Tampilkan postingan dengan label Surat Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surat Cinta. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Oktober 2015

Jumat, 30 Januari 2015

Selamat Satu Minggu, Michael!

Penantian akan kehadiranmu kami jalani selama sembilan bulan. Entah kurang atau lebih, namun sekitar itulah lamanya kami menanti kehadiranmu di dunia.

Orang tuamu, Oma Opa serta Opungmu, keempat Uwakmu, delapan kakak sepupumu, serta aku, ii-mu. Kami tak lelah mendoakan kesehatanmu yang kian hari semakin lincah bergerak di dalam perut mamamu. Dan terpujilah Tuhan, sebab Ia senantiasa mengabulkan doa kami dengan lahirnya dirimu ke dalam dunia ini, dengan keadaan yang sangat baik dan tampan tentunya.

Michael, mungkin saat ini kamu masih belum bisa membaca tulisan ii. Bahkan untuk melihatpun matamu masih belum cukup jeli. Tapi percayalah, kelak saat kamu bisa membaca surat ini. Kamu akan tau betapa dirimu dicintai bahkan sebelum kami melihatmu. Dan semoga kelak, ketika kamu sudah bisa mengerti apa makna sebuah tulisan yang tersirat dalam surat, ii sudah bisa memberikanmu seorang adik sepupu. Atau jika Tuhan berlimpah belas kasih kepada ii, mungkin tak hanya satu adik sepupumu, bisa juga lebih dari itu. (Amin!)

Michael, tumbuhlah dengan tubuh yang sehat dan wajah rupawan. Tak hanya itu, berkembanglah hidupmu dengan iman yang mengakar kuat di hatimu. Hiaslah harimu dengan mengasah talenta yang Tuhan berikan padamu. Ii yakin, kelak dirimu akan menjadi seseorang yang dikenal khalayak sebagai teladan yang baik. Orang tuamu bangga, keluargamu bangga, dan kami semua bangga memiliki kamu sebagai anugerah terbaik. Berbangga hatilah, Michael. Karena dirimu begitu dicintai oleh kami.

Semoga kelak saat membaca surat ini, kamu sudah jadi pribadi tangguh yang dilimpahi buah akan hasil ketaatanmu pada Firman Tuhan. Amin. 


Untuk Michael Alexander Davidson Nainggolan, yang saat ini baru berusia seminggu.

                                             Dengan penuh cinta,
                                                                               Ii.

Percayalah

Teruntuk kamu, tukang posku setahun lalu yang kini tengah sibuk bekerja.

Di tengah keram jari dan kejang otak yang kurasakan, surat ini kutulis. Dengan lebih dulu mengabaikan sadisnya perbudakan skripsi, tentunya.

Dunia di akhir masa menjelang kehancurannya semakin gencar merenggut waktu kita. Mengikis pengharapan kita. Dan memukul habis kasih kita sebagai manusia. Sama seperti kamu, sama juga seperti aku. Kesibukan akan tuntutan duniawi semakin membuat kita enggan menggenggam jari jemari hanya untuk sekedar berdoa. Waktu yang harusnya diluangkan di pagi hari untuk berjumpa dengan Tuhan dialihkan untuk waktu istirahat yang lebih lama karena semalam terlalu larut terlelap. Bahkan waktu malampun terlalu sayang disisakan untuk sekedar menyapa Tuhan yang menunggu kepulangan manusiaNya.

Tapi kita sama-sama tau. Ada begitu banyak kaki yang lelah berlari di siang hari lalu menyalahkan Tuhan karena ia hanya berjalan di tempat. Ada banyak mulut yang terlalu mudah mengeluh meskipun kehidupannya utuh. Ada begitu banyak hati yang angkuh padahal jika Tuhan mau bisa saja sewaktu-waktu kekayaannya dibuat runtuh. Ada juga yang sudah berjalan jauh mengikuti rancangan Tuhan, namun karena jenuh tak kunjung melihat ujung, ia memilih pergi dan berbalik. Ada. Dan tidak sedikit. Mungkin kamu dan aku adalah salah satunya?

Sayang, dengan segala hal yang terjadi padamu hari ini. Dengan segala susah payahmu di hari ini. Percayalah, Tuhan selalu bersamamu. Bersyukurlah, karena dengan kamu masih merasakan apa yang kamu keluhkan. Itu berarti kamu masih berada dalam prosesNya.

Ingat, kita yang setahun lalu sudah sangat jauh berbeda dengan kita yang sekarang. Mungkin dulu kita masih bisa berada di zona aman yang tak terlalu menyeret kita untuk jauh dari Tuhan atau mungkin juga dari masing-masing kita. Tuntutan yang sekarang harus kita penuhi mendesak kita untuk membuat segala sesuatunya imbang. Namun, tuntutan yang datang tak sesuai dengan yang kita terka, terlebih kamu. Waktu 24 jam yang dulu seringkali kita habiskan dengan main-main kini terasa sangat kurang jika diperhadapkan dengan hal-hal serius.

Tapi aku tetap berharap. Apapun kesibukanmu hari ini. Keluhan dan segala tuntutan apapun yang kamu hadapi hari ini. Percayalah, bahwa Tuhan tak pernah tuli untuk mendengar doa kita. Percayalah, bahwa masing-masing kita ada untuk saling mengingatkan kalau Dia selalu ada. Dan bersyukurlah, jika kamu masih dapat percaya.

Berserahlah padaNya, sayang. Karena apapun yang kamu hadapi hari ini, sekalipun itu tak baik di matamu, Ia akan selalu melakukan dan memberikan yang terbaik untuk kita.

Percayalah, Ia akan membawamu melewati hari ini; hari yang kamu khawatirkan sejak kemarin.

Dengan penuh cinta,
Nona yang selalu menyertakanmu dalam percakapannya dengan Tuhan.

Kamis, 17 Juli 2014

Tuhan Yang Maha Tau

Untuk Tuhan yang Maha Tau,
air mataku baru saja habis mengering tepat ketika aku memanggil Engkau. Menyebut pelan diriMu dan merasakan hadirMu dalam hatiku. Kupejam mata dan merasakan getar entah di bagian mana tubuhku, seolah seluruh darah dalam tubuh ini bertukar posisi. Mungkin itu pertanda bahwa Engkau masih bersemayam di sini, di hatiku? Ah, itu bukan lagi mungkin, tapi pasti! Ya, Engkau pasti masih ada di sini. Di relung jiwa terdalam kokoh memagari hati yang semakin rapuh ini. Aku memang seringkali sok tau. Kurang dari dua puluh empat jam yang lalu dengan angkuh aku berkata tak bisa berbicara denganMu lagi, padahal Engkau masih setia di sini, menyediakan telinga dan tangan yang siap sedia merangkulku.

Tuhan yang Maha Tau,
bolehkah aku sedikit bercerita tentang keadaanku? Seperti biasanya dengan kalimat kacau dan bahasaku yang sangat terbatas mungkin Engkau akan pusing bukan kepalang karena sulit mencerna kata-kataku. Ah, tapi sungguh bodohnya aku. Engkau adalah Tuhan yang Maha Tau, Engkau pasti akan selalu tau walau tanpa kuceritakan sekalipun. Bahkan hanya melalui satu tetes air mata saja Engkau bisa mengerti apa yang sedang berkecamuk dalam pikiranku. Engkau memang selalu tau, Tuhan. Namun tak ada salahnya bukan aku bercerita kembali? Anggap saja sebagai awal keberanianku untuk membangun hubungan antara aku dan Engkau yang sudah mulai renggang belakangan ini. 

Tuhan yang Maha Tau,
demi izinMu yang mempersilahkan aku bercerita mengenai keadaanku, aku akan mencoba menahan kantuk yang sedari tadi sudah bergelayut memanjai mata ini. Jadi begini, aku paham betul Engkau tidak suka dengan kelakuanku belakangan ini. Aku nakal. Aku malas. Aku pemarah. Dan aku bahkan merasa biasa saja dengan semua hal itu. Yang lebih parah lagi, aku mulai tidak menghiraukan teguranMu, mulai tidak melibatkanMu dalam perkara-perkaraku. Hal itu berakibat besar bagiku, aku menjadi kacau. Aku tidak tau lagi harus memulai dari mana untuk memperbaiki lagi semuanya. Bahkan aku tak tau persis apa yang harus kuperbaiki. Aku butuh penuntun, tapi lagi-lagi aku tak tau siapa itu. Terlepas dari itu semua, aku kehilangan banyak hal. Aku kehilangan cara untuk mendapatkan kebahagiaan, aku kehilangan rasa damai sejahtera, aku kehilangan akal untuk melawan rasa malas belajar, aku kehilangan sabar dalam menghadapi orang lain. Aku kehilanganMu, Tuhan!

Tuhan yang Maha Tau,
itulah sedikit gambaran mengenai keadaanku saat ini. Engkau juga pasti tau kenapa aku lebih memilh untuk menuliskan ini dibanding menyimpannya sendiri dalam hati atau memperkatakannya secara verbal kepadaMu. Ya, Engkau tau persis aku kehabisan cara untuk berkata-kata denganmu. Engkau tau persis air mataku habis terkuras tanpa bicara sepatah katapun saat berhadapan denganMu. Sungguh jalan yang unik, Engkau yang Maha Tau dengan sigap menggerakkan Roh Kudus untuk menuntun jari jemariku agar mengetikkan kata demi kata ini. Dengan cara ini pulalah Engkau sekaligus mengangkat bebanku.

Tuhan yang Maha Tau,
terima kasih atas kesempatan berbincang ini. Terima kasih karena Engkau masih bersedia menegurku dengan cara lembut. Engkau memang Maha Tau, Engkau tau cara yang kasar tak akan mampu meluluhkanku. Walaupun secara pasti melalui kuasaMu, Engkau mampu memutarbalikkan kenyataan itu. Aku mengucap syukur, sekali lagi dengan teramat sangat, karena dengan segala kebobrokanku, Engkau masih memelukku dengan sangat hangat. Dan dengan segala kejahatanku, Engkau masih menyelipkan kebaikan di hatiku untuk tak lupa akan keberadaanMu. 

Tuhan yang Maha Tau,
aku yakin sedetikpun tak pernah luput aku dari pengawasanMu. Dengan adanya aku di sini, semakin membuktikan bahwa Engkau memeliharaku dengan sesuatu yang lebih dari sekedar kasih. Melalui pemeliharaanMu itulah, aku menaruh satu lagi keyakinan bahwa Engkau pasti akan menjaga pula masa depanku yang penuh dengan harapan. Harapan akan sebuah mimpi, dimana paket yang telah Engkau kirimkan kemarin akan melengkapi kebahagiaanku di dunia ini dan tak berhenti di situ, ia jugalah yang kuharap akan menuntunku kepada hidup yang kekal bersamaMu.

Amin.

Sabtu, 22 Maret 2014

Sebuah Kiriman

Kepadamu, pria yang menyeka lukaku dengan penerimaan berbalut cinta.

Ini bukan sebuah surat selamat karena kamu memenangkan sesuatu. Bukan pula surat yang dapat kau tukarkan dengan sebuah hadiah. Ini bukan penyelamatan. Surat ini hanyalah teriakan tak bersuara mengenai rasa syukur betapa indahnya semakin lama mengenalmu.

Ratusan hari kita sudah saling menyelami, namun baru kini kamu melihat lagi sisi lainku yang terungkap tak tersengaja. Pena dengan tinta hitam yang kuukir selengkung demi selengkung di masa lalu mulai kamu baca lembar demi lembar halamannya. Kamu mulai mengenali tokoh-tokoh yang hadir mengisi buku dalam kehidupanku. Mereka bagianku, baik buruknya mereka akan menjadi elemen yang mengekoriku.

Membiarkanmu membaca buku berisi ceritaku merupakan sebuah tantangan yang melahirkan banyak tanya. "Bagaimana ritme degup jantungmu ketika membaca bukuku?" "Apa yang kamu lihat dariku begitu mengetahui asal usulku?" Entah pertanyaan apa lagi yang saat itu riang berlarian di pikiranku, aku tak lagi ingat karena kini semua sudah sirna seolah terusir oleh badai hujan. Ya, semua kecemasan berkedok pertanyaan lenyap. Sedetik setelah kamu menghujaniku dengan cinta, mereka tak lagi mengendap.

Adanya kamu menambah lagi rasa syukurku. Sendiri tak lagi menjadi namaku ketika kamu menjatuhkanku dalam pelukmu. Kamu menerimaku, berikut dengan segala kemalanganku. Kamu menguatkanku bahkan di waktu aku tak merasa lemah. Kamu semakin menambah bukti bahwa Tuhan tak pernah berhutang budi. Kuyakini, Tuhan mengirimmu untuk melengkapiku.

Terima kasih karena telah mencintaiku beserta lebih kurangku, berkat itu aku mencintaimu dengan terlanjur terlalu. Namun mengingat segala penerimaan yang menjadi milik bisa begitu mudahnya diambil kembali oleh Sang Empunya, aku hanya bisa berdoa. Menyerahkan dirimu ke dalam tanganNya adalah pilihan terbaik dari segala yang tepat. Terima kasih karena telah bersedia menjadi paket yang dikirim Tuhan sebagai hadiah atas kuatku selama kemarin dan kemarinnya lagi selama aku ditempa olehNya. 
Terima kasih, Tuan S. Melalui dirimu aku jadi lebih mengerti. 
Bahwa aku ditempa bukan untuk mati, melainkan untuk hidup.

Minggu, 02 Maret 2014

Sukses!

Untuk Tuan Milanisti kesayanganku, 
Suno Christiawan Telaumbanua.

Yihaaaaa!
Akhirnya kita sukses menyelesaikan misi kita dalam program #DuaHati ini. Sungguh ini merupakan pengalaman pertama yang sangat mendebarkan bagiku. Masa-masa mengomelimu untuk rajin menulis, saat aku sendiri berjuang melawan kejenuhan dalam berbalas surat denganmu, itu semua akan menjadi kenangan yang indah untuk diingat kembali. Ternyata perjalanan kita selama 30 hari ini jauh melebihi ekspetasiku di awal bulan lalu. Apa yang terjadi nyatanya lebih menyenangkan dari yang ada dalam dugaanku.

Jujur sayang, aku tidak memiliki ide dan waktu yang cukup untuk menulis penutup yang manis dalam secarik surat terakhir ini. Seperti yang kamu tau, saat ini kita sedang berada di kegiatan bakti sosial yang sangat menuntut keberadaan kita masing-masing. Namun keadaan ini tidak menyurutkan niatku untuk menulis surat bagimu. Dan karena hal yang satu ini, aku sangat mengucap syukur. Berkat komitmen yang telah mengikat kita sejak awal ini, aku jadi mengerti satu hal bahwa waktu luang akan selalu ada jika kita menginginkannya dengan terlalu.

Baiklah, Sayang. Dalam suratku ini aku tidak bisa berlama-lama merangkai ratusan kata yang indah. Biarlah kesederhanaan perasaanku padamu yang tersirat dalam surat ini bisa menjadi kemegahan yang berkesan di hatimu. Sebagai ungkapan syukurku atas suksesnya misi surat menyurat #DuaHati kita ini, aku juga ingin mengucapkan terima kasih tak terhingga kepadamu.

Terima kasih, Sayang.
Terima kasih karena telah memperkenalkanku pada program @PosCinta ini. Terima kasih karena telah bersedia memilihku untuk menjadi partner bersuratmu. Terima kasih atas segala macam hal yang telah kau lakukan untuk membuat ketekunanku dalam menulis semakin menjadi.

Sebagai penutup, kuucapkan selamat untuk kita berdua.

Dengan sepenuh cinta,
Nona Kittymu, Vierena Tirza Dwivantiara.

The Last but not Least

Kepada: @PosCinta dan segenap jajaran tukang posnya.

Pos Cinta beserta seluruh jajaran tukang posnya yang sangat kukasihi, sejujurnya aku sangat bingung ingin menutup program ini dengan mengirimkan surat kepada siapa. Penutup yang manis tentunya sangat didambakan oleh tiap orang yang telah konsisten menulis dalam program #30HariMenulisSuratCinta. Sungguh pusing tujuh keliling kepalaku agar bisa menciptakan secarik surat yang kiranya dapat berkesan, setidaknya untuk diriku sendiri. Tapi apalah daya, saat ini kondisi sekitar tidak mendukungku untuk duduk tenang dan meracik kata-kata yang indah. Sekedar informasi saja, saat ini aku sedang berada di lokasi Bakti Sosial yang diadakan kampusku. Aku berada disini selama tiga hari, dan ini adalah hari keduaku. Berada di desa pelosok kota Bogor yang minim sinyal internet semakin menyulitkanku dalam menulis bahkan mungkin dalam mengirimkan surat kali ini. Tapi aku tau persis, itu bukan alasan untuk lari dari konsistensiku dalam menulis selama 30 hari ini. Baiklah, setelah kupikir berulang kali dengan matang-matang akhirnya kuputuskan surat terakhir dalam program #30HariMenulisSuratCinta ini kutujukan untuk kalian, orang-orang yang dengan setulus hati telah menghempaskanku ke tumpukan cinta di kantor pos yang membuatku lebih bergairah dalam menulis.

...

Untuk kamu yang pertama kali memperkenalkanku pada Pos Cinta, Suno Christiawan.

Terima kasih teramat sangat kuucapkan kepada kamu. Berkat doronganmu yang begitu besar, aku mulai memberanikan diri untuk menulis lembar demi lembar surat setiap harinya. Perlu kau ketahui, namamulah yang paling banyak tertera di tumpukan 45 suratku selama 30 hari ini. Tapi kurasa hal itu tak cukup untuk membayar segala kebaikanmu yang telah menceburkanku dalam program ini. Sekali lagi, terima kasih. Tak akan cukup sehari ini jika harus kugunakan untuk mengutarakan segala kebaikanmu. Karena hanya dengan tindakan sederhanamu yang memperkenalkanku pada Kantor Pos inilah yang menjadi titik awal bagiku untuk meluangkan waktu agar dapat kembali menulis.

Untuk Om Pos yang tak lelah berkeliling menyampaikan suratku setiap harinya, Kak Em.

Halo Om Pos yang sempat mengajukan cuti. Terima kasih sekali kuucapkan kepada dirimu. Kalau kau ingat, ini bukan kali pertama aku mengucapkan terima kasih kepadamu. Karena sebelum hari inipun aku sudah merasakan kebaikanmu yang mungkin tak sengaja kau berikan kepadaku. Terima kasih, Kak Em. Karena di tengah-tengah harimu yang kuyakin sangat sulit mencuri sela waktu itu, kamu menyempatkan diri untuk meluangkan waktu berkeliling mengantar surat dari para pecinta yang mengirim surat mereka melaluimu. Kuharap kebahagiaan selalu menyertaimu yang dengan tulus mau menjadi lelah untuk kebahagiaan kecil bagi orang lain.

Untuk Tukang Pos Keliling dan Tukang Pos Siaga yang tak dapat kusebut satu persatu.

Siapapun kalian, aku percaya kalian adalah orang-orang baik hati. Ya, kalian tak bisa memungkiri kepercayaanku itu. Karena telah terbukti, melalui kalian banyak orang merasa terbahagiakan oleh surat-surat yang kalian antar maupun surat yang kalian posting. Terima kasih untuk kalian semua, semoga kelak Tuhan memberiku kesempatan untuk bisa mengenal kalian lebih dekat lagi. Supaya kebaikan yang kalian miliki boleh menulari diriku yang terbilang kagum atas jerih lelah yang kalian upayakan dalam program #30HariMenulisSuratCinta ini. Diberkatilah kalian oleh Tuhan , para tukang pos cinta yang kukasihi.

Untuk Kantor Pos paling romantis sejagat raya, @PosCinta.

Biiim! Biiim!
Sapaan hangat khas yang setiap hari selalu berkeliaran di linimasaku selama bulan merah muda ini memang selalu dinanti oleh orang-orang yang dipenuhi cinta, termasuk aku. Terima kasih @PosCinta, terima kasih juga Bosse yang telah berbaik hati menciptakan program berkualitas ini. Sungguh aku kehabisan kata untuk berucap terima kasih kepada kantor pos yang satu ini. Tapi benar, tiada terkira rasa syukurku atas pertemuanku dengan pos cinta di tahun kuda kayu ini.

Akhir kata, terima kasih untuk kalian semua.
Berkat kalian, ada banyak hal positif yang berdampak dalam hidupku. Salah satunya adalah ketika aku tau, bahwa tulisanku tidak hanya dapat menyenangkan hatiku sendiri tapi juga orang lain yang membacanya. Dan banyak syukur yang lainnya terjadi ketika aku menjadi lebih peka dengan keadaan sekitar dan menuangkan apa yang kulihat dan kurasa dalam secarik surat setiap harinya.  Untuk ke depannya, kuharap kantor pos cinta ini selalu setia membagi cinta lagi di bulan warna merah jambu pada tahun berikutnya. Sekali lagi, terima kasih @PosCinta! Peluk dan ciumku tercurah untuk kalian semua!
Dengan penuh cinta,
Vierena Tirza Dwivantiara.

Jumat, 28 Februari 2014

Hati-Hati di Jalan!

Untuk Tuan yang sedang dalam perjalanan ke lokasi Bakti Sosial...

Halo Tuan, sungguh suratmu kemarin merupakan apresiasi yang sangat menyegarkan bagiku. Aku senang jika bisa menjadi salah satu alasanmu untuk semakin giat menulis. Dan terpujilah Tuhan yang masih memelihara sebaik mungkin hubungan kita sampai detik ini. Meskipun kita sama-sama tak bisa menutup mata, rintangan yang akan kita hadapi di depan bukan hanya gerimis hujan namun juga badai topan yang siap memisahkan genggaman tanganmu dariku.

Aku akui, untuk bisa bersanding denganmu sampai sekarang ini bukanlah hal yang mudah. Ada banyak kesulitan yang kuhadapi untuk dapat menyesuaikan diri denganmu. Tapi bukan berarti kesulitan yang ada tak mampu untuk kusederhanakan. Diriku dan tentunya juga dirimu sudah mulai berteman dengan kesulitan sehingga untuk saling menerimapun terasa mudah jadinya.

Sayang, hari ini, besok, lusa dan sampai besoknya lagi kamu akan mengabdikan diri dalam acara bakti sosial kampus kita di kota Bogor. Kuharap, kamu bisa dengan baik menjaga kesehatanmu ya. Selain itu aku juga berharap agar kamu bisa menjaga emosimu dalam menghadapi salah satu rekan kita yang seringkali membuat jengkel. Percayalah, kelakuan orang lain yang menyebalkan itu merupakan sumber pelatihan bagi kita untuk bersabar.

Besok sesegera mungkin aku akan menyusulmu bersama teman-teman yang lainnya. Simpanlah rindumu dan tumpahkanlah dalam satu pelukan erat ketika kamu menjumpaiku disana. Saat ini aku hanya bisa memohon pada Tuhan untuk tetap tak meluputkanmu dalam perlindunganNya.

Berhati-hatilah di jalan, Sayang!
Semoga di tengah kesibukan kita esok dan lusa tak membuat kita berhenti dari program #DuaHati ini. Tinggal selangkah lagi, maka komitmen kita telah terpenuhi. Aku menyayangimu, Suno Christiawan.

Dengan penuh cinta,
Nona yang akan segera menyusulmu.

Rabu, 26 Februari 2014

Akhirnya Datang Juga!

Halo Tuan yang suka terlambat!

Akhirnya datang juga surat darimu yang sudah kutunggu sejak kurang lebih dua puluh empat jam yang lalu. Aku pribadi sih bisa memaafkanmu. Karena aku maklum dengan sifat jelekmu yang suka terlambat itu. Tapi entah dengan tukang pos kita, semoga beliau berbaik hati memaafkan keterlambatanmu yang sebenernya sudah keterlaluan itu. Padahal jika kemarin kamu dibilang sibukpun tidak, bukan? Mungkin ulah si gigi geraham bungsu itu semakin membuatmu uring-uringan ya? Sampai suratkupun terlupakan untuk kau balas. 

Baiklah sayang, kurasa tak baik jika terus membicarakan sesuatu yang mengarah pada kelemahanmu itu. Yang terpenting bagiku adalah kamu tetap sehat selalu, meski terkadang lupa mengiringmu pada sesuatu yang buruk. Seperti misalnya lupa mandi dan lupa makan. Ya, libur yang terbilang sebentar ini membuatmu sering dengan sengaja melupakan dua hal rutinitas terpenting dalam keseharian manusia. Seharian di kamar sembari berkelut dengan rasa nyeri di gigi membuatmu malas beranjak dari kamar untuk sekedar menyegarkan tubuh dengan mandi. Kuharap sekembalinya kita nanti pada jadwal kuliah, kamu dapat menghilangkan sifat "lupa mandi"mu itu ya, Sayang!

Bicara tentang kuliah, aku jadi teringat suratmu tadi yang sedikit menyinggung perihal Indeks Prestasi. Ketahuilah sayang, aku sungguh berharap ada kenaikan yang drastis pada nilai-nilaiku di semester lima ini dan sampai seterusnya. Ada motivasi tak kasat mata yang menyerang semangatku untuk terus meningkatkan setiap nilai-nilaiku yang sempat menurun di semester tiga yang lalu. Melalui surat hari ini juga aku memohon dukungan semangat dan doamu agar aku mampu mencapai targetku kelak. 

Oia, kuharap kamu juga memiliki semangat yang sama atau bahkan melebihi semangat yang kupunya ya sayang. Karena biar bagaimanapun, tanggung jawab yang kamu miliki jauh lebih besar dari yang dibebankan padaku. Ingatlah, dalam waktu yang segera kamu harus secepatnya mengambil alih tongkat estafet yang saat ini ada dalam genggaman papamu. Ya, tenang saja sayang. Sebisa mungkin aku akan terus ada di sampingmu untuk mendampingi dan mendoakanmu. Berdoalah, supaya Tuhan yang Maha Baik itu tetap memelihara hubungan kita sebagaimana seperti yang ada dalam rencanaNya.

Sampai disini dulu sayang surat balasanku ini. Semoga harimu menyenangkan dan penuh dengan kebahagiaan. Aku disini selalu mendoakanmu; mendoakan kita. Selamat beraktivitas, Sayang.

Dengan penuh cinta dan kerinduan,
Nonamu di Depok.

Senin, 24 Februari 2014

Seharusnya Besok Kau Berulang Tahun

Untukmu yang saat ini (kuyakini) sedang menari di Surga,
kak @aliffamaria...

Kak Maria, sudah hampir setahun aku tidak melihatmu. Apa kabarnya kamu disana, kak?Aku disini baik-baik saja, walau jujur rindu padamu tak bisa lagi terbantahkan. Kurasa, bukan hanya aku tapi semua teman dan keluargamu pasti juga rindu akan hadirmu. Mungkin beberapa di antara kami masih ada yang belum sepenuhnya sadar bahwa dirimu sudah tak ada lagi di muka bumi ini. Ya, hal itu mungkin saja terjadi karena pribadimu yang begitu kuat terpatri dalam ingatan kami.

Kak, seandainya dirimu masih di sini sekarang kau pasti sudah mendapat gelar sarjana psikologi. Ah, sungguh kasihan kampus kuning itu. Mereka pasti kehilangan dirimu yang merupakan salah satu mahasiswi terbaiknya. Bagaimana tidak, tanpa perlu terus berada di dekatmupun aku tau ketekunanmu dalam menimba ilmu. Bahkan dengan sengaja kau tularkan semangatmu itu ke teman-temanmu yang lainnya. Aku masih ingat betul bagaimana kakak mencari tau letak rumahku hanya untuk mengantar temanmu yang perlu mewawancarai anak seusia sepupuku untuk tugas akhirnya. Kebaikanmu itu sungguh terlalu, Kak.

Hari ini tanggal 24 Februari, tepat esok hari seharusnya usiamu sudah memasuki angka 22 tahun. Usia yang terpaut tidak terlalu jauh denganku. Tapi entah mengapa tingkat kedewasaan kita sungguh jauh berbeda. Ya, itu menurut penilaianku sendiri sih, entah dengan yang lainnya. Dan sangat disayangkan, besok tak akan ada yang bisa mengucapkan selamat ulang tahun secara langsung padamu meskipun ingin. Hmm, rencana Tuhan memang sulit untuk diselami oleh akal manusia yang terlalu sempit ini. Kak, sebetulnya saat pertama kali mendengar dirimu sudah berpulang ke Rumah Bapa, ada sesuatu dalam diriku yang ingin memberontak. Ada keinginan yang sangat besar untuk memprotes keputusan Tuhan yang satu ini. Terlebih usiamu yang masih muda itu sangat kusayangkan untuk terhenti secepat itu.

Tapi apalah dayaku. Sebagai seorang manusia aku hanya bisa mengambil sepercik pelajaran dari setiap kejadian yang terjadi di sekitarku. Melalui "kepulanganmu" aku belajar bahwa hidup di dunia ini sewaktu-waktu dapat terhenti sesuai maunya Tuhan. Dan melalui "kepergianmu" yang terlalu cepat, aku jadi mengerti bahwa umur terlalu berharga untuk dirayakan hanya setahun sekali. Karena pada dasarnya umur kita dapat bertambah (atau tepatnya berkurang) setiap harinya itu merupakan anugerah yang sangat besar yang dapat kita terima.

Sejujurnya sampai detik inipun aku masih membutuhkanmu. Banyak pemikiran dan tindakanmu yang memberi kontribusi tak terhingga bagi program-program komisi Pemuda di Gereja. Tapi sekali lagi apalah dayaku? Dia, Sang Empunya mungkin lebih menginginkanmu untuk berada di dekatNya. Yang aku bisa lakukan sekarang hanyalah percaya. Percaya bahwa dirimu telah bahagia di sisiNya. Dan selagi menunggu waktu panggilanku tiba, aku akan coba untuk terus membperbaiki diri. Melakukan setiap pekerjaan yang baik untuk kemuliaanNya. Ya, aku belajar banyak darimu, Kak. Meski masih muda aku tak bisa bermain-main lagi, karena maut tak pernah mengenal usia.

Baiklah, aku akan mengakhiri surat ini. Ada beberapa ide yang dulu sempat tercetus darimu harus kukerjakan saat ini. Aku tau, kakak tidak akan membaca surat ini apalagi sampai membalasnya. Biarlah surat ini hanya sebagai pertanda bahwa ketiadaanmu pun memberi dampak yang berarti. Aku merindukanmu, Kak. Surat inipun kuakhiri dengan sebulir air mata yang menetes di pipi.

Sampai berjumpa lagi, Kak Maria.
Kelak kita akan bertemu di pelataran singgasana kerajaan terindah; di Surga.

Salam rindu dariku,
gadis yang menurutmu terlalu koleris.

Mungkin ini Mengenai Jarak

Selamat pagi, Tuan yang sedang uring-uringan.

Sayang, ketika aku membaca suratmu kemarin aku sempat tersenyum-senyum sendiri. Bukan, bukan karena aku senang melihatmu kesulitan menghadapi si gigi bungsu. Tapi yang sedikit lucu bagiku adalah entah mengapa kamu si sulung ini sering kesulitan sampai uring-uringan saat menghadapi yang bungsu-bungsu. Seperti aku misalnya. Jangan memungkiri, Sayang. Yang bungsu memang seringkali sulit untuk ditaklukan. Hihihi

Baiklah, lupakan soal si gigi bungsu itu. Toh itu adalah proses alami yang akan dialami oleh manusia normal yang hendak beranjak dewasa. Bersyukurlah sayang, karena dari ceritamu kemarin proses tumbuhnya gigi bungsumu ini terbilang sangat cepat. Apalagi bila dibandingkan denganku. Proses pertumbuhan gigi geraham bungsuku ini sangatlah lamban. Di satu waktu ia berulah, memunculkan diri dengan disertai rasa sakit selama seminggu lebih. Lalu di bulan lainnya ia kembali berulah dengan pola yang sama. Dan sebalnya lagi, rasa sakit yang ada itu tidak terbalas, karena gigi bungsu yang tumbuh itu hanya muncul kurang dari setengah ukuran gigi geraham lainnya.

Sayang, pagi ini agak kurang menyenangkan untukku. Kukira pagi ini kesehatanku mulai membaik, tapi nyatanya aku masih pusing dan beberapa kali sesak nafas. Dan anehnya kamu malah berkata bahwa penyebab sakitku ini adalah karena rinduku padamu. Astaga, kamu pikir rindu yang menumpuk ini bisa menghalangi oksigen untuk beraktivitas di dalam tubuhku? Bisa jadi sih kalau rindunya sudah sekarat sampai berbulan-bulan tak bertemu. Tapikan kita baru beberapa hari tidak bertemu, tidak sampai seminggu. Jadi kurasa, bukan itu alasannya. Semoga saja ini bukan pertanda aku mengidap penyakit yang aneh-aneh.

Oia, pagi ini juga aku melihat berita di televisi mengenai geng motor yang merajalela di wilayah Bekasi. Dan setelah itu juga disiarkan berita mengenai himbauan warga Depok untuk berhati-hati pula terhadap geng motor. Entahlah, kedua berita itu sangat membuatku khawatir. Selain karena berita itu menandakan bahwa kedua kota tempat kita beraktivitas sudah tidak aman, titik rawan geng motor itu adalah jalan-jalan yang biasa kamu lalui untuk menemuiku. Apakah begitu beratnya perjuangan yang harus kamu lalui untuk menemuiku? Oke, aku berlebihan.

Hmm, apapun  yang menjadi halangan untuk kita bertemu aku harap itu tidak mengurangi intensitas komunikasi kita ya, Sayang. Karena biar bagaimanapun ada hal yang bisa kita syukuri dari jarak yang memisahkan keberadaan kita. Pertama, kita bisa bersyukur karena jarak yang memisahkan tempat tinggal kita itu masih bisa ditempuh dalam hitungan jam oleh kendaraan bermotor. Kedua, jarak yang terpaut di antara kita dapat menyadarkan kita bahwa waktu temu yang Tuhan izinkan ada di antara kita itu berharga adanya. Jadi, jangan kita sia-siakan waktu pertemuan kita yang tak sering itu. Ketiga, jarak tidak sekejam yang kita duga. Ia tidak dengan sengaja memisahkan kita, tapi itu memang alur yang Tuhan buat untuk membuat kita tetap berada pada tempat kita masing-masing dan mengerjakan pekerjaan yang sudah Ia tetapkan bagi kita.

Sejujurnya, baru kali ini rasa syukurku disebabkan oleh jarak. Terlebih saat ini juga terdapat beberapa ancaman dalam jarak yang memisahkan kita. Ya beruntunglah kamu jika saat ini aku lebih banyak bersyukur dibanding mengeluh karena jarak. Sebab seperti yang kamu tau, aku kurang bisa sabar jika harus berbicara soal jarak. Karena jarak dan waktu akan menyublim menjadi sebuah rindu. Semoga saja besok atau mungkin nanti menjelang sore akan ada berita baik yang dibawa oleh para aparat kita mengenai ulah nakal geng motor tersebut. Supaya tak ada lagi rasa cemas dan khawatir yang menyatu dengan gebu rindu saat akan bertemu denganmu.

Baiklah, Tuan. Sampai disini dulu suratku hari ini. 
Semoga harimu menyenangkan ya, Sayang!

Peluk dan rindu tercurah melalui doa bagimu.
Dari Nonamu di Depok. 

Minggu, 23 Februari 2014

Surat yang Tak Perlu Dibalas

Untukmu yang sedang menimba ilmu di Negeri Kangguru.

Halo, apa kabar kamu?
Sepertinya aku tak perlu menyebutkan siapa kamu. Orang yang mengenal baik diriku pasti tau kepada siapa surat ini kutujukan. Hari ini tanggal 23, tanggal yang pernah begitu berarti dalam 50 bulan kebersamaan kita, dulu. Kalau kamu ingatpun, surat terakhir yang kutujukan padamu itu juga tertulis di tanggal 23. Dan kalau ditelusuri lagipun kisah kita juga berakhir di tanggal yang sama.
Tapi... Hei! Siapakah aku ini yang dengan beraninya lancang berkata tamat pada suatu kisah yang diguratkan oleh sang Pencipta. Kita sama-sama tidak akan tau apa yang menjadi akhir dari kisah yang terdapat aku dan kamu di dalamnya. Biarlah Tuhan yang Esa itu yang akan menentukan akhir dari cerita kita, masing-masing.

Kudengar, kamu sudah selesai menempuh program Diplomamu ya? Dengan penuh ketulusan aku ucapkan selamat untukmu. Sungguh, aku turut senang dengan kelulusanmu. Tentunya aku juga ikut bangga dengan nilaimu yang terbilang sempurna itu. Pertahankanlah itu sampai ke jenjang strata satumu. Aku yakin tanpa perlu kuingatkan lagi kamu pasti akan menjalani studymu sebaik mungkin. Kau tau, tanpa perlu berucap pun kamu sudah menularkan semangat belajarmu padaku. Ya, kamu memang seseorang yang bisa kujadikan teladan yang baik. Perjuanganmu hidup sendiri di negeri orang tak bisa dipungkiri membuatmu semakin dewasa dan mandiri dalam segala hal.

Kalau aku boleh tau, apa kegiatanmu sekarang ini? Kuharap, di tengah kesibukanmu kamu masih tetap setia dengan pelayanan yang telah Tuhan percayakan padamu ya. Jujur, sesekali aku merindukanmu disini. Sebagai apapun aku, aku masih merindukanmu. Walaupun bisa dibilang rinduku ini bukan hanya untukmu. Rinduku ini juga terbagi kepada keluargamu, terlebih kepada kedua kakak perempuan dan ibumu. Aku sering mengharu bila mengingat kebaikan mereka semua padaku. Betapa mereka tulus menyayangiku seperti adik dan anak mereka sendiri. Ketahuilah, kalian semua -tak terkecuali papa dan abangmu- masih sering aku sebut dalam setiap rapal doaku.

Meski begitu, terkadang aku suka bertanya di dalam hati. Mungkinkah dalam jarak yang sejauh ini kita masih saling mendoakan seerat dulu? Terlebih ikatan yang ada sudah tak lagi mengharuskan kita untuk saling membangun di dalam doa. Bukan, pertanyaanku itu bukan berarti aku pamrih dalam hal mendoakanmu. Hanya saja, seringkali aku merasa mujur jika didoakan olehmu. Sebagai teman, bolehkah aku meminta diri untuk terdaftar dalam doamu? Sederhana saja, aku hanya ingin didoakan agar aku bisa lebih dewasa lagi dalam menjalani hidup. Karena seperti yang kamu tau sejak dulu, hidup yang kujalani terkadang terlalu berat untuk dilampaui. 

Ah, terkadang aku ingin sekali berbagi cerita denganmu. Ya, sebagai apapun asalkan tidak ada yang merasa tersakiti. Dengan tiadanya kamu aku suka linglung harus bercerita kepada siapa. Sulit menemukan seseorang yang bisa membuat hati ini membebaskan perasaannya untuk bercerita. Akhir-akhir inipun ingatanku terdampar ke kamu karena beban yang menumpuk di pikiranku sudah mengendap terlalu lama. Aku butuh sedikit pencerahan agar bebanku bisa sedikit berkurang, dan aku tau pencerahan itu bisa kudapat dari nasehatmu. Tapi tenang saja, aku tau diri sekali. Tak mungkin aku meminta kamu menyediakan waktu hanya untuk mendengar keluh kesahku.

Oia, apa kamu mau tau satu hal tentangku? Sekarang aku semakin senang menulis. Terpujilah Tuhan karena Ia mempertemukanku dengan seseorang yang bisa membimbingku untuk tekun menulis. Dan jangan khawatir, meski tadi aku sempat mengeluh tentang beban hidupku, aku tetap baik-baik saja. Seperti janjiku dulu saat berucap pisah denganmu. Apapun yang terjadi, aku akan tetap baik-baik saja. Sebelum kuakhiri surat ini, ada satu hal lagi yang ingin kusampaikan. Banyak salam yang dititip padaku untukmu. Aku hampir lupa dari siapa saja itu. Yang pasti mereka semua merindukanmu.

Baiklah. Mungkin sebaiknya kuakhiri suratku ini sampai di sini. Aku harap kamu baik-baik saja disana. Jagalah kesehatanmu dan cepatlah kembali. Banyak orang yang menantikan kepulanganmu, termasuk aku. Dan kamu tak perlu membalas suratku ini. Cukup kamu pulang dengan kesuksesan, itu sudah lebih dari cukup untuk membalas suratku. Sukseslah kamu dengan segala usahamu. Doakan aku agar juga memiliki kesuksesan yang sama bahkan lebih darimu. Akhir kata, sampai berjumpa lagi di bulan Desember!

Dengan penuh kasih,
Vierena.

Kamis, 20 Februari 2014

Santai Saja

Dear Tuan yang tak punya mimpi.

Sayang, apa gerangan yang membuatmu terburu-buru?
Segitu kejamnya kah hari mengancammu untuk segera berburu waktu?
Tak habis pikir aku dengan hidupmu yang tanpa mimpi itu.
Apakah dunia yang kau jalani begitu indah hingga kau tak perlu lagi fiksi untuk kau khayalkan?

Sayang, janganlah terburu-buru menghempaskan mimpi dari hidupmu.
Tanpa kau tau mimpi memiliki kekuatan magis untuk menambah semangatmu.
Kelak mimpilah yang akan merengkuhmu pada pelukan masa depan.
Lagipula, bukankah dewi fortuna berteman baik denganmu?
Jadi, tak usahlah kau ragu untuk bermimpi.

Kupikir, Tuhan tak akan setega itu sampai tak memberimu mimpi indah.
Pasti dengan lapang Ia akan memberimu ruang untuk mencipta mimpimu sendiri secara sadar.
Beranilah menjadi pencipta bagi mimpimu sendiri, kamu diberi kehendak bebas untuk itu.
Jangan terburu waktu, rileks dan santai saja.
Perlahan, susun mimpimu serapi dan setinggi mungkin, lalu kolaborasikan dengan mimpiku.

Dan kalau kugali lagi memoriku.
Bukankah kamu yang sedari awal mengajariku bermimpi?
Bagaimana mungkin kemarin kamu bisa berkata bahwa kau tak memiliki mimpi?
Atau mungkin itu sebuah isyarat bahwa kamu mau berduet denganku untuk membangun sebuah mimpi yang baru?

Jika iya, ayo kita lakukan.
Santai saja, tapi jangan sampai buang waktu lama.
Cukup kita renda sebuah mimpi sederhana.
Tak usah megah, cukup kita berdua yang mencipta itu juga sudah istimewa.
Dan ketika akan mengakhiri surat ini, muncul suatu ide baru lagi untuk bermimpi.
Aku berimpian untuk bisa menulis lagi setelah ini, denganmu tentunya.

Bagaimana sayang, berminat untuk menjadi rekanku dalam mewujudkan mimpi itu?
 
With love,
aku,
Nona yang masih saja suka bermimpi.

Selasa, 18 Februari 2014

Masih Perihal Mimpi

Peluk sayangku dari jauh untukmu, Tuan Imajinasiku.

Selamat siang menjelang sore, Sayangku.
Aku sudah membaca surat ucapan syukurmu kemarin. Dan tidak seperti biasanya, aku membaca surat itu berulang kali sampai tak terhitung oleh jemari tanganku. Aku bahagia, menjadi salah satu alasan untukmu mengucap syukur adalah salah satu kebahagiaan tak terhingga yang Tuhan anugerahkan bagiku. Mungkin dalam surat itu kamu tidak menjawab tawaranku yang memintamu untuk menceritakan bagaimana mimpimu kepadaku. Baiklah, kuharap kamu bisa menceritakan perihal mimpimu itu di lain waktu. Di surat berikutnya, mungkin?

Masih soal mimpi. Hari ini lagi-lagi aku bermimpi tentangmu. Bukan, mimpi yang kali ini bukan murni bunga tidur yang Tuhan hadiahi untukku. Mimpi yang satu ini adalah hasil imajinasiku ketika mengirimkan surat permohonan kencan yang kuajukan kepada salah satu tukang posku dalam proyek 30 hari menulis surat cinta. Betapa beruntungnya aku. Karena tanpa perlu pusing memikirkan untuk siapa aku mengirimkan surat hari ini, aku bisa menentukannya dengan cepat dan tepat tentunya. Ya, tanpa perlu berpikir lagi aku mengajukan surat permohonan kencan itu untukmu. Pacarku yang juga bertugas sebagai tukang posku.

Entahlah, hanya dalam waktu hitungan beberapa menit saja aku mampu menulis banyak kata hingga menimbun aksara dalam belantara surat cinta. Kamu memang mampu menjadi muara dari segala imajinasiku, Sayang. Ah, andai segala imajinasiku itu dapat kurealisasikan bersamamu. Tapi aku yakin cepat atau lambat segala mimpi-mimpi yang telah kita ciptakan secara sadar itu tidak hanya sekedar menjadi sampah perandaian. Percayalah, kelak kita akan mampu meraih asa yang telah kita rajut bersama ini.

Sayang, badai dan segala kerikil kecil akan semakin gemar menghantam kita dalam perjalanan. Aku harap kamu selalu siap menggenggam tanganku sampai asa itu menjadi milik kita. Bukankah kamu pernah berkata bahwa dunia akan tercengang hebat ketika melihat kita berdua mampu berdiri bersama dengan mimpi-mimpi yang telah terwujud? 

Ayolah, mari kita percepat waktu untuk mengejutkan dunia ini. Ayo kita bangun dan berlari bersama mewujudkan mimpi-mimpi kita itu. Jiwaku begitu bergelora untuk segera masuk ke dunia yang telah kita impikan itu. Tapi sayang, kalaupun di tengah perjalanan nanti aku lelah dan ingin berhenti. Tolong kamu ingatkan kembali ambisiku yang terlalu ingin membahagiakan kita. Agar perhentianku itu hanya untuk sementara dan selanjutnya aku akan beranjak lagi bersamamu menapaki jalan impian.

Dan yang terakhir yang tak boleh terlupakan.
Tetaplah kita menyandarkan pengharapan kita kepada Dia yang telah merenda karya indah bagi kita. Berdoalah dengan tekun bersamaku. Agar rencana kita sejalan dengan rencana yang telah diguratkanNya bagi kita. Dan supaya Ia memelihara aku dan kamu dari segala ancaman yang hendak memisahkan kita.

Baiklah, Sayang. Mungkin keinginanku terlalu sempurna untuk bisa bersamamu, selalu. Ada kalanya juga kita perlu bersiaga terhadap semesta yang tak melulu sesuai dengan dugaan. Tapi bukankah kita selalu dibebaskan untuk bermimpi? Tentu dengan syarat kita harus ingat untuk bangun dan mewujudkannya. Lagipula Tuhan kita itu Maha Pengasih, tiada kata mustahil dalam kamusNya bagi kita. Bagaimana, beranikah kamu meraih segala mimpi kita itu bersamaku? Oia, tetap kutunggu cerita-cerita tentang mimpimu ya, Sayang!

Masih denganku,
Nona pemimpimu.

Kencan Seharian #NaikAgya Bersamamu

Selamat sore pemain bolanya Bosse, @sunoesche.

Sedang apa kamu sekarang, Suno?
Ehm, sepertinya agak canggung jika aku menyapamu dengan menggunakan nama.
Aku juga yakin kamu pasti sedang menahan tawa ketika matamu menangkap sapaan penuh basa-basiku itu.
Begini saja, bagaimana jika aku tetap memanggilmu "sayang" seperti biasanya? Toh ini adalah salah satu keberuntunganku yang memiliki kamu. Seorang pacar yang berperan ganda sebagai tukang posku. Ah, iya ini keuntungan berganda juga bagiku. Karena selain bisa melepaskan penat melalui tulisan, aku juga diberi kesempatan untuk mengajakmu kencan. Dan istimewanya lagi, kencan kali ini disponsori oleh Toyota yang berbaik hati meminjamkan salah satu produksi mobil terbaiknya untuk kita kencan seharian. Ya, dengan mobil Agya yang telah disediakan untuk kita aku ingin mengajakmu berekreasi sejenak dari segala kesibukan kita ke kota tetangga, ke Bandung. Tidak ada alasan khusus mengapa aku memilih kota Bandung sebagai tujuan kita. Lagipula asal bersamamu aku yakin segala perjalananku akan lengkap dengan kebahagiaan.

Aku sudah merencanakan semuanya dengan baik. Seperti yang kamu tau, aku adalah perencana yang handal terlebih dalam urusan kencan. Hal pertama yang harus kita lakukan adalah menentukan hari untuk mengambil cuti dari segala rutinitas kita. Kusarankan untuk memilih tanggal 6 Maret. Kenapa? Selain karena di tanggal itu tidak ada kegiatan organisasi yang berarti, proyek 30 hari menulis surat cinta pun sudah selesai terlaksana. Jadi kita bisa berkencan tanpa terbeban dengan segala macam pekerjaan lainnya. Pekerjaanku sebagai sekretaris dan pekerjaanmu sebagai tukang pos tidak akan ada yang terbengkalai bukan? Dan terlebih daripada itu semua, tanggal 6 adalah hari jadi aku menerimamu sebagai pacar. Ya, hitung-hitung kita sekalian merayakan hari jadi kita yang ke delapan bulan itulah.

Saat tanggal enam nanti tiba, aku akan membangunkanmu tepat pukul lima pagi. Kita akan bersiap selama satu jam dan kita berangkat dari Depok pukul enam pagi. Kamu tidak usah khawatir kakimu pegal, karena pada kenyataannya mobil Agya memiliki kabin yang luas sehingga kamu bisa dengan nyaman meregangkan otot-otot dari kakimu yang terbilang panjang itu. Lalu kita akan menikmati perjalanan kita dari Depok sampai ke Bandung sekitar kurang lebih tiga jam. Tentunya kamu tidak perlu pusing memikirkan bahan obrolan denganku selama dalam perjalanan. Ketahuilah, aku tidak akan pernah habis akal untuk mengajakmu berbincang-bincang. Kalau-kalau kamu bosan mendengar ocehanku, aku punya solusinya kok. Cukup kamu masukkan saja lagu-lagu Cherrybelle kesukaanmu ke dalam flashdisk, karena mobil kece yang satu ini juga memiliki fitur hiburan yang dapat terkoneksi dengan USB. Baru dalam perjalanan saja semua ini sudah terasa menyenangkan bukan? Apalagi jika sudah sampai tujuan. Kamu pasti akan ketagihan kencan bersamaku.

Oke, lanjut.

Berhubung kondisi arus perjalanan Depok-Bandung yang terkadang sulit dipediksi, aku ingin mengajakmu mengatur strategi untuk mengatasi kemacetan. Dan lagi-lagi kukatakan, tidak perlu khawatir. Karena dengan bentuknya yang sangat dinamis dan mesin handal yang dimilikinya, mobil Agya ini akan mampu membawa kita membelah arus kemacetan dalam perjalanan kita nanti.

Sesampainya di Kota Kembang itu, aku akan langsung mengajakmu sarapan sekedar untuk mengisi perut sebelum makan siang di tukang mie kocok yang pernah kusambangi. Tukang mie kocok itu terletak di Jl. Bungsu. Mungkin itu juga adalah tukang mie kocok langgananmu ya, Sayang? Hmm, yang jadi masalah disini adalah aku bukan navigator yang baik dalam perjalanan apapun, terutama di kota Bandung yang bukan kota tempatku tinggal. Bagaimana kalau kita bertukar peran, aku yang menjadi supir dan kamu yang mengarahkan jalan. Tentunya ada beberapa daerah yang kamu kenal kan di Bandung ini? Biar bagaimanapun, Bandung adalah kota yang telah menjadi saksi masa kecilmu, Sayang. Dan ketahuilah, aku memang tidak bisa menyetir mobil manual. Tapi untung saja, mobil Agya ini memberi pilihan dengan menawarkan mobilnya yang bertransmisi automatic. Sehingga aku dapat dengan mudah menggantikanmu mengendarai mobil dalam kencan kita ini.

Sudah hampir siang. Sembari menunggu jam makan siang yang tinggal beberapa jam lagi, aku ingin mengajakmu berbelanja di Cihampelas Walk. Kata temanku yang berkuliah di Bandung, Cihampelas Walk ini adalah surganya penikmat belanja. Aku yang perempuan sejati ini tentunya tak ingin melewatkan tempat itu jika ke Bandung. Aku harap kamu tidak hanya menemaniku. Kamu juga bisa ikut berbelanja bersamaku. Kamu bisa membeli beberapa barang yang menarik perhatianmu. Dan lagi-lagi kamu tidak perlu khawatir dengan ongkos bensin saat kita pulang nanti. Karena dari informasi yang kudengar, mobil Agya ini memiliki bobot yang ringan sehingga mampu menekan konsumsi bahan bakar yang digunakan. Jadi selain kita bisa mengalihkan uang bensin untuk berbelanja, dengan kelebihan efiensi bahan bakar yang dimiliki mobil Agya ini kita juga jadi bisa memanfaatkannya dengan berjalan-jalan lebih jauh lagi.

Untuk makan siangnya, bagaimana jika kita berwisata kuliner saja? Kita cicipi seluruh makanan khas Bandung yang banyak kita temui di sepanjang perjalanan kita nanti. Dan sore harinya aku ingin mengajakmu ke Kawah Putih. Disana aku hanya ingin sekedar menikmati suasana alam yang tenang dan damai bersamamu. Menggenggam tanganmu di hamparan pasir berwarna putih sembari memanjakan mata dengan keindahan air danau yang berwarna kehijauan. Astaga! Baru membayangkannya saja aku sudah tersenyum sendiri, seolah-olah ada sesuatu yang ingin membuncah dari dadaku. Disana kita tak perlu memikirkan apa-apa selain tentang kita berdua. Cukup menikmati apa yang ada disana; aku, kamu dan alam semesta yang Tuhan izinkan menjadi saksi kebahagiaan kita.

Setelah puas menikmati keindahan alam kawah putih dan seiring ditelannya senja oleh langit malam,  kitapun harus ingat untuk pulang. Memang keindahan kencan kita ini seolah-olah menyangkari kita untuk memaksa waktu berhenti. Namun keluarga dan juga tugas-tugas yang lain sudah menanti kepulangan kita. Oh, iya! Jangan sampai kita lupa membeli oleh-oleh untuk mereka yang menanti kepulangan kita. Aku berencana untuk membeli beberapa kotak dus brownies khas Bandung untuk keluargaku dan pernak-pernik khas Bandung untuk teman-teman kita. Kamu tak perlu memikirkan banyaknya barang belanjaan kita tadi yang bertengger manis di bagasi, karena bagasi mobil Agya ini terbilang cukup luas sehingga kita bisa menaruh oleh-oleh sekaligus barang belanjaan kita tadi di dalam bagasi mobil Agya ini.

Oia, Sayang. Kalau kamu tak puas hanya sehari saja berkencan naik Agya bersamaku. Bagaimana jika kita menabung untuk membeli mobil ini? Kudengar harga mobil Agya ini sangat terjangkau loh. Jadi kitapun tak perlu berlama-lama menabung hanya untuk mendapatkan sebuah kendaraan yang nyaman. Karena dengan harga yang terjangkaupun kita sudah mampu memiliki mobil Toyota Agya ini.

Nah, menyenangkan bukan rencana kencan seharian naik Agya yang telah kususun rapi ini?
Bagaimana kalau hal ini tidak hanya sekedar kita jadikan wacana?
Berkenankah kamu merealisasikannya bersamaku?

Sekian dariku,
yang menunggu jawabanmu.

Senin, 17 Februari 2014

Ytc. Tubuh Tempatku Berasal

Untukmu,
Ytc. Tubuh Tempatku Berasal

Kamu.
Entah siapa kamu, aku masih belum tau.
Tapi aku percaya, entah kapan itu kamu akan menjadi pasanganku, seumur hidup.
Pria yang akan selalu mengisi celah dalam jemariku, sudahkah sampai detik ini kita pernah bertemu?
Sudah atau belum jawabannya, yang pasti kamu akan menjadi titik henti dari pencarianku ke segala penjuru selama ini.
Ketahuilah, jika sampai kini kita belum bersatu di altar suci itu bukan karena kamu maupun aku.
Percayalah, itu hanya persoalan waktu. Mari bersama kita sandarkan pengharapan kita kepada Dia yang ahli meleburkan dua hati menjadi satu. Pun jika kita ditakdirkan untuk bersama, kita pasti tak akan kemana. Aku dan kamu akan berjalan dan bertemu pada tempat yang sama; pada kita.
Kamu, jika Tuhan membawamu untuk membaca surat ini sebelum aku sendiri yang memperlihatkannya padamu, izinkanlah aku untuk memohon sesuatu.
Kumohon dengan sangat agar kau terus menjaga bahagiaku yang Tuhan titipkan padamu untuk kau berikan padaku nanti. Mohon persiapkan dirimu untuk saling memiliki dan mencinta denganku yang akan mendampingimu. Dan sembari menunggu waktu yang telah ditetapkanNya bagi kita, mari aku dan kamu bersama memperbaiki diri untuk layak menjadi tempat singgah selamanya bagi masing-masing kita.
Yakinilah bahwa kamu adalah pria hebat yang mampu meluluhkan kekerasan hatiku yang terlalu sering dimanjakan rasa ego. Kamupun pasti lebih dari sederhana ketika mampu membuatku tak henti bersyukur karena keberadaanmu di sisiku.
Aku percaya, aku yang adalah tulang rusukmu ini akan dipertemukan denganmu melalui guratan tangan Tuhan yang tak terprediksi. Dia memiliki cara indah untuk menaruh kembali tulang rusuk ini pada tubuh yang tepat; tubuhmu. 
Akupun percaya, kamu sudah memenuhi permohonanku ketika cincin yang sama telah melingkar di jari manis kita. Sebab kamu adalah jawaban dari ribuan hari aku melipat jemari, dimana aku mengirimkan permohonan doa kepada Tuhan. Dan kamulah hadiah yang sempat disembunyikan Tuhan ketika aku lulus merelakan orang-orang yang pernah kucintai pergi dari padaku. 
Kelak jika bersatu nanti, cintailah aku sepenuh hatimu tanpa kata kecuali.

Dengan penuh cinta,
tulang rusukmu. 

Minggu, 16 Februari 2014

Mimpi

Dear, Tuan yang sedang sibuk-sibuknya.

Selamat pagi menjelang siang, sayang.
Bagaimana kesan hari pertamamu kemarin yang bertugas menggantikan peran Om Em sebagai tukang pos penggalang?
Aku harap menyenangkan ya.
Oia, sekedar memberi tau saja. Aku menulis surat ini sembari memakan cokelat darimu loh.
Sayang, aku mau cerita.
Semalam aku memimpikan kamu, memimpikan kita.
Di mimpiku itu entah bagaimana prosesnya tiba-tiba saja kita sudah menikah dan memiliki empat anak, tiga laki-laki dan satu perempuan. Dan entah apa yang sedang dipikirkan Tuhan hingga memberi mimpi yang begitu indah semalam karena keempat anak yang muncul di mimpiku itu sangat lucu dan menggemaskan. Si sulung sangat tampan, tinggi putih dan memiliki mata yang kecil sepertiku. Si gadis kecil, anak terbungsu di mimpiku memiliki hidung yang mancung sepertimu, dia masih bayi. Namun dari kulitnya yang kemerah-merahan dapat ditebak seputih apa kulitnya saat sudah beranjak dewasa nanti. Dua yang lainnya juga sangat lucu, sepertinya umur mereka masih seusia anak-anak sekolah dasar. Tapi entahlah, Tuhan tidak menginformasikan berapa usia mereka di dalam mimpiku itu. Masih ada beberapa penggalan cerita yang Tuhan taruh di mimpiku, yang masih dapat kuingat jelas. Salah satunya ketika kita berenam; aku kamu dan keempat anak-anak dalam mimpiku itu makan malam bersama di sebuah kedai tradisional ala budaya Jepang. Disana kita makan, mengobrol, tertawa, dan berbagi kasih bersama seperti bagaimana layaknya keluarga yang mencapai puncak kebahagiaan mereka.
Alasan Tuhan menjadikan kedai itu sebagai latar mungkin sekedar untuk menghiburku yang kemarin malam sempat memberi wacana kepadamu bahwa suatu saat nanti aku ingin ke Osaka saat musim semi bersamamu. Ah, indah sekali mimpi semalam. Pagi tadi saat bangun tidur sebelum cerita-cerita dalam mimpi itu menguar bersama dengan aktivitas hari ini, aku langsung berdoa. Berharap penuh kepada Tuhan agar mimpiku semalam dapat digenapi dalam dunia nyata. Kamu tidak keberatan kan dengan harapanku itu?

Nah itu tadi mimpiku.
Kalau boleh, bagaimana jika dalam surat berikutnya kamu juga menceritakan mimpimu kepadaku.
Kalau memang kamu tidak bermimpi saat tidur atau kamu lupa akan mimpimu saat tak sadar itu, cobalah ceritakan mimpi-mimpi yang kamu ciptakan sendiri saat kesadaranmu penuh terjaga. Dan tentunya aku akan lebih senang jika aku juga diperkenankan untuk mendapat peran di dalamnya.

Baiklah sayang. Itu saja yang ingin aku tuangkan dalam surat hari ini. Sekalian aku mau mengingatkan bahwa hari ini orang yang menjadi media Tuhan untuk mendekatkan kita sedang berulang tahun loh. Sudah banyak semoga yang aku panjatkan untuknya setelah aku mendoakanmu semalam. Akhir kata, selamat hari Minggu sayangku. Selamat menikmati berkat Tuhan di hari yang kudus ini.

Dengan penuh cinta,
Nona pemimpimu.

Untuk Presidenku Selain SBY

Depok, 16 Februari 2014
Nomor: ISTIMEWA
Perihal: Ucapan Selamat

Kepada:
Yth. @RyanSyukra
Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi
Universitas Gunadarma
di manapun berada

Selamat pagi, siang, sore, malam, Pak Presiden.
Selamat berulang tahun yang ke 20. Eh atau 21 ya?
Ah, maaf. Saya lupa. Atau tidak tau lebih tepatnya.
Maafkan sekretarismu yang payah ini. Bahkan umurmu saja aku lupa berapa jumlahnya.
Memang dibanding wakilmu itu saya jauh lebih payah dalam bermain angka.
Ya tapi berapapun umur anda saat ini, saya ucapkan selamat.
Selamat karena berhasil menempuh usia yang lebih tinggi dari hari kemarin.
Sederhana saja yang saya hadiahi untuk anda hari ini; doa.
Doa dengan semoga yang lebih banyak dari biasanya saya rapalkan khusus untuk anda.
Dan tentu saja, saya berharap Tuhan menggenapi setiap semoga yang saya panjatkan untuk anda.
Tak banyak kata yang dapat saya ucap dalam surat ini.
Tanpa kop surat, EYD yang benar, serta cap basah yang resmi, pastinya surat ini akan mendapat banyak revisi darimu.
Tak apalah, saya harap ada toleransi tak terduga di hari yang spesial ini.
Selamat bertambah dewasa, Pak Presiden.
Tetaplah hebat dalam kepemimpinan anda!
Solidaritas, totalitas dan loyalitas adalah harga mati yang telah anda tawarkan kepada saya.
Terima kasih atas kepercayaan anda terhadap saya selama ini dan sampai kesudahannya.
Sekali lagi, selamat menempuh umur yang baru.
Bertambahlah dewasa, Pak.

Hormat saya,


Sekretaris Cantik :)

Catatan : Bahasa dalam surat ini saya buat seformal mungkin karena pada kenyataannya kita tidak pernah seperti ini. Tak ada salahnya kan mencicipi sesuatu yang berbeda? :) 
Saya pakai jasa Wakil anda yang saat ini sedang berganti peran sebagai tukang pos agar menyampaikan surat ini kepada anda. Semoga beliau dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan menyampaikan surat ini pada Anda. Sekian dari saya. Salam Mahasiswa!

Jumat, 14 Februari 2014

Cokelat

Surat ini kutulis ketika berita tentang bencana Gunung Kelud beredar dimana-mana.
Di saat kebanyakan orang-orang di dunia bersuka merayakan hari Valentine dan bumi pertiwi kita tengah berduka.
Ketika kita baru saja beristirahat sejenak dari perjalanan melelahkan tanpa hasil, Depok-Bogor-Depok.
Kamu berada tepat di hadapanku ketika huruf demi huruf dalam surat ini mulai lahir dan siap bertautan dengan huruf lainnya sehingga membentuk kata lanjut rangkaian kalimat yang semoga indah untuk dibaca.
Lucu memang, menuliskan sebuah surat untuk seseorang yang bahkan bisa kugapai dengan jangkauan tanganku. Tapi tak apalah, anggap saja ini salah satu cara unik yang kumiliki untuk membalas pemberian cokelatmu yang masih tersimpan manis di dalam tasku.

Untukmu, Tuan kesayanganku yang senyumnya mahal.

Halo Tuan, pertama-tama kuucapkan terima kasih untuk cokelat yang kamu berikan sekitar satu jam yang lalu. Maaf jika responku tidak sesuai dengan ekspetasi yang kau kemas rapi menyertai cokelat itu. Aku hanya terlalu terkejut dengan hal manis yang kau bungkus dengan sederhana itu. Karena jujur, mungkin ini bukan pertama kalinya aku mendapatkan cokelat dari seorang laki-laki di hari Valentine. Tapi ini adalah kali pertama dimana pria yang menjadi kekasihku dengan sangat manis memberikan sebuah cokelat di hari yang diagungkan orang banyak sebagai hari kasih sayang.

Kuberitahu sedikit. Saat kecil dulu aku selalu bertanya-tanya mengapa makanan yang dipilih untuk menjadi simbol hari kasih sayang ini adalah cokelat. Kini dengan pemikiranku sendiri aku mengambil kesimpulan. Kenapa hari Valentine itu diidentikan dengan cokelat karena rasa coklat yang pahit namun manis dan seringkali membuat ketagihan. Selain karena cokelat dapat mengembalikan emosi seseorang yang kesal dapat membaik secara perlahan, hal yang pertama itulah yang mungkin menjadi alasan yang masuk akal (bagiku). 

Ya, sama halnya dengan cokelat, begitu jugalah cinta yang sedang kita bangun bersama. Meski kita tau ada hal pahit yang akan kita rasakan bila kita berani untuk jatuh cinta pada seseorang, namun ada hal manis yang menggelitik rasa penasaran kita untuk mencicipi cinta itu. Kita tau, apapun bentuknya cinta pasti akan berujung pada hal pahit yang sulit untuk kita terima; perpisahan. Bagaimanapun caranya suatu saat nanti kita akan berpisah dengan orang yang kita cintai. Entah itu melalui orang ketiga, ketidakcocokan, pertengkaran, ataupun maut. Tapi indahnya, meskipun kita tau resiko yang kita terima saat mencintai seseorang itu pahit rasanya. Namun kita tak pernah kapok untuk kembali  lagi mencintai orang lain, kembali lagi berteman dengan cinta. Kenapa? Karena sama seperti cokelat, rasa manis yang ada akan mampu menutupi dan mendominasi rasa pahit pada cokelat; pada cinta.

Ah, sepertinya aku mulai terlalu banyak berteori sendiri. Kamu yang sekarang berada di depanku sudah jelas terlihat sangat bosan menungguku selesai berurusan dengan laptopku ini. 
Baiklah, kuselesaikan dulu suratku untuk hari ini. Sepertinya akan jauh lebih baik kalau aku berbicara langsung denganmu.

Aku menyayangimu Suno Christiawan.
Jika diberi hak untuk menamai hari, setiap hari akan kunamakan hari kasih sayang.
Namun terlalu egois, karena hal itu hanya beralaskan kamu tanpa memikirkan orang-orang lainnya.
Apapun nama hari ini, aku bersyukur masih bisa menyayangimu, begitu juga sebaliknya.
Semoga di surat berikutnya ada hal yang lebih menyenangkan yang dapat kita bahas.
Kuakhiri surat ini dengan penuh ucapan syukur kepada Tuhan yang telah mempertemukan kita.

Dariku, Nona yang sedang menanti senyummu hari ini.
 

Senin, 10 Februari 2014

Mama Selalu Bisa

Surat ini ditulis atas dasar rasa cinta yang mendalam kepada wanita terhebat yang telah melahirkanku ke dalam dunia ini. Mungkin aku terlalu canggung untuk memberikannya secara langsung melalui kertas surat biasa. Namun biarlah jemariku menari dengan lembut di atas belantara huruf-huruf ini sembari diiringi lantunan suara hati. Dan melalui halaman maya ini kutuangkan sedikit tulisan yang timbul dari rasa terima kasihku yang tak terhingga kepadamu, Mama.

Surat ini kutujukan untuk Mama yang selalu bisa.

Ketika aku belum mengenal dunia...

Mama selalu bisa menahan diri untuk tidak mengkonsumsi makanan yang pantang bagi kesehatanku yang saat itu masih berupa janin. Mama selalu bisa menahan rasa mual saat meminum susu yang tidak disukainya hanya demi diriku, agar aku mendapatkan nutrisi yang cukup.

Mama selalu bisa mengelus dengan lembut perutnya yang mulai membesar karena aku yang berada di dalamnya mulai bertumbuh.

Mama selalu bisa tanpa mengeluh membawaku kesana kemari selama sembilan bulan aku berdiam di dalam rahimnya.

Mama selalu bisa walaupun rasa sakit meliputinya, namun dengan kekuatan penuh cinta Mama melahirkanku, anak keduanya. Agar aku bisa mengenal dunia dan tidak terus menerus merasa sendiri di dalam rahimnya.

Ketika aku kecil...
 
Mama selalu bisa dengan pandai mengenalkanku pada dunia dan dengan penuh ketulusan memberiku cinta.

Mama selalu bisa dengan penuh kesabaran, tanpa lelah mengikuti aku kemanapun kaki kecilku mencoba untuk berjalan meski tertatih. Tangan mama selalu siap menopang ketika aku hendak terjatuh karena belum seutuhnya memiliki keseimbangan.

Mama selalu bisa menyuapiku di saat aku mulai tidak nafsu makan. Bujuk rayunya mampu membuatku mau menelan sayuran yang tidak kusukai sekalipun.

Mama selalu bisa dengan lihai mengajariku bertutur kata dengan baik. Mama selalu bisa membawaku untuk mampu bersosialisasi dengan lingkungan baruku. Berkat dirinya aku bukan hanya memiliki banyak teman tapi juga disukai oleh banyak guru-guru di sekolahku.

Mama selalu bisa mengobati setiap luka-lukaku saat aku terjatuh. Ditiupnya lukaku pelan-pelan ketika aku mulai menjerit kesakitan akibat tetesan obat. Dengan sabar Mama melakukan hal itu berulang-ulang sampai lukaku hilang tanpa bekas.

Mama selalu bisa menularkan hobinya yang positif kepadaku. Tak heran jika sejak umur tiga tahun aku sudah pandai mengeja kata demi kata sehingga ibu guruku saat taman kanak-kanakpun tidak pernah kesulitan untuk mengajariku membaca maupun menulis. Dan hingga kini buku telah menjadi makanan keduaku setelah nasi, itupun karena Mama selalu bisa memberiku uang untuk membeli buku-buku yang baru.

Mama selalu bisa dengan cara yang cerdik mendidikku untuk rajin belajar. Caramu yang cerdiklah yang membuatku selalu lebih unggul dari teman-temanku sejak taman kanak-kanak sampai sekarang.

Mama selalu bisa meracik masakan yang bumbunya terasa pas di lidahku. Makanan buatanmu selalu menjadi yang juara untuk lidahku, bahkan sampai saat ini.

Ketika aku beranjak dewasa...

Mama selalu bisa menjadi teman terbaikku meskipun aku memiliki banyak teman di luar sana. Mama selalu menjadi tempatku berpulang ketika aku mulai lelah menghadapi masalah yang tidak pernah kutemui saat masih kecil.

Mama selalu bisa memelukku ketika aku patah hati karena cinta. Pelukannya pun selalu ada ketika aku bertengkar dengan sahabatku. Padahal dibanding dengannya, waktuku lebih banyak kuhabiskan di luar sana, dengan sahabatku juga pacarku.

Mama selalu bisa membasuh air mataku ketika aku sedang bersedih. Entah karena nilaiku yang tidak memuaskan atau karena hal lain yang mungkin sepele baginya. Meskipun baginya masalahku adalah hal biasa, namun ia tak pernah meremehkan setiap masalahku, sekecil apapun itu.

Mama selalu bisa dengan lihai mengajariku memasak. Agar kelak aku tidak kerepotan menyajikan makanan untuk suamiku, begitu pesannya.

Mama selalu bisa dengan sabar mengurus kucing-kucing peliharaanku yang kuabaikan akibat tugas kuliah yang menumpuk. Padahal saat libur, aku tak pernah membantu pekerjaan rumahnya tanpa disuruh.

Mama selalu bisa dengan rajin mengingatkanku untuk tidak terlambat makan ketika kegiatanku mulai menguras seluruh pikiran, tenaga bahkan waktuku. Dan ketika aku jatuh sakit karena mengabaikan peringatannya, Mama juga selalu bisa merawatku hingga aku sehat kembali.

Mama selalu bisa menahan kantuk hanya untuk menungguku yang pulang terlalu larut. Tak jarang ia menahan lapar untuk menungguku pulang dan makan di rumah bersamanya.

Mama selalu bisa mengajakku memandang dunia dengan lebih luas lagi. Mama selalu menceritakan kegagalannya padaku, agar kelak aku tak mengalami kegagalan yang sama dengannya. Ia tak mempedulikan rasa malunya ketika menceritakan kegagalannya demi membuatku berhasil melebihi dirinya.

Mama selalu bisa meluangkan waktu untuk berlutut membalut namaku di dalam doanya. Meskipun Mama tau, aku jarang melakukan hal serupa untuknya tapi ia tak pernah menuntutku untuk mendoakannya kembali.

. . .

Masih banyak kebisaan Mama yang lain tapi ternyata jemariku tak cukup kuat untuk menuliskannya. Dan halaman maya ini tak cukup luas untuk membukukan kebisaan Mama. 
Terima kasih, Mama. Terima kasih untuk dirimu yang selalu bisa melakukan apapun untuk kebaikanku. Tunggu aku sampai aku bisa menjadi kebanggaanmu. Dan panjanglah umurmu, agar kelak kau bisa melihat kebisaan dirimu ada padaku.

Salam sayang,
putrimu.