Minggu, 16 Februari 2014

Mimpi

Dear, Tuan yang sedang sibuk-sibuknya.

Selamat pagi menjelang siang, sayang.
Bagaimana kesan hari pertamamu kemarin yang bertugas menggantikan peran Om Em sebagai tukang pos penggalang?
Aku harap menyenangkan ya.
Oia, sekedar memberi tau saja. Aku menulis surat ini sembari memakan cokelat darimu loh.
Sayang, aku mau cerita.
Semalam aku memimpikan kamu, memimpikan kita.
Di mimpiku itu entah bagaimana prosesnya tiba-tiba saja kita sudah menikah dan memiliki empat anak, tiga laki-laki dan satu perempuan. Dan entah apa yang sedang dipikirkan Tuhan hingga memberi mimpi yang begitu indah semalam karena keempat anak yang muncul di mimpiku itu sangat lucu dan menggemaskan. Si sulung sangat tampan, tinggi putih dan memiliki mata yang kecil sepertiku. Si gadis kecil, anak terbungsu di mimpiku memiliki hidung yang mancung sepertimu, dia masih bayi. Namun dari kulitnya yang kemerah-merahan dapat ditebak seputih apa kulitnya saat sudah beranjak dewasa nanti. Dua yang lainnya juga sangat lucu, sepertinya umur mereka masih seusia anak-anak sekolah dasar. Tapi entahlah, Tuhan tidak menginformasikan berapa usia mereka di dalam mimpiku itu. Masih ada beberapa penggalan cerita yang Tuhan taruh di mimpiku, yang masih dapat kuingat jelas. Salah satunya ketika kita berenam; aku kamu dan keempat anak-anak dalam mimpiku itu makan malam bersama di sebuah kedai tradisional ala budaya Jepang. Disana kita makan, mengobrol, tertawa, dan berbagi kasih bersama seperti bagaimana layaknya keluarga yang mencapai puncak kebahagiaan mereka.
Alasan Tuhan menjadikan kedai itu sebagai latar mungkin sekedar untuk menghiburku yang kemarin malam sempat memberi wacana kepadamu bahwa suatu saat nanti aku ingin ke Osaka saat musim semi bersamamu. Ah, indah sekali mimpi semalam. Pagi tadi saat bangun tidur sebelum cerita-cerita dalam mimpi itu menguar bersama dengan aktivitas hari ini, aku langsung berdoa. Berharap penuh kepada Tuhan agar mimpiku semalam dapat digenapi dalam dunia nyata. Kamu tidak keberatan kan dengan harapanku itu?

Nah itu tadi mimpiku.
Kalau boleh, bagaimana jika dalam surat berikutnya kamu juga menceritakan mimpimu kepadaku.
Kalau memang kamu tidak bermimpi saat tidur atau kamu lupa akan mimpimu saat tak sadar itu, cobalah ceritakan mimpi-mimpi yang kamu ciptakan sendiri saat kesadaranmu penuh terjaga. Dan tentunya aku akan lebih senang jika aku juga diperkenankan untuk mendapat peran di dalamnya.

Baiklah sayang. Itu saja yang ingin aku tuangkan dalam surat hari ini. Sekalian aku mau mengingatkan bahwa hari ini orang yang menjadi media Tuhan untuk mendekatkan kita sedang berulang tahun loh. Sudah banyak semoga yang aku panjatkan untuknya setelah aku mendoakanmu semalam. Akhir kata, selamat hari Minggu sayangku. Selamat menikmati berkat Tuhan di hari yang kudus ini.

Dengan penuh cinta,
Nona pemimpimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar