Tuhan, berilah aku kekuatan.
Untuk mendampingi seseorang;
Yang penuh cinta terhadapku.
Senin, 05 Oktober 2015
Jumat, 30 Januari 2015
Selamat Satu Minggu, Michael!
Penantian akan kehadiranmu kami jalani selama sembilan bulan. Entah kurang atau lebih, namun sekitar itulah lamanya kami menanti kehadiranmu di dunia.
Orang tuamu, Oma Opa serta Opungmu, keempat Uwakmu, delapan kakak sepupumu, serta aku, ii-mu. Kami tak lelah mendoakan kesehatanmu yang kian hari semakin lincah bergerak di dalam perut mamamu. Dan terpujilah Tuhan, sebab Ia senantiasa mengabulkan doa kami dengan lahirnya dirimu ke dalam dunia ini, dengan keadaan yang sangat baik dan tampan tentunya.
Michael, mungkin saat ini kamu masih belum bisa membaca tulisan ii. Bahkan untuk melihatpun matamu masih belum cukup jeli. Tapi percayalah, kelak saat kamu bisa membaca surat ini. Kamu akan tau betapa dirimu dicintai bahkan sebelum kami melihatmu. Dan semoga kelak, ketika kamu sudah bisa mengerti apa makna sebuah tulisan yang tersirat dalam surat, ii sudah bisa memberikanmu seorang adik sepupu. Atau jika Tuhan berlimpah belas kasih kepada ii, mungkin tak hanya satu adik sepupumu, bisa juga lebih dari itu. (Amin!)
Michael, tumbuhlah dengan tubuh yang sehat dan wajah rupawan. Tak hanya itu, berkembanglah hidupmu dengan iman yang mengakar kuat di hatimu. Hiaslah harimu dengan mengasah talenta yang Tuhan berikan padamu. Ii yakin, kelak dirimu akan menjadi seseorang yang dikenal khalayak sebagai teladan yang baik. Orang tuamu bangga, keluargamu bangga, dan kami semua bangga memiliki kamu sebagai anugerah terbaik. Berbangga hatilah, Michael. Karena dirimu begitu dicintai oleh kami.
Semoga kelak saat membaca surat ini, kamu sudah jadi pribadi tangguh yang dilimpahi buah akan hasil ketaatanmu pada Firman Tuhan. Amin.
Untuk Michael Alexander Davidson Nainggolan, yang saat ini baru berusia seminggu.
Percayalah
Teruntuk kamu, tukang posku setahun lalu yang kini tengah sibuk bekerja.
Di tengah keram jari dan kejang otak yang kurasakan, surat ini kutulis. Dengan lebih dulu mengabaikan sadisnya perbudakan skripsi, tentunya.
Dunia di akhir masa menjelang kehancurannya semakin gencar merenggut waktu kita. Mengikis pengharapan kita. Dan memukul habis kasih kita sebagai manusia. Sama seperti kamu, sama juga seperti aku. Kesibukan akan tuntutan duniawi semakin membuat kita enggan menggenggam jari jemari hanya untuk sekedar berdoa. Waktu yang harusnya diluangkan di pagi hari untuk berjumpa dengan Tuhan dialihkan untuk waktu istirahat yang lebih lama karena semalam terlalu larut terlelap. Bahkan waktu malampun terlalu sayang disisakan untuk sekedar menyapa Tuhan yang menunggu kepulangan manusiaNya.
Tapi kita sama-sama tau. Ada begitu banyak kaki yang lelah berlari di siang hari lalu menyalahkan Tuhan karena ia hanya berjalan di tempat. Ada banyak mulut yang terlalu mudah mengeluh meskipun kehidupannya utuh. Ada begitu banyak hati yang angkuh padahal jika Tuhan mau bisa saja sewaktu-waktu kekayaannya dibuat runtuh. Ada juga yang sudah berjalan jauh mengikuti rancangan Tuhan, namun karena jenuh tak kunjung melihat ujung, ia memilih pergi dan berbalik. Ada. Dan tidak sedikit. Mungkin kamu dan aku adalah salah satunya?
Sayang, dengan segala hal yang terjadi padamu hari ini. Dengan segala susah payahmu di hari ini. Percayalah, Tuhan selalu bersamamu. Bersyukurlah, karena dengan kamu masih merasakan apa yang kamu keluhkan. Itu berarti kamu masih berada dalam prosesNya.
Ingat, kita yang setahun lalu sudah sangat jauh berbeda dengan kita yang sekarang. Mungkin dulu kita masih bisa berada di zona aman yang tak terlalu menyeret kita untuk jauh dari Tuhan atau mungkin juga dari masing-masing kita. Tuntutan yang sekarang harus kita penuhi mendesak kita untuk membuat segala sesuatunya imbang. Namun, tuntutan yang datang tak sesuai dengan yang kita terka, terlebih kamu. Waktu 24 jam yang dulu seringkali kita habiskan dengan main-main kini terasa sangat kurang jika diperhadapkan dengan hal-hal serius.
Tapi aku tetap berharap. Apapun kesibukanmu hari ini. Keluhan dan segala tuntutan apapun yang kamu hadapi hari ini. Percayalah, bahwa Tuhan tak pernah tuli untuk mendengar doa kita. Percayalah, bahwa masing-masing kita ada untuk saling mengingatkan kalau Dia selalu ada. Dan bersyukurlah, jika kamu masih dapat percaya.
Berserahlah padaNya, sayang. Karena apapun yang kamu hadapi hari ini, sekalipun itu tak baik di matamu, Ia akan selalu melakukan dan memberikan yang terbaik untuk kita.
Percayalah, Ia akan membawamu melewati hari ini; hari yang kamu khawatirkan sejak kemarin.
Dengan penuh cinta,
Nona yang selalu menyertakanmu dalam percakapannya dengan Tuhan.
Kamis, 17 Juli 2014
Tuhan Yang Maha Tau
Tuhan yang Maha Tau,
Tuhan yang Maha Tau,
Sabtu, 22 Maret 2014
Sebuah Kiriman
Minggu, 02 Maret 2014
Sukses!
Suno Christiawan Telaumbanua.
The Last but not Least
Untuk Om Pos yang tak lelah berkeliling menyampaikan suratku setiap harinya, Kak Em.
Halo Om Pos yang sempat mengajukan cuti. Terima kasih sekali kuucapkan kepada dirimu. Kalau kau ingat, ini bukan kali pertama aku mengucapkan terima kasih kepadamu. Karena sebelum hari inipun aku sudah merasakan kebaikanmu yang mungkin tak sengaja kau berikan kepadaku. Terima kasih, Kak Em. Karena di tengah-tengah harimu yang kuyakin sangat sulit mencuri sela waktu itu, kamu menyempatkan diri untuk meluangkan waktu berkeliling mengantar surat dari para pecinta yang mengirim surat mereka melaluimu. Kuharap kebahagiaan selalu menyertaimu yang dengan tulus mau menjadi lelah untuk kebahagiaan kecil bagi orang lain.
Untuk Tukang Pos Keliling dan Tukang Pos Siaga yang tak dapat kusebut satu persatu.
Siapapun kalian, aku percaya kalian adalah orang-orang baik hati. Ya, kalian tak bisa memungkiri kepercayaanku itu. Karena telah terbukti, melalui kalian banyak orang merasa terbahagiakan oleh surat-surat yang kalian antar maupun surat yang kalian posting. Terima kasih untuk kalian semua, semoga kelak Tuhan memberiku kesempatan untuk bisa mengenal kalian lebih dekat lagi. Supaya kebaikan yang kalian miliki boleh menulari diriku yang terbilang kagum atas jerih lelah yang kalian upayakan dalam program #30HariMenulisSuratCinta ini. Diberkatilah kalian oleh Tuhan , para tukang pos cinta yang kukasihi.
Untuk Kantor Pos paling romantis sejagat raya, @PosCinta.
Jumat, 28 Februari 2014
Hati-Hati di Jalan!
Aku akui, untuk bisa bersanding denganmu sampai sekarang ini bukanlah hal yang mudah. Ada banyak kesulitan yang kuhadapi untuk dapat menyesuaikan diri denganmu. Tapi bukan berarti kesulitan yang ada tak mampu untuk kusederhanakan. Diriku dan tentunya juga dirimu sudah mulai berteman dengan kesulitan sehingga untuk saling menerimapun terasa mudah jadinya.
Besok sesegera mungkin aku akan menyusulmu bersama teman-teman yang lainnya. Simpanlah rindumu dan tumpahkanlah dalam satu pelukan erat ketika kamu menjumpaiku disana. Saat ini aku hanya bisa memohon pada Tuhan untuk tetap tak meluputkanmu dalam perlindunganNya.
Berhati-hatilah di jalan, Sayang!
Semoga di tengah kesibukan kita esok dan lusa tak membuat kita berhenti dari program #DuaHati ini. Tinggal selangkah lagi, maka komitmen kita telah terpenuhi. Aku menyayangimu, Suno Christiawan.
Dengan penuh cinta,
Nona yang akan segera menyusulmu.
Rabu, 26 Februari 2014
Akhirnya Datang Juga!
Senin, 24 Februari 2014
Seharusnya Besok Kau Berulang Tahun
kak @aliffamaria...
Kak, seandainya dirimu masih di sini sekarang kau pasti sudah mendapat gelar sarjana psikologi. Ah, sungguh kasihan kampus kuning itu. Mereka pasti kehilangan dirimu yang merupakan salah satu mahasiswi terbaiknya. Bagaimana tidak, tanpa perlu terus berada di dekatmupun aku tau ketekunanmu dalam menimba ilmu. Bahkan dengan sengaja kau tularkan semangatmu itu ke teman-temanmu yang lainnya. Aku masih ingat betul bagaimana kakak mencari tau letak rumahku hanya untuk mengantar temanmu yang perlu mewawancarai anak seusia sepupuku untuk tugas akhirnya. Kebaikanmu itu sungguh terlalu, Kak.
Hari ini tanggal 24 Februari, tepat esok hari seharusnya usiamu sudah memasuki angka 22 tahun. Usia yang terpaut tidak terlalu jauh denganku. Tapi entah mengapa tingkat kedewasaan kita sungguh jauh berbeda. Ya, itu menurut penilaianku sendiri sih, entah dengan yang lainnya. Dan sangat disayangkan, besok tak akan ada yang bisa mengucapkan selamat ulang tahun secara langsung padamu meskipun ingin. Hmm, rencana Tuhan memang sulit untuk diselami oleh akal manusia yang terlalu sempit ini. Kak, sebetulnya saat pertama kali mendengar dirimu sudah berpulang ke Rumah Bapa, ada sesuatu dalam diriku yang ingin memberontak. Ada keinginan yang sangat besar untuk memprotes keputusan Tuhan yang satu ini. Terlebih usiamu yang masih muda itu sangat kusayangkan untuk terhenti secepat itu.
Tapi apalah dayaku. Sebagai seorang manusia aku hanya bisa mengambil sepercik pelajaran dari setiap kejadian yang terjadi di sekitarku. Melalui "kepulanganmu" aku belajar bahwa hidup di dunia ini sewaktu-waktu dapat terhenti sesuai maunya Tuhan. Dan melalui "kepergianmu" yang terlalu cepat, aku jadi mengerti bahwa umur terlalu berharga untuk dirayakan hanya setahun sekali. Karena pada dasarnya umur kita dapat bertambah (atau tepatnya berkurang) setiap harinya itu merupakan anugerah yang sangat besar yang dapat kita terima.
Sejujurnya sampai detik inipun aku masih membutuhkanmu. Banyak pemikiran dan tindakanmu yang memberi kontribusi tak terhingga bagi program-program komisi Pemuda di Gereja. Tapi sekali lagi apalah dayaku? Dia, Sang Empunya mungkin lebih menginginkanmu untuk berada di dekatNya. Yang aku bisa lakukan sekarang hanyalah percaya. Percaya bahwa dirimu telah bahagia di sisiNya. Dan selagi menunggu waktu panggilanku tiba, aku akan coba untuk terus membperbaiki diri. Melakukan setiap pekerjaan yang baik untuk kemuliaanNya. Ya, aku belajar banyak darimu, Kak. Meski masih muda aku tak bisa bermain-main lagi, karena maut tak pernah mengenal usia.
Baiklah, aku akan mengakhiri surat ini. Ada beberapa ide yang dulu sempat tercetus darimu harus kukerjakan saat ini. Aku tau, kakak tidak akan membaca surat ini apalagi sampai membalasnya. Biarlah surat ini hanya sebagai pertanda bahwa ketiadaanmu pun memberi dampak yang berarti. Aku merindukanmu, Kak. Surat inipun kuakhiri dengan sebulir air mata yang menetes di pipi.
Sampai berjumpa lagi, Kak Maria.
Mungkin ini Mengenai Jarak
Minggu, 23 Februari 2014
Surat yang Tak Perlu Dibalas
Kamis, 20 Februari 2014
Santai Saja
Sayang, apa gerangan yang membuatmu terburu-buru?
Segitu kejamnya kah hari mengancammu untuk segera berburu waktu?
Tak habis pikir aku dengan hidupmu yang tanpa mimpi itu.
Apakah dunia yang kau jalani begitu indah hingga kau tak perlu lagi fiksi untuk kau khayalkan?
Sayang, janganlah terburu-buru menghempaskan mimpi dari hidupmu.
Tanpa kau tau mimpi memiliki kekuatan magis untuk menambah semangatmu.
Kelak mimpilah yang akan merengkuhmu pada pelukan masa depan.
Lagipula, bukankah dewi fortuna berteman baik denganmu?
Jadi, tak usahlah kau ragu untuk bermimpi.
Kupikir, Tuhan tak akan setega itu sampai tak memberimu mimpi indah.
Pasti dengan lapang Ia akan memberimu ruang untuk mencipta mimpimu sendiri secara sadar.
Beranilah menjadi pencipta bagi mimpimu sendiri, kamu diberi kehendak bebas untuk itu.
Jangan terburu waktu, rileks dan santai saja.
Perlahan, susun mimpimu serapi dan setinggi mungkin, lalu kolaborasikan dengan mimpiku.
Dan kalau kugali lagi memoriku.
Bukankah kamu yang sedari awal mengajariku bermimpi?
Bagaimana mungkin kemarin kamu bisa berkata bahwa kau tak memiliki mimpi?
Atau mungkin itu sebuah isyarat bahwa kamu mau berduet denganku untuk membangun sebuah mimpi yang baru?
Jika iya, ayo kita lakukan.
Santai saja, tapi jangan sampai buang waktu lama.
Cukup kita renda sebuah mimpi sederhana.
Tak usah megah, cukup kita berdua yang mencipta itu juga sudah istimewa.
Dan ketika akan mengakhiri surat ini, muncul suatu ide baru lagi untuk bermimpi.
Aku berimpian untuk bisa menulis lagi setelah ini, denganmu tentunya.
Bagaimana sayang, berminat untuk menjadi rekanku dalam mewujudkan mimpi itu?
With love,
aku,
Nona yang masih saja suka bermimpi.
Selasa, 18 Februari 2014
Masih Perihal Mimpi
Kencan Seharian #NaikAgya Bersamamu
Senin, 17 Februari 2014
Ytc. Tubuh Tempatku Berasal
Minggu, 16 Februari 2014
Mimpi
Untuk Presidenku Selain SBY
Perihal: Ucapan Selamat
Kepada:
Jumat, 14 Februari 2014
Cokelat
Semoga di surat berikutnya ada hal yang lebih menyenangkan yang dapat kita bahas.
Dariku, Nona yang sedang menanti senyummu hari ini.
Senin, 10 Februari 2014
Mama Selalu Bisa
Mama selalu bisa menahan kantuk hanya untuk menungguku yang pulang terlalu larut. Tak jarang ia menahan lapar untuk menungguku pulang dan makan di rumah bersamanya.

