Rabu, 19 Februari 2014

Masihkah 19 Spesial Untukmu?

Dear, SC

Ini tanggal 19, surat ke-19 ini akan kutujukan kepadamu.
Angka 19, jika melihat angka 19 ada sedikit percikan api cemburu yang hendak berkobar di hatiku. 
Angka 19 membawaku pada memori saat aku pertama mengenalmu. Dimana jemariku dengan lincah menelusuri tiap kedalaman kisahmu yang kau tuangkan pada rumah mayamu. Walaupun samar, aku masih sedikit mengingat bagaimana waktu itu aku sempat terkesima membaca surat sapaanmu untuk angka 19. Namun bila kini kugali lagi ingatan tentang surat itu. Aku sungguh cemburu, sampai terlalu.

Adakah masih tersimpan keistimewaan angka 19 itu di hatimu; di hidupmu?
Dan masihkah ia -yang telah mengukir angka 19 dengan begitu spesial bagimu- memiliki tempat dalam prasangkamu sebagai rusukmu yang sempat hilang?
Ah, mungkin kamu akan memarahiku dengan pertanyaan-pertanyaan bak lelucon ini.
Sudah jelas aku yang kini berada di sisimu. 
Tapi entahlah, keraguan begitu hebat menyelimutiku. 
Terlebih saat kata lelah terucap dari bibirmu. 

Aku harus bagaimana sekarang? Perlukah kuberi ruang untukmu beristirahat?
Hei, kau arahkan langkahmu kemana lagi, Sayang?
Bukankah sudah jelas, jiwaku adalah tujuan yang tepat bagimu untuk beristirahat.
Aku tidak mengada-ada. Aku berkata demikian karena hal itu juga berlaku padaku.
Bagiku, dirimu adalah peristirahatan yang tepat untukku beristirahat.
Bahkan ketika aku lelah terhadapmu.

Atau mungkin, gadis 19 itu masih tetap yang terbaik untukmu sampai saat ini?
Kalau iya, aku tak habis pikir bagaimana harus mengendalikan kekacauan hatiku.
Apalagi mataku pernah memenjarakan kalimat yang kini sangat membuatku iri.
Ya, kamu pernah berucap tanpa suara, kau katakan bahwa dialah pencapaian paling indah yang pernah tergapai. 
Astaga! Dadaku berdegup kencang ketika kuingat untaian kalimat indahmu pada gadis 19mu itu.

Sekarang aku hanya bisa tersesat dalam labirin perandaian.
Aku hanya bisa berandai untuk dapat menjadi pemahat terhebat, hingga aku mampu mengukir angka lain yang lebih indah bagimu. 
Aku hanya dapat berandai memiliki waktu yang panjang seperti dirinya yang begitu lama berdiam di dalam hatimu sampai bertahun-tahun lamanya.
Dan aku masih hanya akan terus berandai untuk bisa menjadi gadis terbaikmu.

Tapi, siapakah aku ini?
Aku hanya mampu berandai untuk bisa memenangkan hatimu dengan usahaku.
Aku tak pandai bersaing dengan gadis-gadis lainnya untuk mendapatkanmu.
Lagipula aku tak cantik pun mungkin tak sepandai dirinya untuk menjadikanmu semujur dulu saat bersamanya.
Seperti biasa, aku hanya bisa mengandalkan tangan Tuhan yang Maha Baik itu untuk menjadikanku lebih dari pemenang. Dan secuil keyakinan untuk bisa bersamamu itupun aku serahkan ke dalam tanganNya. Jadi seperti kicauanmu dulu di ranah maya: Kalau memang jodoh ada di tangan Tuhan, kuharap dirimulah yang ada di tanganNya.

Hanya ini yang dapat kuutarakan.
Mohon maaf jika terlalu banyak emosi yang kusisipkan pada belantara kata di surat ini.
Sempatkanlah untuk menjawab segala pertanyaanku yang tertera dalam surat ini.
Aku mencintaimu, hanya itu yang mampu kunyatakan tanpa perandaian.
Kutunggu jawabmu, sampai kapanpun.

Regards,
VTD.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar