi dengan Nino, laki-laki remaja yang selalu memenuhi pikiranku. Bukan hanya itu, aku baru sadar, berkat Nino aku jadi melupakan kegalauanku akan liburanku dengan Mas Arya ke Italy. Sebetulnya, Ninolah yang membuatku enggan berlibur ke Italy. Setiap waktu kosongku di sela-sela kesibukanku menulis hanya ingin kuisi dengan bertemu dengan Nino. Walaupun itu hanya untuk membicarakan perkembangan novelku atau sekedar memberinya saran untuk mengembangkan bakatnya dalam menulis.

***

Aku kembali melihat jam tanganku. 16.30. “Kemana Nino?” Aku mulai cemas memikirkan keberadaan anak remaja itu. Kukeluarkan telepon genggamku dan mencoba menghubunginya. Tidak ada jawaban. Hatiku mulai kalut memikirkan hal yang buruk terjadi pada Nino. Sekali lagi aku mencoba meneleponnya untuk memastikan keberadaan Nino.
               “Tante, aku disini.” Tiba-tiba saja aku tersentak kaget melihat tubuh jangkung itu berdiri di belakangku. Aku lega melihat sosok Nino ada di dekatku. Rasanya aku ingin memeluk erat dirinya dan tidak melepaskannya. Tapi aku masih memiliki akal sehat untuk menahan diri ini melakukan hal itu.
               “Maaf Tan, aku terlambat. Tadi aku mengantarkan teman perempuanku ke rumahnya.” Nino tersipu malu sambil mengucapkan kalimat itu.
               “Teman perempuan?” tanyaku pelan sambil menutupi nada penuh selidik dari pertanyaanku.
               “Iya Tan, namanya Anggi. Sebetulnya dia pacarku. Hehehe…”
Wajah Nino memerah saat menyebut nama perempuan itu, mengingatkanku pada seseorang di masa laluku.
               “Wah, sepertinya Tante akan mendengar cerita baru darimu. Ayo kita minum kopi dulu di sana sambil mendengar ceritamu.”
Aku mengajak Nino untuk duduk bersantai di Coffee Shop depan Gramedia tempat kami bertemu.

***

Nino duduk di hadapanku, dengan semangat dia menceritakan segala awal seluk beluk percintaannya. Mulai dari ia menyukai gadis bernama Anggi itu sampai Nino menyatakan perasaannya dua hari yang lalu kepada Anggi. Semua ini di luar rencana kami, awalnya kami hanya berencana untuk membicarakan proyek kecil yang sedang digeluti Nino, sebuah Novel Remaja. Tapi setelah kami selesai membicarakan tulisan Nino, dengan sendirinya Nino bercerita mengenai hubungannya itu. Memang setiap bertemu selalu saja ada yang bisa kami bicarakan di luar tulisan kami. Entah itu mengenai kehidupan sekolah Nino sebagai ABG atau perjalananku dalam menghadiri undangan-undangan menjadi pembicara dalam Workshop menulis. Dan aku, aku senang bisa membicarakan semua ini dengan Nino.
Aku memperhatikan garis wajah Nino, lesung pipi yang muncul di wajahnya ketika tersenyum, rambut hitam kecoklatan yang dibiarkan begitu saja tanpa gel rambut, dagunya yang runcing dan suara Nino yang begitu menenangkan. Semua hal itu mengingatkanku pada sosok laki-laki di masa SMA-ku, Bagas.
               “Jadi, gimana menurut Tante? Apa novelku sudah pantas untuk diterbitkan?’
Suara nino membuyarkan lamunanku.
               “Tentu Nino, tulisanmu sudah tidak diragukan lagi.”
Aku berkata sambil tersenyum manis kepada Nino. Menit-menit tertukar habis dengan hitungan jam saat aku bersama Nino. Sungguh, tidak ada hal manis lain yang lebih menjanjikan yang ingin kutukar dengan kebahagiaan ini. Kebahagiaan sederhana yang hanya dapat aku rasakan ketika melihat Nino. Kesempurnaan sebagai seorang wanita aku dapati ketika aku melihat senyum Nino merekah indah di wajahnya. Aku membiarkan puluhan pesan singkat menggetarkan handphoneku, aku juga mengabaikan panggilan yang mengganggu kebahagiaanku ini. Aku masih ingin terus menikmati kebersamaanku dengan Nino, selama apapun waktu yang tersedia akan aku jalani jika bisa bersama Nino.
Tak lama terdengar alunan melodi dari handphone Nino. Dengan cepat Nino mengangkat panggilan itu.
“Iya Ma…” Nino terlihat fokus mendengar kalimat dari si penelepon di sebrang sana.
“Oh oke Ma.” Nino menutup teleponnya,
“Maaf Tante, aku harus pulang sekarang. Mamaku minta aku untuk makan malam di rumah.” Kata Nino sembari merapikan tas sekolahnya.
“Tidak perlu minta maaf Nino, kapan-kapan kita bisa bertemu lagi kan?” kataku kepada Nino, entah ada perasaan apa yang merasuki hatiku ketika Nino hendak pergi.
“Tentu Tante! Kalau ada respon dari penerbit, aku pasti akan segera menghubungi Tante!”
“Semoga sukses, Nino.” Kataku sambil memegang pundak Nino dan membiarkan lelaki remaja itu pergi dengan motornya.

***
 Aku masuk ke dalam rumah bercat putih ini, kulihat mobil Mas arya sudah terparkir rapi di garasi rumah kami. Tubuhku terasa lelah, mungkin akibat semalam aku tidak beristirahat sama sekali. Rasanya aku ingin sesegera mungkin merebahkan tubuhku di tempat tidur dan terlelap sampai besok pagi. Aku melewati meja makan, ada beberapa makanan kesukaanku tersedia di sana. Dua gelas yang terisi anggur merah terlihat belum tersentuh sama sekali. Mataku menyapu seisi ruang tengah, mencari sosok Mas arya. Tertangkap oleh mataku jam dinding rumah kami yang menunjukkan pukul Sembilan malam. “Belum terlambat untuk jam makan malam.” Pikirku sambil mencari sosok Mas arya.
Aku melihat ke kamar kami, di sana kutemukan Mas Arya tengah tertidur pulas masih dengan baju kerjanya. Aku sedikit merasa bersalah telah membiarkan pria ini menunggu kepulanganku. Melihat Mas Arya yang tertidur pulas, aku memutuskan untuk tidak membangunkannya. Karena tubuhku terlalu lelah, akupun juga tertidur di sampingnya.

***

Sinar matahari yang masuk melalui sela-sela jendela kamar menyilaukan mataku. Aku terbangun dan mendapati jam sudah pukul sepuluh. Aku tersentak kaget dan segera bangun, di sampingku sudah tidak kudapati sosok Mas arya. “Tumben Mas Arya tidak membangunkanku.” Aku berjalan keluar kamar dan kulihat Mas Arya sedang duduk di balkon rumah kami sambil menghisap rokok di tangan kanannya. Laki-laki itu bukan seperti Mas Arya yang selama ini kukenal, aku tau betul Mas Arya benci sekali dengan rokok. Rokoklah yang menyebabkan penyakit paru-paru ayah dari Mas Arya semakin parah, hingga dua tahun yang lalu di akhir hidupnya Ayah Mas Arya sama sekali belum bisa melepaskan kecanduannya dari rokok. Hal itulah yang semakin memotivasi Mas arya untuk lebih bersungguh-sungguh lagi dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang dokter. Kesunyian ini menusuk tubuhku, aku berusaha memberanikan diri untuk duduk di samping Mas Arya, suamiku.
“Mas, kamu marah karena aku semalam pulang terlambat?”
Mas Arya tidak menjawab pertanyaanku, ia malah menghisap rokoknya dalam-dalam dan menhembuskannya ke atas.
“Mas, kalau kamu butuh waktu sendiri, aku tidak akan mengganggu. Aku hanya ingin mengucapkan maaf karena semalam telah membuatmu menunggu.” Kataku sambil beranjak berdiri.
Belum sempat aku berbalik, Mas Arya memegang tanganku. Tarikan tangannya secara tidak langsung menyuruhku untuk duduk kembali di sampingnya.
“Aku ingin bicara denganmu, Dyla.” Sambil mematikan rokoknya aku mendengar suara Mas Arya yang terdengar lebih berat dari biasanya. Di asbak terlihat puluhan puntung rokok yang sepertinya habis dihisap Mas Arya.
“Aku kemarin pergi dengan ibuku,” Mas Arya memulai pembicaraannya dengan wajah yang sangat kalut. “Aku berencana untuk membelikanmu sebuah buku sebagai hadiah ulang tahun pernikahan kita.”  Mas Arya menoleh ke arahku, tatapan matanya menyentuh bola mataku yang semakin membulat.
“Dan saat aku hendak memasuki toko buku itu, aku dan Ibu melihatmu. Bukan hanya melihatmu, aku juga melihat laki-laki remaja yang bersamamu itu. Jelaskan padaku, Dyla! Siapa dia?! Tidak mungkin kamu tertawa dan tersenyum seperti itu dengan laki-laki yang hanya kamu anggap sebagai penggemarmu!”
Tubuhku kaku mendengar ucapan Mas Arya.
“Sudah sepuluh tahun aku bersamamu tapi kamu tidak pernah menunjukkan tawa dan senyum yang seperti itu kepadaku!” 
Mas Arya berusaha merapikan aturan napasnya yang memburu akibat emosinya kepadaku.
“Ibuku marah besar melihat peristiwa kemarin.” Kembali Mas Arya mencoba mengatur tarikan napasnya, “Ibu menyuruhku untuk menceraikanmu dan beliau akan menjodohkanku dengan wanita pilihannya.”
Aku tetap tak bergeming mendengar ucapan suamiku itu, entah mengapa aku sama sekali tidak takut menghadapi perceraian dengan Mas Arya.
Dengan lembut Mas Arya membelai rambutku, ia melumat bibirku dan berkata pelan sambil erat memelukku. “Tapi aku percaya padamu, Dyla. Aku sudah berjanji untuk terus bersamamu seumur hidupku. Soal anak, aku percaya Tuhan akan menganugerahkannya pada kita jika kita lebih bersatu lagi. Aku akan meyakinkan Ibu bahwa kamu tidak bersalah, semua akan kulakukan Dyla. Tapi kumohon, jangan pernah temui lagi penggemarmu itu.”
Tubuhku menegang mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Mas Arya. Aku melepaskan pelukannya dan berdiri menghadapnya.
“Lebih baik kau ceraikan aku, Mas! Ibumu benar! Kamu pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dariku!”
Mas Arya yang kaget mendengar ucapanku yang di luar dugaannya segera mencoba menahanku.
“Dyla, apa maksudmu?!”
“Ya, ibumu benar Mas. Lebih baik kamu ceraikan aku. Aku tidak bisa memberimu keturunan selama sepuluh tahun ini! Kamu pantas Mas mendapatkan yang lebih baik dariku.”
Aku pergi meninggalkan balkon dan mengunci kamar tanpa mempedulikan Mas Arya yang berusaha menahanku.
Aku memijit-mijit keningku yang terasa sakit setelah mendengar permohonan Mas arya yang memintaku untuk tidak menemui lagi penggemarku, Nino.
Ah, Nino! Aku teringat kalau hari ini Nino akan mendapat kabar dari penerbit yang menerima novelnya atas rekomendasiku. Kulihat layar ponselku, ada dua panggilan tidak terjawab dari Nino. Baru saja aku akan meneleponnya, tiba-tiba ponselku sudah berbunyi kembali. Panggilan dari Nino.
“Halo Tante!”
Terdengar suara riang Nino di sebrang sana.
“Iya Nino, bagaimana novelmu?”
“Tante, Novelku diterima penerbit! Minggu depan aku sudah mulai meeting dengan pihak penerbit.”
Aku tersenyum merasakan kebahagiaan yang terdengar dari suara Nino.
“Tante turut senang, Nino.” Kataku tulus kepada Nino
“Terima kasih ya atas bimbingan Tante selama ini. Oia, Tante adalah orang kedua yang aku ceritakan mengenai hal ini setelah Ibuku.”
Mendengar ucapan Nino membuat sayatan dalam di hatiku. Tapi aku hanya bisa tersenyum sambil menahan air mata yang memaksa jatuh dari mataku.
“Oya? Bagaimana tanggapan Ibumu, No?” aku berusaha menutupi kepedihan yang ada di dalam hatiku.
“Ibu senang sekali Tante, Ibu tidak menyangka hobiku dalam menulis bisa menghasilkan sesuatu yang bisa menjadi pekerjaanku. Sebetulnya aku sendiri heran, dari mana aku mewarisi bakat menulis ini karena kedua orangtuaku tidak ada yang terjun dalam dunia sastra.”
Jantungku berdegup lebih kencang, seiring dengan itu air mataku jatuh mendengar suara Nino yang riang.
“Ayah juga bingung, bagaimana aku bisa memberanikan diri menyerahkan naskahku ke penerbit. Kuceritakan pada mereka semua ini berkat Tante, sejak menyukai novel-novel Tante dan berkonsultasi dengan Tante yang seorang Penulis terkenal, keberanianku mulai berkembang. Untuk itu mereka mengundang Tante untuk makan bersama kami siang ini di rumah, Tante ada waktukah?”
Aku mencoba menata suaraku agar terdengar stabil, “Iya Nino, Tante akan ke rumahmu.”
Aku menutup sambungan teleponku dengan Nino. Aku membuka pintu kamar dan mendapati Mas Arya di hadapanku. Mas Arya hanya terdiam, ia tidak berkata apa-apa saat melihatku. Aku hanya bisa mencium pipinya dan berkata maaf padanya. “Maafkan aku, Mas.”

***

Saat aku menyetir mobil menuju rumah Nino, kembali terngiang suara Nino yang tadi aku dengar. Suara khasnya yang masih sedikit cadel dan kaku dalam menyebut huruf “R” membawaku ke masa lalu. Mengingatkan pada laki-laki yang sangat kucintai di usiaku yang ke tujuh belas, Bagas.
Bagas, cinta pertamaku yang kini entah berada di mana itu masih saja menggelayuti  pikiranku. Kenangan  indah yang kami buat berdua di masa SMA masih membekas dalam hatiku, bahkan semakin menguat ketika aku bertemu dengan Nino, buah cinta kami yang pernah aku tinggalkan di depan sebuah panti asuhan tempat kampung halaman Ayahku. Manusia memang tidak pernah merencanakan sebuah pertemuan, itu tugas Tuhan. Manusia hanya bisa menerima, menjalani dan memaknai segala hal terjadi. Begitu juga yang ku alami ketika bertemu dengan Nino. Dia sendiri yang menghampiriku untuk memintaku membubuhi Novel ketigaku yang dibelinya dengan tanda tangan dan kata-kata motivasi dariku. Sejak saat itu dengan sendirinya waktu membawa kami dalam sebuah persahabatan sebagai Penulis dan pembaca, sampai pada satu waktu aku mencari tau bagaimana aku bisa tertarik pada pria muda yang umurnya setengah dari umurku ini. Dan aku mengetahui kenyataan bahwa Nino adalah buah hatiku, kenangan yang tersisa dari masa laluku.
Aku yang dulu telah tertipu oleh buaian cinta yang ditawarkan Bagas. Setelah tau aku mengandung anaknya, Bagas menghilang bagai ditelan bumi. Sampai sekarangpun aku tidak tau dimana keberadaannya. Lalu orangtuaku memutuskan untuk menutup aib ini dengan menyerahkan anakku ke panti asuhan. Aku disekolahkan di Bandung dan dijodohkan dengan seorang Dokter muda yang tampan, Mas Arya. Kehidupan kami baik-baik saja, kami hidup serba berkecukupan dan kami jarang sekali bertengkar. Mas Arya pria yang baik, dia selalu mengerti  setiap kondisi dan apapun yang kuinginkan dipenuhinya. Hanya saja sampai sepuluh tahun ini kami masih belum memiliki anak, bukannya kami tidak berusaha. Mungkin saja Tuhan belum memberiku kesempatan untuk memiliki anak lagi setelah aku begitu saja membuang anakku tanpa memperjuangkannya. Sebagai anak laki-laki satu-satunya tentu saja Ibu dari Mas Arya ingin anaknya segera memiliki keturunan, mungkin hal itu jugalah yang membuat Ibu marah ketika melihatku kemarin bersama Nino. Nino, mengingat pembicaraan kami di telepon tadi membuatu tersenyum miris. “…Sebetulnya aku sendiri heran, dari mana aku mewarisi bakat menulis ini karena kedua orangtuaku tidak ada yang terjun dalam dunia sastra.”  Seandainya aku bisa memberi tau Nino bahwa keahlian itu dia warisi dariku, tapi apa daya. Di sini aku hanyalah seorang Idola baginya. Tapi itu saja sudah cukup bagiku. Melihatnya tumbuh besar dan bahagia sudah menjadi hartaku yang paling berharga, walaupun bukan sebagai Ibu.